Tanah

Za Zlyn
Chapter #11

6b. Menyortir

Ketika melangkahkan kakinya ke kelasnya, Eri akhirnya benar-benar tersadar kalau hidupnya sekarang resmi bergenre drama. Baik laki-laki maupun perempuan, hampir semuanya menatapnya dengan sinis nan tajam.

Apa lagi ini. Jangan bilang karena Bryan. Tapi, kenapa laki-laki juga ikut-ikutan?

Eri menarik napas dalam-dalam, menyiapkan dirinya dan melanjutkan langkahnya. Mencoba terlihat sesantai mungkin. Namun kesan yang ingin Eri bangun segera runtuh.

Rambut Eri ditarik dengan kasar untuk kedua kalinya di sekolah ini. Belum puas, tas Eri juga ditarik dengan kasar. Keseimbangan Eri buyar ke belakang. Dia berjalan mundur hingga ada kaki yang menjegalnya dari belakang. Hal yang terlambat di sadari Eri hingga ia tersuruk keluar kelas dengan tragis. Toping tambahan, sepasang sepatu penuh remahan tanah terlempar tepat ke wajahnya.

Eri belum sempat bereaksi banyak. Ia masih terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Bahkan tingkah laku kesopanan mereka melebihi orang-orang tanah kegelapan. Apakah ini definisi manusia yang memiliki sifat lebih burik dari hewan?

"Lihat! Apa-apaan tingkahnya ini? Kau berlagak lemah, hah? Apakah ada Bryan di sini?" tunjuk seorang anak perempuan kepada Eri sambil meneliti lorong sekitar.

Pandangan Eri menajam. Dugaan Eri benar. Ini adalah perpanjangan dari drama Bryan waktu itu.

"Sayang sekali, ya. Ksatria berkuda putihmu tidak bisa membantumu. Cih! Ksatria berkuda putih miliknya? Tidak cocok sama sekali," ucap perempuan itu sambil memandang Eri rendah. "Cocok juga dengan Nay atau Ania. Sama-sama pintar unggulan. Lah, ini? Amit-amit jangan sampai! Keunggulanmu apa? Tukang drama? Kelas D - Tiga?"

Seketika seisi kelas tertawa. Menggumamkan betapa cocoknya Bryan dengan Ania atau Nay. Eri terperangah menyadari bahwa para laki-laki kemungkinan seperti Asta. Pendukung kapal Bryan x Ania atau Nay, cuma lebih tidak bersahabat.

Sebuah kaki bersepatu melayang cukup keras di punggung Eri.

"Bangun!" perintah perempuan lain. "Kau mau berdrama menjadikan kami bersalah di mata para guru?"

Eri masih tidak bereaksi ketika perintah kedua meluncur. "Kubilang bangun! Drama sekali, sih!"

Eri langsung memegang rambutnya dan berdiri ketika ada yang menjambaknya lagi. Dengan cepat, Eri melepas tangan itu dengan kasar dan mundur beberapa langkah. Menatap tajam pada setiap anak yang memandangnya.

"KALIAN SEMUA TIDAK LOLOS!" teriak Eri membuat anak-anak sekelas menjadi bingung. Memanfaatkan momen yang ada, Eri segera melengang masuk dan mendapati satu bangku yang layak. Beberapa bangku sudah tidak layak. Eri curiga kalau bangku-bangku itu disiapkan untuk dirinya.

Eri mendekati bangku layak tersebut dan mendapati seorang anak berambut merah dengan kepang dua. Kacamata bundar bertengger di wajahnya.

Semoga dia bukan fans fanatik Bryan dan kapal-kapalnya. Doa Eri dalam hati ketika melangkah mendekati bangku tersebut.

"Aku tidak mau terlibat kekerasan seperti itu. Tapi jika aku jadi kau, aku pasti akan marah dan melawan. Aku tidak mau terlihat bodoh," ujar gadis kepang dua itu tiba-tiba.

Eri menatap perempuan dengan gaya dibully itu dengan lekat. "Apa kau suka... Bryan?"

Lihat selengkapnya