Eri terhenyak ketika mereka turun dari mobil jalan-jalan. Di hadapannya, telah berdiri sebuah rumah besar bak gedung. Tidak bisa disebut mewah, tapi kerapian dan tata letak rumah dengan pekarangan itu benar-benar menunjukkan wibawanya. Rumah gedung itu memiliki pekarangan kosong yang hanya diisi rumput gajah. Dengan posisi di belakang gedung-gedung lain yang menghadap jalan utama. Jalan di depan gedung ini cuma jalan pas-pasan untuk mobil biasa yang tampaknya tidak banyak dilalui makhluk hidup.
Meski begitu, Eri merasa bahwa itu adalah tempat yang aman. Terlepas tidak adanya pagar dan letaknya yang tepat berada di belakang gedung-gedung lain.
"Kita sudah sampai," ucap Fero yang terakhir turun dari mobil. Ia lalu mendongakkan kepalanya. Menatap pada langit kota yang gelap dan dipenuhi sorot lampu. "Yah, tidak ada bintang, sih. Tapi aku senang bisa kembali ke tempat ini."
Eri tersenyum mendengar penuturan Fero. Ia lalu beralih memandang Bryan yang sibuk meregangkan tubuhnya.
"Kita tidak langsung pulang ke desa dulu, Eri. Sebagai pelajar kita wajib belajar dulu—itu kata Princess. Jika kau rindu ayah dan ibu. Silahkan bersabar sampai liburan," jelas Bryan bak robot. Dia tidak bersikap sedih yang malah membuat Eri merasa itu cuma hal biasa.
"Hm... Apakah tidak bisa menelepon?" tanya Eri heran.
"Jangan berharap pada generasi buta teknologi. Lagipula, aku punya firasat kalau mereka sering berjalan-jalan karena dunia jadi serasa milik berdua," ucap Bryan menggaruk tengkuknya. Eri tertawa kecil mendengar penuturan Bryan.
"Tampaknya semua orang sudah tidur," ucap Fero yang telah di depan pintu. Naasnya, kenop pintu tidak bisa di buka dengan mudah. "Mira, mana kuncinya?"
Mira menggaruk telinganya. "Oh, kunci, ya. Berarti mereka belum pulang."
"Mereka?" Bryan bertanya apa maksud dari itu. Tetapi dari ekspresi wajahnya saat suprise kedatangan Mira. Tampaknya Bryan sudah punya dugaan siapa yang dimaksud mereka ini. Dan tampaknya, anak-anak ini bukanlah sekutu Bryan.
"Mereka? Jadi rumah ini adalah tempat tinggal bersama?" tanya Eri mendekati Fero.
"Benar, anak-anak pelajar dan pekerja kita tinggal bersama di sini. Seperti asrama begitulah tapi lebih ke rasa rumah. Yah, bagaimana pun nenek moyang kita sama," jelas Fero.
"Sayangnya rumahnya kurang mewah, tuh," sela Bryan. "Mereka tidak mau menggunakan kas bersama untuk membeli rumah yang lebih bagus."
"Bagaimana pun, Bryan. Ini hanya rumah persinggahan. Nyaman, luas, dan mudah untuk berbagai akses itu sudah cukup," jelas Fero lagi sambil tersenyum masam. "Ngomong-ngomong, Bryan. Aku tahu perasaanmu tiba-tiba kurang baik. Tapi bisakah kau tidak memancing perkara?"