Aku memetik bunga berwarna merah dari semak dekat tanah Agau dan sandung Umma. Aku tidak tahu itu bunga jenis apa. Aku hanya ingat perkataan Amme kalau Umma suka bunga berwarna merah. Jadi, aku petik saja. Bunga dengan putik di tengah. Aku ingin melarungkan bunga itu di sungai seperti yang dilakukan Mak Tuha dengan daun warunya di malam hari.
Dan aku berangkat ke sungai sebelum subuh.
Bukan ke sungai kecil di belakang umaq. Tapi ke Sungai Mahakam. Aku akan menginap di rumah Tua Tuha Tambuk seperti waktu bersama Agau. Aku akan menempuh perjalanan menggunakan bus dan sambungan klotok selama berjam-jam.
Setelah berjalan cukup jauh ke persimpangan sebelum ayam berkokok, aku naik bus pertama yang mesinnya masih batuk-batuk, turun di dermaga ketika langit masih biru gelap dan bintang belum sepenuhnya pergi. Di dalam tasku, selain bunga yang aku simpan di wadah bekas bedak, ada senter aluminium yang tidak lagi rusak. Sudah kubetulkan benda itu lewat tangan ajaib Pak Rustam kemarin.
Dermaga pada pukul lima pagi adalah tempat yang sunyi. Dari kejauhan, kulihat asap mengepul pelan dari beberapa umaq yang tungkunya masih dinyalakan. Ritme suara air yang menghantam kayu dermaga terdengar tidak teratur.
Aku duduk di ujung dermaga dengan kaki terjuntai di atas air. Sungai di bawahku bergelombang-gelombang. Aku merogoh tas, mengeluarkan senter, lalu meletakkannya di atas paha dalam kondisi menyala. Satu tahun sejak kematian Agau, waktu terasa tidak bisa diukur.
Sekolah dilanjutkan. Anyaman rotan Mak Tuha Duriati dilanjutkan. Sungai kecil di belakang umaq mengalir terus dengan deburan yang sama. Kehidupan bergerak maju. Tidak menunggu siapa pun siap. Tidak meminta izin dari siapa pun yang belum siap.
Dan aku bergerak juga.
Cahaya pertama matahari mulai muncul di cakrawala timur ketika aku turun dari dermaga ke sampan kecil. Kupinjam sampan itu dari seorang nelayan tua yang kenal siapa aku dan tidak banyak bertanya. Sampan diikat longgar di bawah dermaga. Sampan yang sudah puluhan tahun mengenal sungai ini lebih dari yang bisa dipelajari siapa pun dari buku mana pun.
Aku mendayung ke tengah. Di titik yang sepertinya tepat, aku menghentikan dayungan, membiarkan sampan bergerak sendiri mengikuti arus yang lebih pelan di bagian ini. Sungai Segading menyeretku. Langit semakin terang di timur, seperti busur panah yang sedang membidik sebelum menangkapku. Tidak ada suara selain air dan burung yang mulai bergerak di pepohonan.
Cahaya dari senter yang kugantung di leher menjadi sebuah lingkaran di tengah rona biru yang melingkupiku. Bulat, tajam, terlalu terang untuk pagi yang setengah gulita. Aku mengarahkannya ke permukaan air di sisi kanan sampan, ke permukaan air cokelat keemasan yang bergerak-gerak pelan. Lalu terbit lingkaran putih di sana.
Air bergerak. Sampan bergoyang pelan. Cahaya senter berpindah-pindah di permukaan air, ikut dengan gerakan sampan. Burung di bantaran bersuara. Satu, lalu dua, lalu terlalu banyak untuk dihitung. Suara yang menandakan pagi sudah cukup bersinar untuk mulai bergerak.
Ada sesuatu yang perlu aku putuskan. Pak Sangen datang minggu lalu. Dia bilang ada beberapa orang dari LSM lingkungan yang mau ke kampung, mau bicara tentang sungai, tentang kondisi air, tentang apa yang bisa dilakukan. Mereka minta aku untuk ikut bicara karena aku sudah ke Sanggau, sudah lihat langsung seperti apa danau buatan yang kurasakan lelehan airnya di kulit. Mak Tuha bilang terserah aku. Itu cara Mak Tuha bilang iya tanpa bilang iya.