Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #3

#3

Atas nama pengiritan bensin, Fajar tak pergi setiap pagi lagi. Di hari pertama, ia menyortir lowongan sesuai dengan gaji yang menurutnya cukup untuk bertahan hidup. Di hari kedua, perkara upah dikesampingkan dan ia melamar lowongan yang sesuai dengan pengalaman kerjanya. Di hari ketiga, ia mengajukan lamaran ke semua lowongan kerja yang ada, mulai dari staf pemasaran, petugas kebersihan, satpam, hingga penagih utang. Di hari keempat, tak ada respons sama sekali dari puluhan lamaran yang telah ia masukkan. Jadilah, ia berkutat dengan urusan rumah—mengepel lantai, membersihkan kaca, membetulkan posisi genting yang bergeser, sampai menata ulang ruang tengah yang segera dikembalikan ke tatanan semula karena malah jadi acak-acakan.

“Sampai kapan kamu mau ngurung diri di rumah, Kang?” gugat Narti.

“Aku mah enggak ngurung diri. Masih aktif kirim lamaran ke sana-sini. Coba lihat,” balas Fajar. Ia bergerak ke depan tv dan memamerkan bahwa setiap sudutnya bersih. Lalu ia berpindah ke tengah ruangan dan menunjuk langit-langit yang tak ada jaring laba-laba lagi. Kemudian telapak tangannya terbuka merujuk pada kaca depan yang mengilap. “Kata orang mah ada aja hikmahnya dari sesuatu téh.”

“Aku mah mendingan rumah kotor. Memangnya kita téh mau makan pemandangan?”

“Oh.”

“Aku cuma bercanda, Kang. Gimana yang ojol téa? Udah ada kabar?” tanya Narti yang duduk di sofa. Sore itu, ia baru saja melakoni pekerjaan sebagai asisten rumah tangga selagi ada Fajar yang menjaga Fana.

“Paling lama lima hari, katanya,” jawab Fajar. “Mau makan sekarang? Aku udah masak telur orak-arik.”

“Mau. Aku terakhir makan tadi siang,” sahut Narti yang segera berpindah ke meja makan. Ia tuang nasi ke dalam piring. “Fana udah belajar?”

“Udah. Sekarang mah udah lancar baca kata yang huruf vokalnya dempetan.”

“Masa aku doang yang makan? Akang enggak?” tawar Narti.

Fajar mengambilkan minuman dari galon ke dalam gelas untuk sang istri kemudian duduk di sampingnya. “Barusan makan sama Fana. Sok Neng aja yang enak makannya.” 

“Akang enggak perlu riweuh kayak gini. Aku masih sempat masak doang mah.”

“Giliran aku wé. Mumpung enggak lagi sibuk ngapa-ngapain. Kamu juga suka gini pas aku pulang kerja. Sakali éwang atuh.”

Narti menatap Fajar dalam-dalam. “Enggak gengsi, Kang?”

“Aku téh yang minta kamu ke orang tua kamu buat jadi istri. Sekarang kamu yang kerja, aku yang belum. Jadi, ya tugas aku yang bantu tugas kamu di rumah sebisa mungkin. Kenapa harus gengsi?”

“Enggak semua orang mikir kayak gitu.”

“Enggak semua orang mikir kayak bangsat,” canda Fajar.

Fana dari kejauhan bernyanyi, “Bangsat. Bangsat.”

Narti memelototi Fajar tapi mulutnya berteriak, “Fana! Jangan nyebut-nyebut bangsat lagi!”

“Mama juga bilang bangsat,” balik Fana. “Bangsat. Bangsat.”

Giliran Fajar yang membelalakan mata ke Fana. Melihat sang ayah yang jarang memperlihatkan gestur demikian, sang anak ciut juga dan melanjutkan bermain mobil-mobilan.

Rutinitas malam mereka sekeluarga tak berubah. Salah satu dari Fajar atau Narti harus membacakan dongeng untuk Fana. Berhubung Narti kelelahan, Fajar-lah yang melakukannya. Kali ini, ia bercerita tentang seekor katak yang hendak ikut kompetisi lompat jauh namun kakinya terlampau pendek dibandingkan para pesaingnya. Ia belajar memanjat dari tupai dan meluncur dari kadal. Pada saat lomba, ia tetap gagal menang tapi berhasil menemukan bahwa ada tupai dan kadal yang selalu mendukungnya.

“Kénging ide eta ti mana, Kang?” tanya Narti begitu melihat suaminya keluar kamar Fana menuju teras.

“Ngarang aja. Bagus ‘kan ceritanya?”

“Perasaan kamu kalau bikin cerita enggak ada yang akhirnya sesuai harapan.”

“Namanya juga hidup. Lebih banyak melesetnya daripada yang tepat sasaran,” Fajar beralasan. Ia keluarkan bungkus rokok dari saku celana dan menyulutnya.

“Itu bukan merek yang biasa kamu hisap?”

“Ini yang enggak ada cukainya,” kata Fajar yang mengambil jeda di antara hisapan rokok di mulutnya. Ia perlihatkan bentuknya yang nyaris sempurna seperti rokok filter. “Murah, meriah, rasanya untung-untungan. Bisa enak. Bisa enggak. Yang penting ngebul.”

Tak ada protes dari Narti soal kebiasaan suaminya menelan asap tembakau ke dalam paru-paru. Dalam kepalanya, itu adalah bentuk pengeluaran yang bisa ditekan. Namun, itulah salah satu cara suaminya menenangkan diri dan ia tak mau mengusiknya. Lagi pula, lelaki itu cuma merokok ketika sudah makan, bahkan kini sudah harus turun kasta dengan menghisap merek yang tak lazim.

Di tengah lamunan tersebut, Narti lagi-lagi terusik. Kali ini oleh fakta bahwa motor suaminya sudah cukup berumur untuk jadi ojek. “Motor kita ini emang enggak apa-apa buat didaftarin ojol? Bukannya ada syarat khusus ya, maksimal usianya berapa tahun?”

“Aman,” sambut Fajar tenang. Asap keluar dari mulutnya. “Kemarin aku téh di luar nanya-nanya sama ojol di jalanan soal ini terus dikenalin sama orang yang bisa ngakalin biar seakan-akan baru.”

Lihat selengkapnya