Sore menjelang malam ketika Asa menjemput Eri untuk pulang. Kharis dan Bryan serta lainnya sudah pulang sedari tadi. Tinggal Eri yang harus ditangani karena membuat bencana di hari pertama MOS.
"Bagus, pada akhirnya kau datang. Aku sudah mau pulang sedari tadi asal kau tahu," sambut Mira yang menunggu Eri sedari tadi di ruang BK.
"Maaf," ucap Asa pada Mira lalu beralih pada Eri. "Nah, Eri. Kau perlu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Kau tidak sengaja?" tanya Asa sambil sesekali menyeruput cokelat panas di bangku taman.
"Apa kau tidak percaya?" ucap Eri yang duduk di samping Asa. "Sinain pingsan dan Bryan kabur. Lalu, aku di kantor BK diserahkan oleh Nasa, murid yang bernama Bagaskara, dan entahlah siapa itu. Mira yang rupanya guru BK juga memberi nasihat ini itu. Lalu sekarang, aku sepertinya juga akan Kekenyangan nasihat lagi."
Asa tertawa mendengar hari yang dijalani adik perempuannya ini. Merasa tidak diremehkan, Eri melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Aku tidak akan memberimu nasihat, Eri. Yah, selain kata-kata lebih berhati-hatilah. Mira pun sebenarnya hanya mematuhi protokol dasarnya sebagai guru BK," ujar Asa.
"Oh, berarti jika tidak mematuhi protokol dia akan bilang. Bagus, Eri. Tendang saja anak itu, begitu?" timpal Eri membuat Asa kembali tertawa.
"Kau sudah mengerti polanya, rupanya," puji Asa. "Oh, ya! Aku ingat kalau Bryan ingin meneleponmu,"
ujar Asa menyerahkan ponselnya yang sedang memanggil pada Eri dan bangkit berdiri. "Aku mau membeli sesuatu sebentar. Kau bisa duduk di sini terlebih dahulu sambil minum cokelat panasku kalau mau. Selamat menikmati panggilan dengan si bungsu."
"Yah, doakan saja," ucap Eri membuat Asa kembali tertawa.
"Hei, Erikaku. Bagaimana menurutmu Sinain tadi?" tanya Bryan tanpa basa-basi dengan penuh gaya.
Eri memutar bola matanya. "Bagaimana, ya? Seharusnya kau tetap di tempat jika ingin tahu lebih banyak lagi."
"Maaf, maaf. Ada Nasa, sih! Ujung-ujungnya juga pasti Si Nenek Sihir. Tahu sendirilah, alergi komdis dan BK," ucap Bryan menjabarkan alasannya. Nasa sang ketua komite disiplin dan Mira sang guru BK, perpaduan sempurna untuk membuat Bryan melupakan kembarannya sendiri.
Eri menghembuskan napas berat. "Tega sekali kau, Bryan. Apa kau tahu seberapa liarnya perempuan itu?"
Terdengar suara tawa dari seberang telepon. "Kharis! Hari ini Eri sungguh blak-blakan!"
"Kau anggap itu hal yang aneh? Dia sudah blak-blakan dari dulu," jawab Kharis yang tampaknya sedang bersama Bryan.
"Benarkah?"
"Yah, dia memang terlihat hemat kata. Tapi sebenarnya ia tipe yang terang-terangan sekali."
Eri diam menyimak. Memikirkan apa yang dikatakan Kharis. Dan sejujurnya, tampaknya itu benar. Dulu di desa itu... Eri... tidak mau bergaul dengan siapa pun. Alasannya hanya karena ia merasa asing. Betul, Eri adalah anak yang sangat terang-terangan.
"Erikaku, sebesar itukah masalah yang Sinain berikan untukmu?" tanya Bryan lagi kepada Eri.
"Yah... Begitulah. Sebelum..." Eri agak ragu mengucapkan ini. "Aku membuatnya pingsan."