Yang Eri ingat waktu itu adalah malam. Ia menunggu di sepanjang lorong selama beberapa hari. Memandang ruangan yang entah kenapa lebih di dominasi warna abu-abu terang. Beberapa kali Eri bahkan memandang langit-langit ruangan yang diisi dengan pipa-pipa besar. Sejujurnya, Eri tidak yakin ini adalah gambaran indah akan rumah sakit di benaknya.
Eri kembali memandang pintu yang tertutup. Sudah cukup lama Kharis tidak keluar dari tempat itu. Akankah Kharis akan akan baik-baik saja nantinya?
"Eri, aku bosan di sini. Ditambah para dokter itu masih ingat padaku," ucap Bryan berekspresi ngeri sambil memegang dua pipinya yang kemerahan bekas dicubit. "Akukan tidak se-chubby itu, kan? Berani sekali mereka memperlakukan orang tampan seperti ini."
"Itu karena kau bocah tengil super hiperaktif. Tentu saja karma akan dengan senang hati menamparmu," serang Fero yang entah tiba dari mana?
Eri tersenyum sekilas mendengar keluhan Bryan. Ia rasa, jika ia dulu pernah menjadi dokter anak seperti Bryan. Sikap Eri pastinya akan sama gemasnya dengan kelakuan anak ini yang tidak pernah berubah.
Eri gantian melirik Fero sekilas. "Anda... dokter?"
"Aku hanya membantu sekalian di sini," jelas Fero. Ia memakai kaos hitam biasa dengan celana panjangnya yang juga berwarna hitam. Jubah putih dokter tersampir di bahunya dan kedua tangannya.
"Tapi, benar. Aku dokter. Pernah magang di sini, sih," tambah Fero lagi dengan sebelah tangannya memainkan ponsel. "Sudah lama aku tidak merasakan sinyal hp seperti ini."
"Awas nanti kau meninggalkan ponselmu di lambung pasien!" serang Bryan.
"Dengan senang hati jika pasiennya itu adalah kau," tambah Fero yang sukses menyulut otot-otot adu mulut Bryan.
"Bryan!" panggil Eri sigap. Ia mengamit tangan Bryan dan segera menyeret kembarannya menjauh.
"Eri, lepaskan!"
"Katanya kau bosan. Mari kita keluar jalan-jalan! Aku butuh udara segar."
Bryan akhirnya menurut saja. Membiarkan dirinya dan Eri berjalan terseret-seret beberapa langkah di lorong rumah sakit.
"Eri!"
Eri menoleh ke belakang selagi terus meneruskan jalannya. Ia cukup yakin kalau itu adalah suara Pangeran Fero.
"Temanmu itu. Kharis. Ia pasti akan baik-baik saja," ucap Fero. Tampaknya, ia melihat kekhawatiran dari wajah Eri.
Eri membalas dengan tersenyum. "Yah, lagipula dia sukses bebas dari kegelapan. Melihat semangatnya waktu itu, Kharis pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
***
Bau tanah dan pepohonan kembali tercium semerbak saat Eri dan Bryan melangkahkan kakinya keluar. Rasanya sedikit melegakan ketika bau obat-obatan dan besi berkurang drastis. Meski sebenarnya Eri ingin tahu keadaan Kharis sesegera mungkin.
Eri beralih memandang hutan dengan antusias. Perasaan berat yang menggelayutinya akan gelapnya hutan entah kenapa berubah menjadi perasaan tenang. Mungkinkah karena ia sudah pergi dari tanah itu?