Tanah Terbelah (1948)

fileski
Chapter #2

BAB 2

Dua Dunia yang Tak Pernah Bersatu

Darmawan tumbuh dalam dunia yang tidak pernah ia pertanyakan sejak kecil. Baginya, kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, dengan aturan yang jelas dan batas yang tidak boleh dilanggar. Rumahnya berdiri megah di antara deretan bangunan yang lebih sederhana, seolah menjadi penanda bahwa tidak semua orang dilahirkan dalam keadaan yang sama. Sejak kecil, ia diajarkan bagaimana berbicara dengan sopan, bagaimana duduk dengan tegak, dan bagaimana menjaga jarak dari hal-hal yang dianggap tidak pantas bagi keluarganya. Semua itu terasa wajar, bahkan tak perlu dijelaskan. Hingga suatu saat, tanpa ia sadari, dunia itu mulai menunjukkan retakan yang tidak bisa lagi ia abaikan.

Bapaknya, Raden Tumenggung Jayadiningrat, adalah sosok yang dihormati sekaligus ditakuti di wilayah itu. Ia berbicara dengan suara yang tenang, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki bobot yang tidak bisa dibantah. Di hadapan masyarakat, ia adalah simbol ketertiban dan kewibawaan, seseorang yang dipercaya mampu menjaga keseimbangan di tengah perubahan zaman. Namun di dalam rumah, ia adalah figur yang jauh, lebih banyak diam daripada berbicara, dan jarang menunjukkan perasaan. Darmawan menghormatinya, tetapi tidak pernah benar-benar mengenalnya. Di antara mereka, selalu ada jarak yang tidak pernah dijembatani.

Ibunya, Raden Ayu Kusumaningrum, menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Ia tidak pernah secara terbuka menunjukkan kegelisahan, tetapi Darmawan bisa merasakannya dari hal-hal kecil. Dari cara ibunya menata ulang barang-barang yang sebenarnya sudah rapi, dari tatapannya yang sering kosong ketika memandang halaman, dan dari doa-doa yang semakin panjang setiap malam. Ia adalah perempuan yang hidup dalam aturan, tetapi juga memiliki intuisi yang tajam terhadap perubahan yang tidak terlihat. Ia tidak pernah berbicara langsung tentang ketegangan di luar sana, tetapi sikapnya menunjukkan bahwa ia menyadari sesuatu sedang terjadi. Dan itu cukup untuk membuat Darmawan merasa tidak tenang.

Di luar rumah itu, dunia berjalan dengan cara yang berbeda. Darmawan mulai menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan untuk hidup dalam keteraturan seperti dirinya. Ia melihat para buruh yang berjalan dengan langkah berat di pagi hari, dengan wajah yang lelah bahkan sebelum pekerjaan dimulai. Ia melihat para petani yang berbicara dengan nada rendah, seolah-olah setiap kata harus ditimbang sebelum diucapkan. Ia juga melihat anak-anak yang bermain tanpa alas kaki, tertawa dengan cara yang bebas, tetapi menyimpan sesuatu yang tidak ia pahami. Semua itu membuatnya bertanya-tanya, meskipun ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa.

Perbedaan itu tidak hanya terlihat dari keadaan fisik, tetapi juga dari cara orang memandang dunia. Di lingkungan keluarganya, kehidupan dipahami sebagai sesuatu yang harus dijaga kestabilannya. Segala bentuk perubahan dianggap berbahaya, terutama jika datang dari luar kendali. Namun di luar sana, Darmawan mulai mendengar suara-suara yang berbeda. Suara yang berbicara tentang ketidakadilan, tentang hak, dan tentang perubahan yang harus diperjuangkan. Ia tidak sepenuhnya mengerti makna dari semua itu, tetapi ia bisa merasakan bahwa suara-suara itu lahir dari sesuatu yang nyata.

Lihat selengkapnya