Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #18

Kepala Kerbau

Kami tiba di kampung menjelang pagi.

Sang pengemudi turun lebih dulu dari mobil darurat itu untuk membuka pintu belakang. Aku membantu Amme menggelosorkan tempat tidur tipis dengan Agau terbaring di atasnya. Lalu Mak Tuha Duriati melihat di atas tumpuan kakinya. Wajahnya tidak runtuh, tidak mengeras. Tetap seperti itu meski telah dua hari menunggu. Amme segera menggotong tubuh Agau ke umaq.

Kami membaringkan Agau di tilam, di sudut umaq yang paling banyak cahayanya, dekat tungku yang sudah dinyalakan Mak Tuha Duriati sejak entah kapan. Tempat ini sama persis. Mak Tuha juga pernah membaringkan aku di sini ketika kakiku terkilir setelah kalah lomba renang.

Aku duduk di sebelah jasad biru pucat itu yang kini diselimuti kain kebat. Tidak tahu berapa lama. Waktu di dalam umaq berbeda dari waktu di luar. Terasa lebih lambat, seperti sungai yang mendangkal dan kehilangan arusnya.

Mak Tuha Duriati duduk di sudut lain, menghadap ke arah Agau. Sedangkan Amme berdiri di dekat pintu. Seperti seseorang yang tidak tahu izinnya ada di mana dan tidak berani mengklaim ruang yang mungkin bukan miliknya.

Aku menatap wajah Agau yang sudah tidak bergerak. Wajah yang dalam dua hari terakhir sudah aku tatap berkali-kali. Alis kanannya ternyata sedikit lebih tebal dari kiri. Ada bekas luka kecil di dagu dari waktu jatuh dari pohon kersen dua tahun lalu. Dalam tidur yang paling lelah sekalipun, ada otot kecil di sudut mulutnya yang kadang bergerak seolah sedang memulai sesuatu.

Otot itu tidak bergerak sekarang.

Di luar, fajar belum datang.

Aku tidak tahu kapan aku mulai melihatnya. Tidak tiba-tiba. Tidak seperti lampu yang dinyalakan atau tirai yang dibuka. Namun, seperti gambar yang perlahan muncul dari air yang dikocok, perlahan menjadi jelas. Perlahan mengambil bentuk yang tidak bisa lagi diabaikan setelah terlihat.

Aku menatap Amme yang masih berdiri di ambang pintu.

Dan wajah itu bukan wajah Amme.

Kepalanya berubah jadi kepala kerbau. Sama seperti kerbau paling besar yang memberontak saat diikat pada sapundu. Aku tahu bahwa itu halusinasi. Bagian dari pikiranku yang tidak mengenal jam tidur sejak kematian Agau. 

Di atas tubuh Amme, kepala kerbau itu tampak besar dan hitam. Matanya yang berair, seakan hendak ditombak, menatap ke arahku. Aku pernah melihat kepala-kepala hewan yang digantung sebagai bagian dari upacara, kepala yang sudah terlepas dari tubuhnya. Amme bergerak. Menggeser berat tubuhnya. Gerakan kecil, gerakan yang tidak ada artinya. Tapi di atas tubuh yang bergerak itu, kepala itu ikut bergerak.

Aku memalingkan pandanganku. Menatap tungku yang menyala. Panasnya bisa dirasakan. Cahayanya konsisten.

Aku menarik napas. Aku tahu dari mana kepala itu datang. Kepala itu datang dari tempat yang sudah lama ada di dalam dirinya.

Pengkhianatan.

Pengkhianatan yang berlapis, yang datang dari banyak arah dan banyak waktu, yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun sejak Amme mulai lebih sering pergi daripada pulang.

Dan sekarang Agau.

Bukan Amme yang mendorong Agau ke danau. Bukan. Aku tahu itu. Aku akan selalu tahu itu. Bahwa yang terjadi adalah kecelakaan, bahwa danau itu tidak dipagari. 

Tapi ada juga yang lain yang aku tahu. Bahwa di tengah semua yang terasa sebagai kebetulan, selalu ada pilihan. Dan pilihan-pilihan itu, sayangnya, bukan milik Agau. Aku menutup mataku. Menghitung sampai sepuluh. Membukanya lagi.

Kepala kerbau itu masih menempel di tubuh Amme.

*

Tua Tuha Tambuk dan beberapa tetangga yang datang membantu sudah pulang dan umaq kembali hanya berisi tiga orang yang tersisa. Mak Tuha Duriati tidak menoleh ketika Amme masuk. Tidak menoleh ketika Amme duduk.

Amme yang memulai. "Mak Duri."

Mak Tuha Duriati masih tidak menoleh. Matanya di Agau, di wajah yang sudah tidak bergerak itu, di tangan yang terlipat rapi di atas tubuh yang sudah dibalut kain putih.

"Kamu mau minta maaf," kata Mak Tuha. Sebelum sempat melihat anggukan Amme, Mak Tuha segera berkata. "Aku tidak mau mendengar permintaan maaf."

Lihat selengkapnya