"Kau ke mana saja, Bapak Ketua Kelas," tanya seorang siswi dengan lantang ketika Kharis telah duduk di tempatnya kembali.
Kharis diam sebentar. Telapak tangannya kembali terasa panas sejak seluruh pasang mata menatapnya intens ketika masuk ke kelas.
"Apakah itu salah? Bukankah dia ketuanya? Tentu saja ketua itu bebas," ujar Alvaro mulai berbicara. Nada suara itu, Kharis paham bahwa itu bukanlah pujian. Itu adalah minyak yang dilempar ke sekumpulan api.
Seisi kelas tertawa. Kemudian mulai mencemooh.
"Tentu saja, ini kesempatan bagi orang udik sepertinya ya, Alvaro. Semena-mena dan jalan-jalan lama sekali selagi tidak ada guru," balas seorang anak laki-laki disamping Alvaro. Postur wajahnya agak mirip Alvaro, cuma tidak setirus Alvaro. Anak itu juga lebih pendek dari Alvaro.
"Diam, Adrian. Tidak boleh seperti itu kepada ketua. Dia bisa saja mengadu pada guru," tambah Alvaro. Semua anak tertawa lagi.
Saat anak-anak mulai meredam tawanya, Kharis berdiri. Seketika kelas itu terdiam.
Kharis memandang seluruh kelas tanpa gentar. "Yah, kalian benar. Aku tadi keluar dan tidak sempat berbicara dengan kalian."
Kharis berbicara dengan intonasi setenang mungkin. Memang tadi kesalahannya keluar kelas tanpa izin, belum lagi waktu lama yang terbuang. Meski hal tersebut mungkin rutinitas biasa bagi kelas bawah yang tidak tertib, tapi bagi Kharis yang asing dan mengganggu hirarki itu adalah senjata untuk menyerangnya. Untuk itu, Kharis harus segera bertindak.
"Agar kedepannya tidak ada hal yang mengganjal lagi. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan untuk kelas ini?" tanya Kharis. Ia sebenarnya terpikir untuk meminta maaf. Tapi tampaknya untuk sekarang minta maaf kurang lebih adalah kesempatan untuk menurunkan tingkatannya. Minta maaf memang bukan kelemahan, tapi memang sering di sandingkan dengan hal itu. Apalagi memberi penjelasan ia ada masalah kulit, mereka tidak akan percaya karena hal itu masih kosong di sisi Kharis.
Alvaro memiringkan kepalanya. "Kesepakatan?"
"Benar, saat ada jam-jam pelajaran untuk seterusnya. Kita harus meminta izin terlebih dahulu untuk keluar ruangan," ucap Kharis.
"Kepada siapa? Dirimu? Lalu saat kau pergi kau harus izin kepada siapa? Apakah ini berat sebelah?" ujar Alvaro. Siswa itu kembali membuat anak-anak yang lain mencibir.
"Aku izin dengan dirimu," ujar Kharis cepat. Ia tidak boleh membiarkan anak-anak lain mengambil kesempatan untuk menyela tidak penting.
"Tidak kuizinkan," cemooh Alvaro. "Dan lagi, izin itu yang utama tentunya pada guru. Bukan orang sok sepertimu, bocah."
Seisi ruangan kembali tertawa. Apalagi Kharis yang terdiam karena menyadari kesalahan logikanya. Dia melupakan fakta itu karena fokusnya ada pada murid-murid ini saja. Belum lagi tangannya yang terasa semakin panas membuat pikirannya tambah kacau.
Suara tawa dan cemoohan anak-anak semakin keras karena reaksi diam Kharis. Mereka menganggap menang akan argumen yang biasanya tidak mereka junjung.
Kharis memutar otaknya keras. Untuk maju atau mundur sepertinya tidak memungkinkan. Bibir dan kulitnya terasa pecah-pecah dengan keringat yang mengalir deras. Apakah ia harus berlari keluar kelas ini lagi? Mencoreng kekuatan cengkeramannya sebagai ketua?
Terdengar pintu kelas terbuka. Kharis memandang ke pintu dan mendapati Fero Nafero di ambangnya.