Tanah Terbelah (1948)

fileski
Chapter #3

BAB 3

BAB 3

Darmawan di Antara Tradisi

Sejak kecil, Darmawan tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk mempertanyakan hidupnya sendiri. Segala sesuatu telah disusun rapi oleh tangan-tangan yang lebih tua, lebih berpengalaman, dan lebih yakin tentang apa yang benar. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi tata krama, kehormatan, dan garis keturunan sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar. Bahkan cara ia berjalan, berbicara, hingga menatap orang lain pun tidak lepas dari pengawasan yang halus namun konsisten. Semua itu dilakukan bukan karena paksaan yang keras, melainkan karena keyakinan bahwa begitulah seharusnya seorang anak priyayi dibentuk. Dan selama bertahun-tahun, Darmawan menerima itu tanpa banyak tanya.

Namun semakin ia bertambah dewasa, semakin ia merasakan bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah. Ia tidak lagi sekadar menjalani, tetapi mulai merasakan beban dari setiap aturan yang mengikatnya. Setiap kali ia duduk di ruang tamu mendengarkan percakapan orang-orang tua, ia merasa seperti sedang melihat dunia dari balik kaca. Ia bisa melihat, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari percakapan itu. Kata-kata tentang kehormatan, stabilitas, dan tatanan sosial terdengar begitu pasti, namun entah mengapa tidak lagi sepenuhnya meyakinkan baginya. Ada jarak yang perlahan tumbuh antara dirinya dan dunia yang selama ini ia kenal.

Suatu pagi, ayahnya memanggilnya ke ruang kerja, sebuah ruangan yang jarang ia masuki tanpa alasan penting. Ruangan itu dipenuhi buku-buku tebal dan dokumen-dokumen yang tersusun rapi, mencerminkan kehidupan yang teratur dan penuh perhitungan. Raden Tumenggung Jayadiningrat duduk di balik meja besar, dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia tidak langsung berbicara, hanya memandang Darmawan dengan tatapan yang dalam dan penuh makna. Ketika akhirnya ia membuka suara, kata-katanya tidak keras, tetapi memiliki tekanan yang tidak bisa diabaikan.

Ia berbicara tentang tanggung jawab, tentang nama keluarga, dan tentang posisi yang harus dijaga di tengah situasi yang semakin tidak menentu. Ia mengingatkan bahwa dunia di luar sana sedang berubah, dan perubahan itu tidak selalu membawa kebaikan. Dalam pandangannya, menjaga jarak dari kekacauan adalah bentuk kebijaksanaan yang paling penting. Ia juga menegaskan bahwa Darmawan, sebagai penerus keluarga, tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal yang bisa merusak tatanan yang sudah ada. Darmawan mendengarkan dengan tenang, tetapi di dalam hatinya, kata-kata itu tidak lagi semudah dulu untuk diterima.

Setelah percakapan itu, Darmawan keluar dari ruangan dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak menolak apa yang dikatakan ayahnya, tetapi ia juga tidak sepenuhnya setuju. Ada sesuatu dalam dirinya yang merasa bahwa dunia tidak sesederhana itu. Bahwa menjaga jarak bukan selalu berarti benar, dan bahwa tidak semua perubahan harus ditolak. Ia tidak tahu dari mana perasaan itu datang, tetapi ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi mengabaikannya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia harus mencari jawabannya sendiri.

Lihat selengkapnya