Tawa hangat semalam menguap dalam hitungan jam. Narti menggoyangkan tubuh Fajar yang mendadak memasuki hibernasi. Pasangannya sempat membuka mata tapi tak lama kemudian menutupnya lagi. Dibisikkanlah kalimat-kalimat mesra ke telinga sang suami sebagaimana yang biasa ia lakukan setiap akhir pekan. Namun, lelaki itu berpura-pura pingsan, seolah tahu ini bukanlah waktu untuk bercinta dan barangkali gairahnya ikut tenggelam di tengah kondisi serba menghimpit. Sang istri enggan kalah. Didobraknya benteng pertahanan sang kepala keluarga dengan melantangkan suara bahwa tenggat kontrakan harus segera dibayar.
Mata Fajar seolah terbuka selebar-lebarnya. Dengan bersungut-sungut, ia angkat tubuhnya. Handuk yang disediakan sang istri di ujung kasur diambilnya dan dilingkarkan ke leher. Pintu kamar mandi yang penuh dengan retakan, ia tutup kencang-kencang sebagai pelampiasan kekesalannya.
Di dapur, Narti menggunakan kreativitasnya untuk memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia. Nasi sisa semalam, ia goreng bersama kaldu dan garam. Ia tempatkan hasil memasaknya ke dalam mangkuk dan menyimpannya di meja. Begitu selesai dengan nasi goreng, ia memasak telur ceplok. Semuanya terlaksana penuh perhitungan sehingga ketika Fajar dan Fana selesai mandi, mereka tak perlu menunggu lama untuk bisa menyantapnya.
Narti duduk di tengah, diapit oleh Fajar dan Fana di kiri-kanan. Tangannya menyiuk nasi untuk memindahkannya ke piring untuk kedua orang terkasihnya itu sebelum untuk dirinya sendiri. Angin sejuk berembus dari pintu depan yang dibuka.
“Boleh tahu, apa konsep masakan kamu ini, Neng?” tanya Fajar yang melihat porsinya jadi yang terbanyak di antara dua anggota keluarganya yang lain. Ada sesuatu yang janggal karena ia tak punya tujuan jelas hari ini dan tubuhnya harus diisi makanan sebanyak itu. “Enggak kelihatan kayak nasi uduk.”
“Nasi goreng,” jawab Narti mantap. “Versi irit. Enggak pakai bawang. Katanya semua harga bahan pokok naik. Jadi, ya begini.”
Tak ada yang protes. Semua makan dengan khidmat setelah berdoa terlebih dahulu dipimpin oleh Fajar. Berhubung tak tergesa, ia membawa piring ke tempat cucian sedangkan Narti membereskan meja makan.
Setelah mencuci piring, Fajar duduk di sofa. Tangannya memegangi ponsel. Matanya menatapi layar dengan seksama, mencari lowongan pekerjaan yang bisa ia lamar. Mulutnya komat-kamit, bukan melantunkan doa atau mantra, melainkan karena terasa asam tak mendapat sentuhan nikotin. Ia abaikan perasaan tersebut dan fokus dengan mengirim surat riwayat hidupnya hampir ke semua lowongan yang tersedia.
“Udah mau jam tujuh,” tutur Narti yang sudah berganti baju. “Masa mau pakai baju gitu seharian?”
“Emangnya aku mau ke mana, Neng?” balas Fajar yang segera mengalihkan pandangan dari ponsel ke mata istrinya.
“Keluar!” jawab Narti dengan mata melotot. Telunjuknya mengarah ke pintu.
Fajar bangun dari duduknya. “Kamu ngusir aku?”
Fana memeluk paha ibunya spontan menurunkan nada bicaranya untuk bilang, “Kalau ngusir itu harus dari rumah sendiri. Ini mah kita ngontrak.”
“Terus apa atuh?”
“Keluar dari rumah. Ke mana aja. Siapa tahu di luar ada sembilan belas juta lapangan kerja kayak yang pernah ramai itu.”
Tubuh Fajar mendekati Narti. Ia belai wajah sang istri lalu ke rambutnya sambil berkata, “Kamu percaya, Neng, sama begituan?”
“Emang ada pilihan selain percaya di kondisi kayak gini?”
Fajar menggelengkan kepala lalu melenggang ke kamar. Ia keluar setelah berganti pakaian dan menyalakan Mio tuanya. Sempat terbesit dalam dirinya untuk mengambil rehat sebentar tapi Narti langsung mencium tangannya dan meminta sang anak melakukan gestur serupa. Tanpa bisa melawan, Fajar mengambil tas yang sudah diisi bekal makanan istrinya, menaiki motornya lalu pergi meninggalkan istri dan anaknya yang melambaikan tangan sambil tersenyum.
“Papa pulang lagi ‘kan nanti, Ma?” tanya Fana yang menggenggam erat tangan ibunya.
“Pulang lah. Lagi nyari kerja aja. Biar kamu bisa sekolah. Sekarang kamu temani Mama, ya, sambil nunggu Papa pulang.”
Narti masuk ke dalam rumah dan mengambil keranjang pakaian yang diisi beberapa mainan sebelum keluar. Ia tutup pintu depan serta pagar berkarat yang baru bisa menutup dengan cara diangkat, padahal seharusnya dengan menggesernya.
Seperti hari-hari sebelumnya, mereka berkeliling di sekitar Sukacinta. Kebetulan hari ini, ada beberapa yang sudah terlebih dahulu memesan jasa Narti lewat WhatsApp. Mereka berdua datang ke pelanggan pertama yang mengharuskan pekerjaan dilangsungkan di tempat. Bagi Narti, jenis pelanggan seperti ini sangat menguntungkan karena artinya ia tak harus bolak-balik ke rumah dan pulsa listriknya tak akan cepat habis.
Pelanggan pertama berjarak tak begitu jauh meski harus berjalan kaki selama kurang lebih sepuluh menit. Rumahnya mewah dengan luas barangkali tiga kali lebih besar daripada kontrakan yang keluarga Narti tempati. Begitu sampai, ibu pemilik rumah mempersilakan mereka masuk ke ruang tengah. Televisi menyala dan suara pendingin ruangan berdengung. Narti dan Fana duduk berdampingan di lantai. Keranjang pakaian yang dibawa dari rumah disimpan dan mainan di atasnya ditumpahkan di depan Fana. Ibu pemilik rumah menyimpan pakaian yang sudah dicuci dan setrikaan ke hadapan mereka.
Melakoni pekerjaan yang sudah ditekuni sejak menikah dengan Fajar tak membuat Narti canggung berhadapan dengan beragam pelanggan. Baginya yang terpenting adalah cara berperilaku, ketepatan waktu dan berkomunikasi. Ia datang sesuai waktu yang dijanjikan dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Ketika tak diajak bicara, ia akan diam dan ketika ada mata yang bertemu, ia akan mengangguk dan tersenyum. Dengan begitu, ia punya pelanggan tetap dan membuatnya bisa bekerja nyaris setiap hari, meskipun waktunya singkat.
Narti bekerja tanpa banyak bicara. Tangannya sudah hafal urutan — bagian dalam dulu sebelum luar, kancing dibalik supaya tak tergores panas, lipatan membandel diulang sampai rapi. Setrika uap milik pelanggan ini ia pelajari dari YouTube beberapa bulan lalu, diam-diam, supaya tidak terlihat bingung kalau suatu hari ada yang memintanya memakai. Sejam kemudian, semua pakaian sudah tergantung atau terlipat rapi di tempatnya.
Mainan membuat Fana fokus dengan dunianya sendiri. Terkadang terdengar tiruan suara mobil atau percakapan antar dua karakter yang dibedakan suaranya. Ketika mulai kencang, tepukan ke paha oleh ibunya akan membuatnya diam. Narti tahu, tidak semua orang menyukai anak-anak, terlebih tak memiliki ikatan darah.
“Beres, Bu,” ujar Narti pada pemilik rumah yang sedang duduk bersantai di sofa kulit yang mulus, berbeda dengan miliknya di rumah.
Pemilik rumah memberikan selembar uang pada Narti. “Waktu terakhir ke sini, kamu bilang butuh koran. Saya téh bilang ke suami dan dibawain banyak dari kantornya. Emangnya buat apa kalau boleh tahu?”
“Buat Fana, Bu. Dia ‘kan enggak masuk TK. Jadi, saya sama suami yang ngajarin membaca, menulis sama berhitung di rumah. Kalau ada koran ‘kan, bisa bikin dia punya bahan bacaan,” balas Narti yang setiap beberapa kata sekali menganggukkan kepala.