Agau meninggal di rumah sakit kota pada pukul sebelas malam, tujuh jam setelah jatuh ke danau tambang.
Dokter yang menemuinya adalah perempuan muda dengan mata yang sudah terlatih untuk menyampaikan berita tanpa roboh sendiri. Dia menjelaskan dengan kata-kata yang terdengar seperti dari buku teks. Paparan akut cairan asam dengan kandungan logam berat tinggi. Kerusakan jaringan yang meluas dan cepat. Organ vital yang tidak punya cukup waktu untuk kompensasi.
Tidak ada yang bisa dilakukan lebih dari yang sudah dilakukan, kata dokter itu. Ini bukan tentang terlambat menjumpai tenaga medis. Ini tentang apa yang ada di dalam danau itu dan apa yang terjadi ketika tubuh sekecil itu terpapar zat berbahaya, apalagi ketika cairan itu tersedak di mulutnya, memenuhi paru-parunya. Imun Agau tidak sekuat aku yang sudah lama berlatih menahan napas di bawah air.
Jasad Agau sudah ditutupi dengan selimut, persis seperti tiap kali dia beranjak tidur. Selimut sampai ke dagu. Aku masih bisa melihat wajahnya yang pucat dan bibirnya yang biru. Lalu selimut itu juga menutup wajahnya. Seluruhnya.
Tanpa punya cukup tenaga, aku duduk di koridor rumah sakit, di bangku plastik keras berwarna biru. Kedua tanganku dibungkus perban putih karena kulitku yang sedikit melepuh juga sempat diperiksa dan dirawat.
Amme yang menerima pertama kali penjelasan dokter itu. Penjelasan tentang kematiannya. Amme yang berdiri di depan dokter perempuan muda itu dengan tubuh yang tegak.
Aku tidak menangis ketika mendengarnya. Kupikir, tangis terasa seperti wadah yang terlalu kecil untuk menampung perasaanku. Aku duduk menatap dinding putih di depanku dan membiarkan semua yang ada di dalam dadaku tetap di sana, tersimpan, menunggu. Amme duduk di sampingku tanpa kata. Kami berdampingan di koridor rumah sakit berbau antiseptik.
Di luar jendela koridor, kota Sanggau masih bergerak. Lampu-lampu masih menyala, kendaraan masih lewat, kehidupan banyak orang masih berlangsung ketika kehidupan lain ada yang berhenti.
Aku menggenggam senter aluminium yang sudah rusak. Kuambil dari leher Agau. Memikirkan pertanyaan terakhir yang Agau ucapkan sebelum mobil pick-up datang melewati jalan berbatu. “Pesutnya tadi sungguhan?”
Apakah sungguhan?
Aku tidak tahu sekarang, tidak yakin.
Tidak yakin apakah yang dia lihat di danau itu benar-benar pesut atau makhluk gaib dari alam lain yang memanggilnya pulang menyusul Umma Bungeh. Tapi Agau percaya. Dan aku sudah mengiyakan di mobil meskipun aku belum melihatnya.