BAB 4
Marni dan Jalan Perlawanan
Marni tidak pernah mengenal hidup yang tenang dalam arti yang sebenarnya. Sejak kecil, ia telah terbiasa melihat bagaimana hidup harus diperjuangkan, bukan sekadar dijalani. Setiap pagi dimulai dengan pekerjaan, dan setiap malam diakhiri dengan kelelahan yang tidak pernah benar-benar hilang. Namun di balik itu semua, ia menyimpan sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang di sekitarnya, yaitu keberanian untuk bertanya mengapa hidup harus seperti ini. Ia tidak puas hanya menerima keadaan sebagai takdir yang tidak bisa diubah. Baginya, ada sesuatu yang salah, dan ia ingin mencari tahu apa itu.
Pak Wiryo sering memperhatikan perubahan pada diri putrinya, meskipun ia tidak selalu mengungkapkannya. Ia melihat bagaimana Marni mulai lebih sering keluar rumah pada malam hari, kembali dengan wajah yang serius dan mata yang penuh pikiran. Suatu malam, ketika mereka duduk berdua di depan rumah dengan lampu minyak yang redup, ia akhirnya membuka percakapan. “Kamu sekarang sering keluar malam, Nak. Ada apa?” suaranya pelan, tetapi sarat kekhawatiran. Marni terdiam sejenak, menatap tanah sebelum akhirnya mengangkat wajahnya. “Aku hanya ingin tahu, Pak… kenapa hidup harus seperti ini terus.”
Pak Wiryo menarik napas panjang, seolah sudah menduga arah pembicaraan itu. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap jauh ke arah sawah yang mulai gelap. “Hidup itu memang tidak mudah, Nak. Dari dulu juga sudah seperti ini,” katanya pelan. Marni menggeleng perlahan, matanya mulai mengeras. “Tapi apa harus terus seperti ini, Pak? Apa tidak bisa diubah?” Pertanyaan itu menggantung di udara, membuat malam terasa lebih berat dari biasanya.
Sejak percakapan itu, Pak Wiryo tidak lagi bertanya terlalu banyak. Ia tahu bahwa putrinya telah melangkah ke arah yang tidak bisa dengan mudah dihentikan. Ia hanya berharap Marni cukup bijak untuk menjaga dirinya sendiri. Sementara itu, Marni justru semakin yakin dengan jalan yang ia pilih. Ia mulai aktif mengikuti pertemuan-pertemuan kecil yang dilakukan secara diam-diam di rumah warga. Pertemuan itu tidak pernah diumumkan secara terbuka, tetapi kabarnya menyebar dari mulut ke mulut dengan hati-hati.
Di salah satu pertemuan itu, Marni duduk di antara beberapa orang yang sebagian besar ia kenal dari desa sekitar. Seorang pria bernama Wiranegara berdiri di depan mereka, berbicara dengan suara yang tegas namun tidak terlalu keras. “Kita sudah terlalu lama hidup dalam keadaan yang tidak adil,” katanya, matanya menyapu seluruh ruangan. “Yang memiliki tanah semakin kaya, sementara yang bekerja tetap miskin. Ini harus diubah.” Beberapa orang mengangguk, sementara yang lain terlihat ragu. Marni sendiri merasakan sesuatu bergetar dalam dirinya, seolah kata-kata itu mengisi ruang kosong yang selama ini ia rasakan.