BAB 6
Nama yang Tak Boleh Disebut
Madiun, September 1948. Pagi itu langit tampak biasa saja, tetapi suasana kota tidak demikian. Joko Santoso berdiri di depan sebuah warung kopi di kawasan Jalan Panglima Sudirman, tidak jauh dari Stasiun Madiun, sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Ia sudah terbiasa membaca perubahan dari hal-hal kecil, dari cara orang berjalan hingga bagaimana mereka berbicara. Hari itu, ia melihat sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Orang-orang tampak lebih hati-hati, lebih tertutup, dan lebih cepat menyelesaikan urusan mereka, seolah-olah kota ini sedang menahan napas.
Joko bukan orang asing di tempat-tempat seperti itu. Ia dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul, mampu berbicara dengan siapa saja tanpa terlihat memihak. Ia bisa duduk bersama pegawai pemerintah di siang hari, lalu berbincang dengan buruh pabrik gula di sore hari tanpa merasa canggung. Kemampuannya itu membuatnya sering menjadi penghubung tak resmi antar berbagai kelompok. Ia mendengar banyak hal, baik yang diucapkan terang-terangan maupun yang hanya berupa bisikan. Dan dari semua yang ia dengar belakangan ini, ada satu hal yang terus berulang.
Sebuah nama.
Nama yang tidak pernah diucapkan dengan suara lantang, tetapi selalu hadir dalam setiap percakapan penting. Nama itu muncul di sela-sela diskusi tentang politik, tentang arah negara, dan tentang masa depan republik yang masih muda. Namun setiap kali nama itu disebut, suara akan langsung merendah, dan mata akan saling berpandangan dengan waspada. Seolah-olah nama itu bukan sekadar kata, melainkan sesuatu yang bisa mengundang bahaya.
Di warung itu, Joko duduk bersama seorang kenalannya, Slamet, mantan anggota laskar Pesindo yang kini bekerja sebagai buruh angkut. Mereka memulai percakapan dengan topik ringan, tentang harga beras yang terus naik dan kabar keluarga. Namun seperti biasa, pembicaraan itu perlahan bergeser ke arah yang lebih serius. “Kamu dengar kabar dari Solo?” tanya Slamet dengan suara pelan. Joko mengangguk, menyeruput kopinya tanpa tergesa. “Ada pergerakan di sana, ya?” jawabnya.
Slamet menatap sekeliling sebelum melanjutkan. “Bukan cuma di Solo. Di Madiun juga mulai terasa. Nama itu… sudah mulai disebut lagi.” Joko tidak langsung menjawab. Ia tahu nama apa yang dimaksud, meskipun tidak disebutkan secara langsung. Nama Musso, tokoh yang baru kembali dari luar negeri, yang dalam beberapa minggu terakhir mulai menjadi pusat pembicaraan di berbagai tempat. Nama yang membawa harapan bagi sebagian orang, dan ketakutan bagi sebagian yang lain.
“Bukan itu saja,” lanjut Slamet, suaranya semakin pelan. “Ada kabar orang-orang dibawa keluar dari kota. Malam hari. Tidak kembali.” Joko mengangkat alisnya sedikit, tetapi tidak menunjukkan reaksi berlebihan. “Dibawa ke mana?” tanyanya.
Slamet ragu sejenak, lalu mendekat. “Arah timur,” katanya lirih. “Lewat Wungu… katanya sampai daerah Kresek.”
Nama itu diucapkan nyaris tanpa suara.