Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #1

#1

Sudut itu tak tertulis di peta Kota Kembang. Letaknya tersembunyi dari jantung kota, di balik jalanan kecil mengular, jauh dari tempat para pelancong berlalu-lalang di tengah labirin gedung-gedung tua dan lampu jalan menguarkan keromantisan. Wilayah yang konon dibuat saat Tuhan sedang tersenyum, tapi barangkali senyum-Nya memudar melihat kemacetan, polusi, dan tata kota semrawut.

Nama tempat mereka hidup adalah Sukacinta. Dinding antar rumah saling melekat dan nyaris tak menyisakan ruang terbuka. Ruas jalanan tak lebih lebar dari selembar daun pintu yang direbahkan. Permukaannya meniru bulan dan menjadi ujian bagi setiap warga yang hendak keluar kandang. Di musim hujan, lubang-lubang itu berubah menjadi kolam-kolam kecil. Di musim kemarau pun tak lebih baik karena jalanan menjadi arena debu-debu beterbangan.

Mereka datang tanpa mimpi menggantung setinggi langit, hanya harapan sederhana bahwa garis hidup mereka akan berubah ketimbang menetap di kampung asal mereka, Tasikmalaya. Rumah sewaan mereka sekarang adalah bagian dari bangunan sebelah. Sembilan tahun lalu, ketika sebagian penghuninya angkat kaki, bangunan itu disekat menjadi dua bagian yang tak merata dengan rumah inti mendapat porsi lebih luas. Kurang dari sebulan kemudian, Fajar dan Narti datang mengisinya, tepatnya ketika mereka menyandang status sebagai suami-istri.

Tempat mereka bernaung hanya terdiri dari dua kamar dan satu kamar mandi. Langit-langit di atas mereka pun bercorak abstrak kekuningan. Dindingnya tak lagi cerah setelah tak pernah mendapat sentuhan cat baru sejak pertama kali didirikan. Tak ayal, bagian tengah rumah yang dijadikan ruangan serbaguna: dapur, meja makan sekaligus tempat berkumpul, dan kulkas di pojok ruangan. Di beberapa bagian, ada tembok yang terkelupas. Untuk menutupinya dan meningkatkan nilai estetik, sebuah poster bertuliskan ‘Rumahku, Surgaku’ dipasang.

Meski jauh dari kata idaman dan biaya sewa yang menyita nyaris seperempat penghasilan, rumah itu dipilih karena hanya berjarak sepuluh menit dengan berkendara dari tempat Fajar memeras keringat. Sempat ia mencari tempat berteduh yang lebih dekat tapi harganya berpotensi membuat keluarganya harus berpuasa lebih dari sebulan dalam setahun. Pernah juga ia mempertimbangkan tinggal di kosan namun itu artinya meruntuhkan tembok privasi yang ia jaga tinggi-tinggi sebagaimana ia tak begitu andal dalam bersosialisasi dengan orang lain di luar keluarga.

Pengabdian selama lima tahun pertama menghadiahinya posisi sebagai pengawas produksi. Ia tak perlu lagi bersahabat dengan bau lem dan menghabiskan konsentrasinya untuk menjahit, melainkan cukup memastikan seluruh proses produksi berjalan dengan baik. Namun, ketika pesanan sedang tinggi, ia turun tangan menjalankan tugas-tugas tersebut atas nama produktivitas. Tak jarang pula, ia merangkap sebagai pendamping sopir dan ikut menurunkan barang atas nama dedikasi, sebagaimana diucapkan bosnya.

Upah mingguannya naik setiap tiga tahun tapi tidak cukup gesit mengimbangi biaya kebutuhan hidup yang bergerak lebih cepat. Jatah liburnya cuma sehari dalam seminggu tapi sejak Fana lahir, ia tak lagi mengenal tanggal merah. Ia pergi pagi dan pulang siang hari demi mendapatkan uang lembur. Jumlahnya tak terbilang tinggi namun cukup untuk memanjangkan napas dompetnya ketika membawa pergi anak dan istrinya di akhir pekan.

Profesi itu dilakoninya dengan baik. Rasa bosan dan godaan untuk pindah sudah berkali-kali hinggap di pikirannya. Namun, ijazah SMA-nya tak memberikan banyak pilihan, terlebih usianya sudah lewat tiga tahun dari kepala tiga. Lagi pula, bosnya selalu punya cara untuk menahan kepergiannya dengan melempar bonus ekstra atau memberi hadiah di hari ulang tahun Fana. Utang budi pada sang pemilik itulah yang akhirnya membuatnya menutup pintu dari kesempatan lain yang mungkin menunggu di luar.

Mereka baru saja menghabiskan Minggu dengan berkeliling Bandung, mengunjungi Taman Lalu Lintas dan memakan nasi timbel yang lokasinya berdekatan. Padatnya kondisi lalu lintas membuat perjalanan tiga kali lebih lama meski menggunakan roda dua. Energi mereka terkuras di jalanan. Alhasil, Fana yang berdiri di depan Fajar saat mengendarai motor sempat tertidur. Sang ayah terpaksa harus memposisikan kedua pahanya untuk menahan tubuh sang anak supaya tak jatuh.

Seperti para pekerja pada umumnya, Senin adalah perenggut kebebasan paling paripurna. Meski tak banyak berbeda dengan hari-hari lain, Fajar merasakan hal serupa. Ia duduk di sofa berbahan kulit bermotif kilat dengan remah busa yang mengintip secara alami. Barang tersebut dibeli dari tukang loak di Tegalega ketika usia pernikahan mereka menginjak satu tahun.. Jari-jarinya mengetuk sandaran tangan yang menjadi satu-satunya bagian mulus dari sofa tersebut.

Di sampingnya, Narti tengah memperhatikan Fana yang sedang bermain di lantai beralaskan tikar. Mainan-mainan sang anak yang berhamburan membuat rumah mereka lebih penuh dari biasanya. Televisi yang dibeli dari rekan kerja Fajar di pabrik karena butuh uang dibiarkan menyala di hadapan mereka untuk membuat suasana rumah tak begitu sepi karena memang layarnya sudah banyak bergaris dan gambar yang muncul pun tak begitu jelas. Di pojok kiri, bercokol karpet yang digulung.

“Enggak kerasa, dia masuk SD tahun ajaran baru nanti,” ucap Narti dengan nada lembut. 

Mulut Fajar mengatup. Jari-jari kanannya ia angkat untuk memijati dahinya yang sebenarnya tak bermasalah. Ia baru saja melewati ujian finansial selama bertahun-tahun dengan nyaris menghabiskan tabungan untuk pengobatan sang mertua yang akhirnya meninggal. Hal itu jugalah yang membuatnya terpaksa mengorbankan sang anak yang tak masuk TK terlebih dahulu.

“Enggak usah khawatir, Kang. Kita punya tabungan buat Fana sekolah, hasil nyisihin dari belanja,” hibur Narti. “Kalau buat seragam sama buku mah aman.”

Fajar melihat bagian belakang tubuh Fana yang tumbuh cepat dan sedikit lebih tinggi dibandingkan sebayanya. Rambut yang bergelombang merupakan warisannya sedangkan raut wajah yang dingin berasal dari ibunya.

“Kalau uang pendaftarannya?” tanya Fajar yang ingin mengukur sejauh mana ia harus menyisihkan pendapatan untuk memastikan sang anak mendapatkan pendidikan yang layak.

“Katanya mah gratis.”

“Jangan langsung percaya kata orang, Neng. Di sini mah enggak ada yang gratis. Kalau pun ada, pasti ada bangsat yang manfaatin.”

Narti menutup telinga Fana dan memelototi sang suami.

“Bangsat itu apa, Ma?” ujar Fana yang mencoba melepaskan jari-jari sang ibu dari telinganya.

“Pencuri,” potong Fajar. “Cuma itu kata kasar. Enggak boleh kamu bilang kayak gitu di depan orang-orang.”

“Bangsat. Bangsat,” nyanyi Fana meledek ayahnya. “Kalau di rumah mah boleh berarti bilang bangsat?”

Narti beranjak dari duduknya dan menunjuk Fajar seraya berkata, “Beresin sendiri ulah kamu.”

“Enggak boleh, Fana,” Fajar turun dari sofa. Tangannya segera mendekap pinggang sang anak dan mengangkatnya ke atas pundak. “Sekarang waktunya tidur.”

“Baru jam delapan,” lawan Fana. Tubuhnya memberontak dengan kaki-kaki mengejang.

“Besok Senin, Fana. Papa harus kerja.”

Di kamar tidur, Fana berbaring di kasur busa yang menempel ke lantai. Di sampingnya, Fajar merebahkan diri. Sudah setahun Fana diharuskan tidur sendiri di kamar. Awalnya, ia sering menangis tengah malam dan salah satu dari Fajar atau Narti harus menidurkannya. Namun, beberapa bulan terakhir, ia mulai terbiasa. Hanya saja, ia selalu meminta untuk dibacakan dongeng terlebih dahulu sebelum tidur.

“Mau dongeng Si Kancil?” tawar Fajar.

“Si Kancil melulu,” protes Fana.

Secara spontan, Fajar merapalkan fabel tentang Berang-Berang yang merawat rawa melawan Buaya yang ingin menguasai satu-satunya mata air jernih saat musim kemarau. Tangannya mengelusi betis Fana. Semakin cerita berjalan, mata Fana mulai sayup. Ketika cerita ditutup dengan kemenangan Buaya, mata sang anak sudah menutup. Fajar mengangkat selimut dan memasangkannya, menutupi seluruh tubuh Fana supaya tak kedinginan dan tak diganggu oleh nyamuk.

Lihat selengkapnya