Apa yang ada di dalam pikiran Kharis akan pernyataan dari Pak Dirga itu? Kesenangan dan kepuasan, kah? Tentu saja tidak.
"Dan ya... tadi siapa itu? Benar, Alvaro. Kau dipersilahkan jadi wakilnya," ujar Pak Dirga.
Kharis menggenggam tangannya yang terasa panas untuk meredamkan perasaan berkecamuknya. Ia memilih untuk terus melanjutkan langkah. Kembali duduk di kursinya. Dengan telapak tangan yang saling mengunci hawa panas satu sama lain.
Kurang lebih dia sudah menebak kemungkinan buruk ini sejak Pak Dirga menanyakan namanya. Perhatian yang berbahaya. Dan dia terhanyut dalam pengungkapan kesan akan kelas ini begitu mudahnya.
Kharis menoleh ke arah Alvaro yang disoraki teman-temannya. Kurang lebih komposisi dari Pak Dirga adalah pola pikir Kharis yang agak berbeda. Pola pikir yang Kharis yakini terlalu diimajinasikan super oleh khayalan Pak Dirga. Hal yang sekilas pantas untuk Kharis padahal melesat jauh.
Komposisi lain adalah Alvaro yang sebenarnya lebih menjanjikan menurut Kharis. Alasan Alvaro dijatuhi posisi itu adalah statusnya yang bagai ratu lebah di kelas ini. Semua anak menikmati waktu bersama Alvaro dan segan dengan anak itu. Dengan menjadikan ratu lebah bangsa yang barbar sebagai wakil ketua mungkin dapat memperbaiki kelas ini.
Kharis tersenyum miris. Masalahnya adalah cara menaklukkan ratu lebah itu. Memangnya Pak Dirga kira Kharis tipe yang suka menendang orang begitu saja atau bicara panjang lebar. Semua itu salah.
Pak Dirga memandang jam di ponselnya lalu menguap. Dia bangkit lalu memandang seisi kelas terlebih Kharis.
"Untuk struktur kelas berikan padaku selambat-lambatnya seminggu ini, Ketua Kelas. Aku akan ke ruang guru untuk membiarkan kalian berdiskusi secara pribadi. Sekalian mencoba meminta kepala sekolah untuk menempatkan guru-guru sangar untuk kelas ini," ucap Pak Dirga. Ia kemudian berjalan dengan mantap meninggalkan kelas tersebut.
Kharis memejamkan matanya erat. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Meski mungkin saja pikiran orang-orang tidaklah peduli. Tapi cepat lambat pasti akan menumpuk menyerangnya.
Kharis menggoyang-goyangkan tangannya merasa semakin panas. Dengan keputusan kilat ia segera bangkit. Keluar kelasnya dan berlari menuju denah toilet atau pancuran air yang sudah ia hafal.
Kharis membilas tangannya di pancuran setelah menguraikan perbannya lebih dulu. Memang agak lama karena keterbatasan tangannya. Tapi setidaknya ia sekarang cukup ahli menggunakan pegangan gigi sebagai cadangan.
Sambil merasakan dinginnya air yang mengalir menabrak perih di tangannya, Kharis terus menerus membiarkan banyak monolog memonopoli kepalanya.