Tanah Terbelah (1948)

fileski
Chapter #7

BAB 7

BAB 7

Pertemuan di Sumber Wangi

Malam itu kawasan pusat kota Madiun masih menyisakan denyut kehidupan meskipun sebagian aktivitas mulai mereda. Di sekitar Balai Kota yang berdiri megah dengan gaya arsitektur Belanda, lampu-lampu minyak menggantung di beberapa sudut, memantulkan cahaya redup yang membuat bayangan tampak lebih panjang dari seharusnya. Di sisi bangunan itu, aliran air jernih yang oleh warga dikenal sebagai Sumber Wangi mengalir tenang, memantulkan cahaya malam seperti cermin yang hidup. Tempat itu menjadi ruang pertemuan yang tidak resmi, tempat orang-orang datang tanpa banyak tujuan selain menikmati suasana yang berbeda dari hiruk-pikuk pasar.

Darmawan berjalan perlahan menyusuri tepian sungai Sumber Wangi, sesuatu yang sebelumnya hampir tidak pernah ia lakukan sendirian pada malam hari. Ia tidak benar-benar memiliki tujuan yang jelas, hanya dorongan untuk melihat dunia di luar lingkaran hidupnya sendiri. Sejak beberapa hari terakhir, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ada sesuatu yang terus menariknya keluar dari kenyamanan yang selama ini ia kenal. Dan malam itu, langkahnya seolah diarahkan ke tempat yang tidak ia rencanakan.

Ia melewati beberapa orang yang duduk di pinggir aliran air, seorang pedagang yang masih membereskan barang di dekat jalur menuju pasar, dan beberapa lelaki yang berbicara dengan nada pelan di bawah bayang-bayang pohon. Suara air yang mengalir pelan bercampur dengan percakapan manusia, menciptakan irama yang tidak teratur namun terasa hidup. Darmawan memperhatikan semuanya dengan saksama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik suasana itu. Ia mulai menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar ruang terbuka, tetapi juga ruang bagi cerita yang tidak selalu terlihat.

Di salah satu sudut yang agak gelap, dekat jembatan kecil yang melintasi aliran Sumber Wangi, ia melihat sekelompok orang berkumpul dalam lingkaran kecil. Mereka tidak berbicara keras, tetapi cukup jelas bahwa percakapan mereka bukan percakapan biasa. Darmawan tidak mendekat, hanya berdiri pada jarak yang cukup untuk mengamati. Ia melihat bagaimana salah satu dari mereka berbicara dengan penuh keyakinan, sementara yang lain mendengarkan dengan serius. Sesekali, mereka saling bertukar pandang seolah memastikan tidak ada orang luar yang memperhatikan. Ada ketegangan yang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan.

Darmawan hendak melanjutkan langkahnya ketika sesuatu menarik perhatiannya. Di sisi lain aliran air, di dekat batu-batu yang tersusun alami di tepi Sumber Wangi, ia melihat seorang perempuan berdiri sendiri. Perempuan itu mengenakan kebaya sederhana, tanpa perhiasan, tetapi cara ia berdiri membuatnya berbeda dari yang lain. Ia tidak tampak gelisah seperti sebagian orang di sekitarnya, juga tidak terburu-buru untuk pergi. Ada ketenangan dalam dirinya, tetapi bukan ketenangan yang pasrah, melainkan yang penuh kesadaran. Darmawan tidak tahu mengapa, tetapi ia berhenti.

Perempuan itu menoleh seolah merasakan tatapan yang tertuju padanya. Mata mereka bertemu dalam jarak yang tidak terlalu jauh, dengan pantulan cahaya lampu minyak yang bergetar di permukaan air di antara mereka. Untuk beberapa detik, waktu terasa melambat. Darmawan tidak segera berpaling, meskipun ia tahu bahwa itu bukan hal yang biasa ia lakukan. Ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Perempuan itu juga tidak langsung mengalihkan pandangannya, seolah-olah ia sedang mencoba memahami siapa yang berdiri di hadapannya.

Darmawan akhirnya melangkah mendekat, menyusuri batu-batu kecil di tepi aliran air. “Maaf… apakah ini jalan menuju keluar ke arah selatan?” tanyanya, mencoba terdengar biasa. Pertanyaan itu sederhana, bahkan mungkin tidak perlu ditanyakan, tetapi ia membutuhkan alasan untuk memulai percakapan. Perempuan itu menatapnya sejenak sebelum menjawab. “Bisa lewat jembatan itu,” katanya sambil menunjuk ke arah kayu kecil yang melintasi sungai Sumber Wangi, suaranya tenang dan jelas.

Lihat selengkapnya