Tanah

Za Zlyn
Chapter #9

5b. Drama

Tidak terasa masa orientasi siswa baru akan berakhir hari ini. Dan tidak terasa pula Eri yang entah kenapa menjadi tidak peduli. Eri tidak membeberkan pada khalayak bahwa ia dan Bryan kembar. Alasannya, bukan karena ia mengikuti cara main Bryan. Tapi lebih karena Eri malas menjelaskan saja.

Ketika Bryan meninggalkan Eri untuk naik ke panggung sebagai peserta MOS terbaik. Eri cukup bangga walau ia tidak senang. Sebelum tahun ajaran yang asli Eri sendiri sudah merinding akan nasibnya nanti. Tahu sendirikan bahwa tingkah Bryan terlalu sulit ditebak.

Seorang anak perempuan mengambil tempat duduk di samping Eri. Mengambil alih posisi Bryan sebelumnya. Eri melirik orang di sampingnya yang rupanya adalah Sinain.

Eri sedikit was-was mengingat hari pertama MOS. Yah, setelah kejadian itu Sinain memang tidak membuat keributan. Tapi itu tidak bisa menjamin untuk apa yang akan terjadi hari ini, kan?

"Tampaknya kau sekarang diacuhkan olehnya, ya. Buktinya kau ditinggal sendirian waktu itu. Belum lagi malamnya kau menggelandang di bangku taman. Yah... Itu cocok untukmu, sih, Wanita Buas," sindir Sinain tanpa memandang Eri.

Eri sendiri sudah memandang Sinain dengan lekat. Ia cukup takjub karena panggilan Wanita Buas tampak sefrekuensi dengan Perempuan Liar. Lebih dari itu, Eri lebih heran lagi karena anak ini benar-benar termakan dramanya dan Bryan.

"...Selain itu, saya juga ingin mengucap terima kasih terindah pada seseorang yang sangat berarti bagi saya. Tanpa keberadaannya, saya tidak mungkin akan sespesial ini," pidato Bryan dengan penuh semangat di podium. Dari tempatnya berada, Eri akhirnya sadar seberapa besar basis penggemar milik kembarannya itu.

Meski begitu, pidato Bryan terasa lebih mengerikan lagi bagi Eri. Eri menahan napas.

Jangan-jangan...

"TERUNTUK DIRIMU YANG SANGAT SPESIAL BAGIKU, ERI ERIKA! TERUSLAH BERSAMAKU KARENA AKU SANGAT MENYAYANGIMU!" teriak Bryan seolah tidak puas dengan hanya memakai mic.

Keadaan aula menjadi tenang. Sinain sendiri sudah merah padam. Tampaknya darah anak ini benar-benar mendidih.

Di sisi lain, Bryan tidak peduli dengan semua itu. Ia tersenyum mempesona memandang bangku di mana Eri berada. Sedangkan Eri sendiri menutup wajahnya dengan kedua tangan frustasi.

"Apa lagi ini?" bisik Eri lelah.

Lihat selengkapnya