Saat hari masih gelap, ia sudah kembali ke jalanan. Mio tuanya dipakai menembus jalanan kota. Jaket seakan tak cukup melindunginya dari angin yang menusuk tapi ia bersikeras. Bersama motornya, ia keluar-masuk pasar. Gang-gang kecil yang meliuk tak menghambatnya. Lalu lintas yang perlahan macet tak menghentikannya. Sekolah, tempat kuliah, perkantoran, pusat perbelanjaan sampai nama jalan yang baru ia kenal dijelajahinya satu per satu.
Begitu matahari terasa berada di atas kepalanya, ia mengambil jeda. Di trotoar jalan sepi dengan berpayungkan pohon trembesi, ia duduk. Jari-jarinya menghitung lembaran uang lecek lalu beralih saldo di layar ponselnya. Berkali-kali ia mengerjap kuat-kuat melawan kantuk yang datang terlalu awal. Ia datangi warung terdekat dan memesan kopi saset. Dari saku jaketnya, ia keluarkan rokok tanpa cukai dan menyulutnya. Mulutnya mengembuskan asap panjang. Matanya terpejam menikmati nikotin pertamanya hari ini.
Di antara jari-jarinya, ia biarkan rokok menari sedangkan kepalanya menerawang memikirkan bagaimana ia harus segera membayar kontrakan. Kopinya ia teguk sekaligus dan berakhir dengannya menjulurkan lidah secara terus-menerus karena suhu air yang masih panas. Sisa ampas di dasar gelas plastik ia jadikan tempat untuk mematikan rokok. Gelas itu ia buang ke tempat sampah dan ia naik ke atas motor. Akunnya yang sempat dimatikan kini ia aktifkan lagi. Selagi jalan, ponsenya menyala menunjukkan ada orderan masuk
Kondisi serbabutuh membuatnya tak pandang bulu dalam mengambil orderan tanpa mempedulikan jarak dekat atau jauh. Manusia, makanan dan pengantaran barang dilibasnya semua. Sejak berhenti di warung, ia tak pernah mengambil jeda lagi. Akunnya dibiarkan terus menyala sehingga orderan tak henti-hentinya masuk. Tanpa disadari, langit mulai berwarna keemasan. Kebetulan, ia mendapat penumpang yang searah dengannya ke Sukacinta. Setelah menyelesaikan perjalanan, ia menonaktifkan akunnya.
Situasi jalanan yang ramai karena sudah memasuki jam pulang kerja memaksa Fajar mengemudikan motor dengan pelan. Di tengah macet, ia melihat-lihat sekitar untuk melawan rasa kantuk. Jalanan ini sangat ia kenali dengan dinding-dinding rumah yang rapat satu sama lain. Ketika menunduk, ia melihat sebuah dompet tergeletak. Matanya melirik kanan-kiri. Merasa tak ada yang memperhatikan, ia turunkan standar motornya dan turun. Sambil berpura membetulkan tali sepatu, ia dekatkan tubuhnya pada dompet kulit hitam.
Ada semacam getaran dalam tubuhnya yang sulit dijelaskan. Ia telan ludahnya berkali-kali. Keberaniannya dikumpulkan untuk meraih dompet milik seseorang yang pasti menjatuhkannya. Lewat sebuah sergapan, ia mendapatkan dompet tersebut. Sambil membelakangi jalan, ia membukanya. Terdapat sembilan lembar uang seratus ribu rupiah di bagian paling dalam. Uang sebanyak itu, pikirnya, bisa dipakai untuk membayar sewa kontrakan selama sebulan dan mencabut sepertiga bebannya.
Di bagian samping, terdapat KTP, SIM dan STNK. Ia cabut KTP dan melihat foto wajah pemiliknya yang ternyata seorang pria seusia dirinya. Matanya memindai satu per satu kolom di kartu identitas tersebut. Alamatnya jauh dari Sukacinta. Buruh harian lepas tertulis di kolom pekerjaan dan sudah menikah di kolom status pernikahan. Setelah celingukan, ia masukkan dompet itu ke dalam saku jaketnya.
Motornya ia pacu sekencang mungkin. Kantuk dan lelah seolah hilang dalam dirinya. Ia meliukkan kendaraannya untuk menyalip motor dan mobil di depannya. Kurang dari sepuluh menit, ia menghentikan motornya. Dengan tergesa, ia menyimpan dompet di pos pelaporan dan pengaduan, memfotonya lalu kembali menaiki Mio tuanya.
Dalam perjalanan pulang, ia bertanya-tanya apakah tindakannya itu benar atau kelak akan disesali. Ia bisa saja mengambil uangnya dan membiarkan orang lain mengembalikan dokumen-dokumen penting pada pemiliknya lalu hidup dengan beban yang lebih ringan. Bisa juga ia menggunakan separuhnya untuk membayar kontrakan serta separuhnya lagi diberikan untuk Narti supaya bisa membeli baju baru dan Fana membeli mainan baru. Ia bisa membayangkan betapa indahnya melihat keluarga kecilnya tersenyum. Namun, ia pun tak tega apabila itu terjadi dengan menumbalkan seorang kepala keluarga lain yang mungkin telah banting tulang begitu keras untuk memiliki uang sebanyak itu.
Segala dilema dalam pikirannya lenyap ketika sampai di rumah. Hamparan jalanan, deru mesin kendaraan dan lautan manusia yang dilihatnya sepanjang hari masih terasa asing baginya. Namun, ia tak membiarkan otaknya berpikir karena Narti sudah memasak sayur kacang yang merupakan favoritnya. Setelah menyapa Fana, Fajar yang hanya berbalutkan singlet, duduk di meja makan. Dua porsi nasi berpindah dari piring ke dalam tubuhnya. Ia menepuk-nepuk perutnya setelah Narti mengambil piring bekas makan dan mencucinya.
Ketika dorongan untuk merokok tak bisa lagi ditahan, ia meminta izin pada Fana supaya sang ibu yang membacakan dongeng karena telah bekerja dari subuh. Sang anak mengiyakan. Di teras, Fajar menyulut rokok. Angin yang berembus cukup kencang ia biarkan membelai tubuhnya yang seharian bermandi keringat. Tak lama berselang, Narti menghampiri dengan segelas kopi di tangan. Ia simpan gelas itu di tembok yang juga berfungsi sebagai pagar.
Fajar menyeruput kopi panas perlahan-lahan lalu mendesah panjang setelah menelannya. “Nuhun, Neng,” ucapnya sambil memegang tangan sang istri.
“Rame orderannya hari ini, A?”
“Alhamdulillah. Seharian ini dapet lebih dari dua puluh.” Ia merogoh saku, mengeluarkan seluruh isinya dan memberikannya pada Narti. “Simpan, Neng.”
Narti merapikan satu per satu lembaran dan menggenggamnya di tangan kanannya.
“Tiap hari aku usahain dapat segitu biar dalam beberapa hari ke depan, kita bisa bayar kontrakan walau belum semuanya. Bilang aja kita cicil. Jadi, enggak akan ngeganggu uang yang udah ditabung buat biaya pendidikan Fana.”
“Soal itu,” ucap Narti pelan. “Kalau memang ngerepotin mah, aku enggak keberatan kita pindah. Mau ke tempat yang lebih terpencil juga enggak apa-apa.”
“Jadi kamu nyaranin biar kita lari dari tanggung jawab?”
“Apa? Enggak!” sambar Narti. “Maksudnya, kita bisa pindah ke kontrakan yang lebih kecil sambil bayar sisa uang kita yang nunggak.”
“Itu mah artinya kita jadi repot dua kali atuh. Pokoknya mah kita tinggal di sini. Biaya sewa mah nanti juga beres cuma…”
Mereka berteriak histeris saat melihat sebuah bayangan tiba-tiba muncul di depan pagar. “Ini saya,” tutur sebuah suara yang tak asing lagi.
Suara sedikit parau itu milik Pak RT. Demikian ia ingin dipanggil setelah sebelumnya dipanggil dengan nama sebenarnya, Kasim. Sejak menjabat, pakaiannya menjadi sangat rapi dengan hampir setiap waktu mengenakan kopiah, kemeja dan celana panjang. Sebelumnya, ia lebih sering terlihat berkaus dan bercelana pendek ketika melayani pembeli di toko kelontong miliknya.
Terkadang ia bergantian dengan istrinya. Serupa dengan Pak RT, Bu RT yang bernama asli Minah pun memakai pakaian ala kadarnya ketika menjaga toko. Bedanya, di pergelangan tangannya biasanya terpasang gelang yang berkilau atau ada beberapa jarinya yang dipasangi cincin. Selain itu, ia cuma berbicara ketika diperlukan dan tak banyak berinteraksi dengan para tetangga. Keluar rumah pun hampir tidak pernah, termasuk saat ada acara warga. Namun orang-orang memahami bahwa ia barangkali kelelahan karena beraktivitas seharian.
“Saya ganggu, ya?” tanya Pak RT begitu sampai di luar pintu pagar.
“Ini téh udah agak kemaleman sebenarnya mah, Pak,” jawab Fajar yang pahanya langsung dicubit Narti.
“Mangga, masuk, Pak,” tawar Narti yang segera membukakan pintu pagar lalu masuk ke dalam.
“Punten pisan ini mah harus datang jam segini,” ujar Pak RT yang setengah menunduk ketika berjalan masuk. Ia duduk di samping Fajar. “Tadinya mah mau sore ke sininya tapi kelihatannya téh enggak ada siapa-siapa. Jadi aja jam segini ke sininya.”
“Istri saya ada kok, Pak, tiap hari juga. Lagian ‘kan bisa lewat WhatsApp kalau emang susah ketemu mah.”
“Itu dia masalahnya. Saya kirim pesan di grup aja enggak ada yang jawab. Kang Fajar gé sama. Belum baca.”
“Oh,” jawab Fajar singkat. “Tadi lagi riweuh, Pak. Jadi enggak buka-buka WhatsApp.”
“Oh riweuh, ya? Padahal beberapa hari terakhir saya sering lihat Kang Fajar di rumah. Punten, bukan maksudnya ikut campur. Sebagai tetangga sama RT, saya wajib perhatiin warga saya sendiri.”
Fajar mengangguk-anggukkan kepala.