Kharis tidak punya harapan banyak ketika memasuki kelasnya. Dari luar saja sudah terdengar seperti demonstrasi kerusuhan saja. Kemudian, saat ia memasuki tempat itu. Ketiadaan harapannya memang sangat berguna.
Ruang kelas X - E - 1 benar-benar akan membuat orang perfeksionis pingsan seketika. Yah, tidak perlu jauh-jauh masuk kelasnya, tampilan luarnya saja sudah buruk. akan membuat orang perfeksionis pingsan seketika. Yah, tidak perlu jauh-jauh masuk kelasnya, tampilan luarnya saja sudah buruk.
Kharis sendiri tidak memilih untuk terdiam di depan kelasnya. Itu malah akan membuatnya jadi orang udik yang mungkin akan jadi bulan-bulanan. Dia harus meminimalisir kesan lemahnya yang sudah diwakilkan oleh kacamata barunya. Jadi, Kharis terus berjalan tenang mengamati sekitar kelasnya.
Kharis tidak membenci kacamatanya. Untuk seluruh kebaikan Eri, Kak Asa, Bryan dan orang-orang lain Kharis sangatlah berteri makasih. Meski begitu, hal tersebut agak kurang mengenakkan bagi Kharis karena itu pasti sangat merepotkan mereka.
Kharis menarik napas berat melihat seisi ruang kelas yang tumpah ruah. Tidak ada satupun bangku atau anak-anak yang sesuai tatanan. Bangku dan meja merajalela begitu pula posisi tongkrongan tiap anak.
Kharis memutuskan untuk terus berjalan selagi tidak ada yang memperhatikan sekitarnya. Mendekati sebuah kursi dan bangku ketika suara gertakan pintu melanda kelas itu. Kharis yang baru meletakkan tangannya pada kursi langsung menoleh ke belakang.
"Sudah kuduga, hari menjadi wali kelas terberat," gerutu seorang laki-laki dengan kulit kuning langsat agak kecoklatan. Belum lagi bulu janggutnya yang terlihat tipis-tipis menghiasi wajahnya. Mata laki-laki itu kemerahan seperti sudah begadang sepanjang hidupnya. Pakaian yang ia kenakan adalah seragam cokelat guru biasa sambil membawa penghapus kapur.
"Siapa anda?" tanya seorang anak bingung.
"Aku?" Laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri. "Sebenarnya aku tidak suka mengakui ini. Aku terpaksa jadi wali kelas kalian."
"Kalau begitu keluar saja dari kelas ini," timpal anak kelas lain menggelakkan tawa.
Suara gebrakan papan tulis terdengar. Tawa itu segera buyar, benar-benar diam.
"Aku sebenarnya juga ingin seperti itu, anak jalanan! Tapi aku butuh uang! Andai saja tidak akan ada ceramah pengangguran bla bla bla. Cih! Untuk apa aku bercerita dengan anak-anak egois buta aturan seperti kalian. Lebih baik langsung hukum saja," gerutu si guru tersebut.
Kharis tertegun. Guru itu sebenarnya tidak tua-tua amat. Mungkin lebih tua sedikit dengan Kak Asa. Tapi ekspresi dan raut wajah jarang tidur itu membuatnya terlihat sangat tua.
"Baik!" ujar guru itu menggelegar sembari mengetukkan kembali penhapus model lama ke papan tulis. Beberapa anak mencibir perlakuan guru tersebut. Dan siapa sangka guru tersebut melemparkan penghapusnya ke arah anak-anak. Bergetar keras di keramik dekat mereka dan kembali ke bawah kaki si guru. Dengan gerakan kaki yang cekatan, penghapus itu kembali ke tangan guru yang tengah memegang daftar absensi. Beberapa anak perempuan tampak berkaca-kaca.
"Jujur, aku bukan orang baik-baik. Terlebih menghadapi orang seperti kalian ini. Kalau boleh sih aku mau pakai pakaian preman saja. Kita lihat tekad cetek kalian ini akan terinjak sampai mana," gerutu guru tersebut lalu memanggil nama beberapa anak.
"Kenapa saya!" protes seorang anak dengan rambut berwarna kemerahan.
"Kau lihat apa yang aku pegang!?" ujar si guru sambil mengacungkan daftar absensi. "Itu hanya kebetulan! Kenapa kalian tidak mau berpikir, sih! Hanya bisa sok tapi berpikiran cetek! Mau jadi apa kalian ini!? Tapi jika kau memang mau dramatis, kepala bunglon. Setelah ini akan kupotong bulu bunglon itu."
"Akan kulaporkan kau pada, Ibuku," gerutu seorang anak membalas.
"Ck! Laporkan juga pada ayahmu. Jika ayahmu ingin menghantamku, berarti orang tuamu memang perlu kembali ke sekolah," ujar guru tersebut sambil duduk menyilangkan kaki di kursi guru.
"Anda juga akan dilaporkan polisi!" tambah anak itu.
Guru itu kemudian tertawa hebat. "Hati-hatilah, Nak. Mungkin itu akan berbalik menjadi senjata untukmu. Kuberitahu, ya. Guru-guru terlebih untuk kelas bermasalah seperti kalian memiliki perlindungan khusus dari sekolah ini. Itu jaminan menggiurkan untuk menindas kalian. Lucu sekali, kelas rendah tapi mencoba menggonggong keras."