Tanah Terbelah (1948)

fileski
Chapter #5

BAB 5

BAB 5

Suara Rakyat di Pinggir Kota

Pagi di pinggir kota Madiun selalu dimulai dengan suara yang sama, suara yang tidak pernah benar-benar berubah sejak bertahun-tahun lalu. Derap langkah orang-orang menuju ladang, suara cangkul yang mulai menghantam tanah, dan percakapan pendek yang lebih banyak berisi keluhan daripada tawa. Pak Wiryo berdiri di depan rumahnya, memandang jalan tanah yang perlahan dipenuhi oleh orang-orang yang membawa beban masing-masing. Ia telah menjalani rutinitas ini selama puluhan tahun, hingga hampir tidak lagi merasakan perbedaan antara hari yang satu dengan yang lain. Namun belakangan ini, ada sesuatu yang terasa berbeda, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja. Seolah-olah di balik rutinitas yang sama, ada perubahan yang sedang bergerak diam-diam.

Ia melangkah menuju ladang dengan langkah yang sudah terbiasa, menyusuri jalan setapak yang diapit oleh sawah yang tidak selalu memberikan hasil yang layak. Tanah itu subur, tetapi bukan miliknya, dan itulah kenyataan yang selalu ia terima tanpa banyak pilihan. Ia bekerja bukan untuk memiliki, melainkan untuk bertahan, dan itu sudah cukup baginya selama bertahun-tahun. Namun akhir-akhir ini, kata “cukup” mulai terasa tidak lagi memadai. Ia melihat bagaimana orang-orang di sekitarnya mulai berbicara tentang hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dibicarakan. Tentang keadilan, tentang hak, dan tentang perubahan yang mungkin terjadi.

Di ladang, ia bertemu dengan beberapa petani lain yang sudah mulai bekerja lebih dulu. Mereka saling menyapa dengan singkat, tanpa banyak basa-basi, seperti biasa. Namun percakapan mereka tidak lagi sepenuhnya tentang cuaca atau hasil panen. “Tadi malam ada pertemuan lagi, ya?” tanya seorang lelaki tua sambil mengusap keringat di dahinya. Yang lain mengangguk pelan, berhenti sejenak dari pekerjaannya. “Iya, banyak yang datang. Katanya akan ada perubahan besar,” jawabnya dengan suara rendah. Pak Wiryo tidak langsung ikut bicara, tetapi ia mendengarkan dengan saksama.

Ia tahu apa yang mereka maksud, meskipun ia tidak selalu setuju dengan cara mereka berbicara. Ia telah hidup cukup lama untuk memahami bahwa perubahan tidak selalu membawa kebaikan, dan bahwa setiap gerakan memiliki konsekuensi. Namun ia juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan yang ada. Ia melihat sendiri bagaimana kehidupan mereka tidak banyak berubah, meskipun zaman telah berganti. Ia melihat bagaimana anak-anak tumbuh dalam keadaan yang sama, tanpa banyak harapan untuk keluar dari lingkaran itu. Dan itu membuatnya mulai bertanya-tanya, meskipun ia tidak mengatakannya dengan lantang.

“Pak Wiryo, apakah Bapak tidak ikut?” suara seorang pemuda memecah lamunannya. Pak Wiryo menoleh, melihat wajah yang masih muda tetapi penuh semangat. Ia tersenyum tipis, menggeleng pelan. “Saya sudah tua, Nak. Kalian saja yang maju,” jawabnya dengan nada yang tenang. Pemuda itu tertawa kecil, tetapi matanya menunjukkan keseriusan. “Tapi tanpa orang-orang seperti Bapak, tidak akan kuat,” katanya. Pak Wiryo tidak menjawab, hanya kembali pada pekerjaannya, seolah-olah percakapan itu tidak perlu dilanjutkan.

Lihat selengkapnya