Tanah

Za Zlyn
Chapter #6

4a. Masa Orientasi

Minggu menjelang hari pertama sekolah diisi oleh Bryan Minggudan Eri yang berlari di lapangan tengah gedung. Sebenarnya itu adalah ide Bryan sebagai pelatihan menghadapi kekejaman masa orientasi. Namun tidak disangka, mereka mendapatkan personil lari terbaru.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Bryan tidak terima.

"Aku mengamati kalian cukup lama. Kesimpulannya, vaksin untuk acara besok, kan?" ujar Asta yang langsung mempercepat larinya. Bryan dengan senang hati kejar-kajaran dengan anak ini.

"Dasar tidak kreatif! Buatlah variasi sendiri!" teriak Bryan.

"Hemat tenagamu, Bryan. Kau sudah diambang kabruk, tuh," nasihat Asta.

"Apa kau bilang? Lihat saja, sampai mati pun aku akan tetap terdepan dalam soal non-mistis," balas Bryan yang mempercepat larinya menyusul Asta. Asta sendiri tampak tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan lari anak ini sedari tadi tidak terlihat serius.

"Staminamu bagus," sapa Fini yang terengah-engah berusaha menyeimbangkan larinya dengan Eri. "Apa semua pengendali tanah memang sebugar itu?"

"Apa?"

"Asta juga begitu. Dia bisa berlari terus seperti ini seharian penuh."

Eri tersenyum miring. Yah, Eri memang belum kelelahan. Tapi ia sendiri cukup yakin tidak kuat untuk berlari seharian penuh.

Lama berlari dan Eri mulai sadar bahwa ia belum kelelahan juga. Sementara di depannya ada Asta yang sibuk memanasi Bryan. Bryan sendiri meski sudah sedikit tampak lelah tetap berlari dengan kencang. Berbeda dengan Fini yang sudah terkapar di bawah pohon hias.

Eri memutuskan mempercepat larinya agar seimbang dengan Bryan. "Kau tidak mau istirahat?"

"Istirahat? Itu hanya bagi orang lemah," ucap Bryan sembari mendecih.

Eri tidak setuju dengan ucapan Bryan. Tapi ia masih tidak menemukan kata yang tepat untuk benar-benar membungkam kembarannya ini. Maka dari itu Eri memilih cara ekstrem. Ia menerjang Bryan hingga keduanya tersungkur di tanah.

"Eri, tidakkah ada yang pernah bilang kalau tenagamu itu mengerikan," ujar Bryan ketika keduanya sudah terduduk di tanah.

Eri berpikir, sejauh ini hanya Fini yang sempat memberi klu. Dulu saat di desa ia masih kecil dan bertenaga lumrahnya anak-anak. Sepuluh tahun terakhir hanya diisi oleh pencitraan. Oh, ya! Masih ada Kharis! Tapi Kharis pun bukan orang yang sering berterus terang atau banyak berinteraksi dengannya.

"Kau yang pertama, mungkin," ucap Eri jujur.

Bryan sukses tersenyum miring mendengar jawaban Eri. "Yah, itu artinya lain kali kau harus hati-hati. Oh, ya!"

Lihat selengkapnya