Tanah

Za Zlyn
Chapter #15

9a. Celah Ketenangan dan Kemenangan


Kharis berjalan mendekat ke arah Eri. Keadaan jalan di sekitar mereka juga sepi begitu juga halte tempat singgah tersebut. Hujan yang belum sepenuhnya turun bagai mengunci waktu. Dan hanya Kharis yang tidak terpengaruh hal tersebut.

Ketika mendekat, Kharis menyadari Eri yang masih terbengong-bengong menatap gelapnya awan. Hal yang cukup menarik mengingat Eri yang dulu pastilah hobi memasang wajah datar. Wajah Eri yang lebih ekspresif sekarang adalah pengembalian yang pantas ia terima.

"Eri!" panggil Kharis saat dia sudah tinggal beberapa langkah dari Eri. Mengingat Eri yang mempunyai radar bumi gila-gilaan, cukup aneh Eri tidak menyadari keberadaan Kharis.

"I-iya?" jawab Eri spontan. Ia tampak sangat kaget hingga terlonjak. Rambut Eri yang terkuncir tampak berantakan. Sebuah petunjuk akan seberapa berat hari yang ia jalani hari ini.

Eri menghirup napas lebih jeli. Kharis menyadari kalau Eri sekilas melirik ke dua tangannya. Yang membuat Kharis baru sadar kalau tangannya mengeluarkan sedikit bau terbakar.

"Kha-"

"Ayo pulang, Eri," ajak Kharis cepat. "Bukan masalah berat. Aku akan menangani ini di rumah persinggahan."

Eri mungkin ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia segera bergerak cepat dan bangkit mengambil tasnya

"Ayo!" sahut Eri. "Eh, bagaimana dengan, Bryan?"

Kharis melanjutkan langkah. Membuat Eri otomatis mengikutinya.

"Kabar sedih. Dia pulang terlebih dahulu," jawab Kharis.

"Pulang lebih dulu?" eja Eri tidak terima. Namun hal itu hanya sementara, kemarahan Eri tidak bertahan lama karena ia paham bagaimana sifat Bryan bekerja.

Eri menghembuskan napas dengan lesu." Tahu begini aku tinggalkan saja dia."

"Hari yang begitu melelahkan, bukan?"

Eri tidak langsung menjawab. Jarak langkahnya terpangkas dari Kharis karena dirinya yang terhenti untuk mengamatinya. Sedangkan Kharis, tetap melanjutkan langkahnya.

"Kau benar," sahut Eri pada akhirnya. Melangkahkan kembali kakinya mengikuti Kharis. "Hari ini sangat... begitulah."

Sebuah bus melaju melewati Kharis dan Eri. Berhenti di halte beberapa meter di depan kedua anak ini berada. Menurunkan beberapa penumpang yang langsung menghambur ke banyak tempat.

"Kenapa ada bus yang berhenti di sini? Halte tadi sepi sekali," pikir Eri.

Kharis yang berjalan di depan Eri mengingat penampakan halte tadi. Meski sedikit bersih dan rapi, ada banyak hal yang tidak terurus dari halte tersebut. Detail karat dan lampu yang tampak tidak akan menyala.

"Kurasa itu halte mati. Cukup layak jadi tempat duduk-duduk karena tukang bersih-bersih kota bekerja dengan sangat baik barangkali," timpal Kharis.

Lihat selengkapnya