Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #19

Di Sebelah Sandung Umma

Pemakaman Agau tidak ramai.

Itu yang pertama kali kusadari.

Tiwah Umma berlangsung tujuh hari. Halaman umaq seingatku penuh sesak. Gamelan dipukul. Kerbau melenguh panjang. Babi-babi menguik. Orang-orang datang dari kampung sebelah, dari hulu, dari hilir, membawa beras dan kayu bakar dan kehadiran mereka sendiri sebagai sumbangan untuk perjalanan seseorang ke surga.

Tiwah Umma adalah sesuatu yang sudah ditunggu delapan tahun dan ketika tiba membawa serta semua energi dari delapan tahun penantian itu, berat dan penuh dan lebih besar dari satu upacara biasa.

Pemakaman Agau adalah pagi yang sunyi dengan langit yang mendung rendah dan tanah yang masih basah dari hujan semalam, dengan beberapa tetangga yang datang bukan karena diundang melainkan karena terkejut.

Ada kehilangan yang datang sebelum dunia di sekitarnya siap menerima, sebelum ada cukup waktu untuk membangun upacara yang setara dengan beratnya, dan yang bisa dilakukan hanyalah hadir. Hadir sepenuhnya, dengan apa yang ada, dengan siapa yang bisa datang, dengan cara yang paling jujur yang tersedia.

Pemakaman Agau berlangsung satu siang.

Mak Tuha Duriati yang memutuskan tidak ada Tiwah dulu. Bukan karena tidak ingin mengantarkan Agau dengan layak. Tapi karena tubuhnya sudah tidak sanggup mempersiapkan itu sekarang, dan ada kalimat yang dia ucapkan dengan pelan kepada Pak Sangen malam sebelumnya, kalimat yang kudengar dari balik tirai bambu tanpa sengaja. "Biarkan dia pergi dulu. Nanti kita susul dengan benar kalau sudah ada kekuatan."

Pak Sangen mengangguk. Tidak ada yang membantah.

Jadi kami menguburkan Agau di tanah sebelah sandung Umma. Tanahnya merah dan berbau akar basah. Dekat pohon pulai yang sudah ada sebelum aku lahir, sebelum Umma lahir, mungkin sebelum Mak Tuha Duriati lahir sekalipun. Dekat semak yang memekarkan bunga-bunga.

Tanah dibuka, tubuh kecil yang dimasukkan diiringi doa dalam bahasa yang tua, dan tanah ditutup kembali. 

Ning Fatma datang ketika pemakaman sudah hampir selesai. Aku tahu itu dia. Tidak ada yang lebih asing dari warga di sini selain dia. Aku tidak melihatnya datang. Aku baru tahu ketika Amme, yang berdiri di sebelahku, sedikit menegakkan tubuhnya tiba-tiba. 

Aku menoleh.

Perempuan itu berdiri di tepi barisan di sekitar tanah yang baru digali. Tubuhnya tidak besar. Tapi tidak lebih pendek dariku. Rambutnya hitam panjang diikat di belakang, seperti orang yang merapikan diri dalam tergesa-gesa. Dia memakai baju batik dengan warna yang tidak mencolok, cokelat muda dengan motif daun yang kecil-kecil. Di pinggulnya, dia menggendong seorang anak kecil yang kepalanya tersandar ke bahunya.

Riani. Aku juga tahu itu dia.

Aku tahu sebelum siapa pun menyebutkan namanya. Dari ukurannya, dari tubuhnya yang terus saja menempel ke pinggang ibunya, aku tahu dia masih suka mengompol. Dua tahun. Ukuran yang membuat semua hal lain terasa sangat besar di sekeliling.

Ning Fatma tidak masuk ke dalam lingkaran orang-orang. Dia masih berdiri di tepian. Matanya ke arah tanah yang baru digali itu, lalu berpindah ke arah Mak Tuha Duriati yang duduk di atas kursi kayu yang dibawa Tua Tuha dari umaq. Ning Fatma tidak bergerak mendekat. Aku menatapnya cukup lama sampai dia merasakan tatapan itu dan menoleh ke arahku.

Kami bertatapan.

Ning Fatma mengangguk pelan. Sebagai pengakuan. Bahwa dia ada di sini. Bahwa dia tahu siapa aku. Bahwa ini bukan tempat untuk kata-kata yang panjang.

Aku mengangguk balik.

*

Pak Sangen selesai dengan doanya.

Tanah di atas Agau sudah rata. Tua Tuha Tambuk meletakkan batu kecil sebagai penanda. Orang-orang mulai bergerak, berpindah, berbicara pelan satu sama lain. Amme berjalan ke arah Ning Fatma. Aku tidak mengikutinya. Aku berdiri di dekat sandung Umma yang berdiri tidak jauh dari tanah Agau yang baru, membiarkan mereka memiliki beberapa langkah dan beberapa menit untuk diri mereka sendiri.

Di atas sandung Umma, tulang-tulang yang sudah diantarkan itu tenang. Aku menatap rumah mungil di pucuk tiang itu dan memikirkan apa yang pernah dikatakan Pak Sangen kepada Agau, bahwa jarak antara yang hidup dan yang sudah pergi menjadi tipis di saat-saat tertentu.

Tipis seperti dinding bambu.

Aku berharap Agau sudah menemukan Umma di sana. Aku berharap Umma yang dulu tidak sempat bicara apa pun itu, sekarang bisa bicara sepuas-puasnya kepada adikku yang tidak pernah bisa diam lebih dari sepuluh menit.

*

Ketika aku akhirnya berbalik, Ning Fatma sudah tidak lagi di tepi. Dia berdiri lebih dekat sekarang, di sisi Amme, dan Riani masih di gendongannya. Tapi matanya, mata Riani, menatap ke arahku. Dia belum belajar bahwa ada hal-hal yang tidak sopan untuk ditatap terlalu lama. Matanya bulat. Hitam. Bulu matanya panjang untuk ukuran wajah yang setelapak.

Tapi tidak mungkin anak sebersih ini kuanggap sebagai pembunuh.

Aku mendekati mereka. Tidak tahu kenapa. Tidak ada rencana sebelumnya. Tidak ada kalimat yang sudah kususun. Kakiku hanya bergerak ke arah itu dan aku membiarkannya.

Ning Fatma melihatku datang. Tangannya sedikit mengencang di pinggang Riani, gerakan otomatis yang mungkin tidak dia sadari sendiri. Lalu tangannya melemas kembali.

Aku berhenti di depan mereka.

"Lamiang," kata Ning Fatma. Nama itu keluar. Dia menyimpan namaku. Seperti aku yang menyimpan namanya.

"Ya," jawabku.

Kami berdiri dalam diam yang canggung. Riani menatapku. Lalu mengulurkan tangannya ke arahku. Dia gadis kecil yang pendiam, tapi bukan pemalu. Jari-jari kecilnya menunjuk ke luar jendela, lalu menunjukku. Seperti anak-anak lainnya ketika melihat sesuatu yang ingin dijangkau.

Aku menatap tangan kecil itu.

Lihat selengkapnya