Kelompok orientasi resmi di bentuk. Bryan dan Eri satu kelompok di kelompok Naga, begitu juga Asta dan Fini di kelompok merpati-yang membuktikan saktinya pengaruh orang dalam. Sayangnya kesaktian mereka sedikit luntur karena Kharis mendapat kelompok tersendiri di kelompok Pinguin.
Tapi setidaknya siang itu berjalan dengan baik. Bryan, Eri, dan Kharis tidak ada yang dihukum untuk memberikan hiburan di panggung. Lalu bagaimana nasib Asta dan Fini? Bryan tidak begitu peduli pada dua orang yang mendapat hukuman ini. Mengabaikan dialah penyebab hukuman itu. Salah siapa di lomba menggali jawaban pada tumpukan papan tim mereka harus saling berhadapan. Tentu saja Bryan jadi bersemangat menyabotase jawaban dan menjagal kaki Asta dan Fini.
Saat ini di panggung tengah berdiri seorang perempuan yang sedang bernyanyi. Suaranya yang halus dan kuat berhasil menghanyutkan para penonton.
"Suaranya bagus," komentar Eri. Bryan yang berada di samping Eri langsung mengarahkan pandangan ke panggung.
"Speechless - Naomi Scott, ya! Ost Aladin," deskripsi Bryan. "Eh, Ania tadi sekelompok dengan Kharis, kan? Tadi kita berhadapan dengan kelompok mereka di final."
"Ania?" Eri memandang Bryan penuh tanya.
"Sekolahku dulu sama dengannya. Ia anak perempuan terpintar di angkatan," jelas Bryan.
"Benarkah? Lalu siapa yang laki-laki?" tanya Eri antusias.
"Akulah! Kakak kelas pun aku libas habis!" sombong Bryan sambil menunjuk dirinya sendiri. Eri tersenyum miring akan tingkah Bryan itu.
Pelantang yang ada di ruangan bergemerisik. Setelahnya, terdengar suara laki-laki yang mengudara. "DI MOHON BAGI SISWI BERNAMA ERI ERIKA NOMOR TUJUH RATUS SEMBILAN DARI KELOMPOK NAGA UNTUK..."
"Suara ini terasa familiar," pikir Bryan.
Eri mengernyit. "Aku? Ada apa, ya?"
Segera Eri bangkit berlari menuju instruksi yang diberikan. Sebelumnya Bryan memberikan instruksi arah mudah ke ruang penyiaran lebih dulu.
Belum genap Eri sampai ke ruang penyiaran. Sebuah kaki menjegal lari Eri. Untungnya Eri tidak sampai jatuh. Hanya terhuyung saja diiringi ringisan suara perempuan.
Eri memutuskan melirik ruangan penyiaran yang rupanya kosong. Tentu saja Eri langsung bertanya-tanya.
"Eri Erika, nama yang sangat norak."
Eri langsung memandang perempuan yang tengah melipat tangannya itu. Nomor peserta yang bergantung di lehernya menunjukkan dia murid baru seperti Eri. Lebih dari itu, sebenarnya ada masalah apa orang yang baru ia temui ini?
Orang aneh pikir Eri. Ia memilih untuk melangkah kembali ke ruang orientasi saja. Sayangnya, perempuan aneh ini menghalangi langkah Eri.
"Urusan kita belum selesai, Erka!"