Di Sabtu sore dengan cuaca sempurna, Narti dan Fajar terkurung di rumah. Sang ibu berkutat dengan setrikaan dan pakaian sedangkan si kecil tengah bermain patung-patung superhero yang dibelikan Fajar sehari sebelumnya. Bukan mall yang sang ayah datangi melainkan toko mainan yang berlokasi tak jauh dari pasar. Ia memilih satu pak berisi enam patung superhero karena hanya itu yang mampu ia beli. Ketika dikeluarkan, keenamnya tak mirip dengan superhero yang biasa ditonton di film. Ada yang model rambutnya berbeda dan ada pula yang badannya terlalu kurus untuk ukuran pahlawan super. Hanya saja, pakaian bisa membuat mereka diidentifikasi sebagai Batman, Superman, Iron Man, Captain America, Hulk, dan Thor.
Bosan dengan mainan, Fana mengambil selembar koran. Mulutnya mengeluarkan suara membaca judul artikel yang ukurannya lebih besar dibandingkan bagian isi. Sesekali Narti mengalihkan pandangan dari pakaian untuk memastikan yang dibaca sang anak benar adanya.
Sang ibu tak lagi khawatir anaknya akan membaca berita-berita mengerikan karena telah disortir terlebih dahulu. Ia menyadari bahwa Fana seharusnya membaca majalah anak-anak dan mengonsumsi cerita-cerita yang inspiratif. Majalah itu memang tak mahal tapi bagi Narti, tetap saja artinya ada pengeluaran tambahan. Di tengah upayanya mengencangkan ikat pinggang, ia berpegang teguh pada segala sumber daya yang bisa didapat secara cuma-cuma.
“Korupsi téh apa, Ma?” tanya Fajar.
Mata Narti seketika membelalak. Ludah yang menggumpal ia paksa telan. “Kenapa kamu nanyain soal itu?”
“Dari tadi kata itu téh muncul terus di koran. Artinya apa, Ma?”
Tangan Narti yang memegang setrika kembali maju-mundur di atas bagian dalam pakaian. “Itu téh artinya ngambil sesuatu yang bukan punya kita. Enggak bagus itu.” Saat pakaian terasa rapi, ia mengangkatnya lalu melipatnya dengan penuh hati-hati.
“Sama kayak nyuri berarti?”
“Intinya mah sama.” Perempuan yang baru menginjak kepala tiga itu tak buru-buru mengambil setrika yang ia posisikan berdiri. Fokusnya terbelah memikirkan jawaban yang tepat. Salah memberi penjelasan, bisa celaka, pikirnya, mengingat di usia Fana sekarang, segala sesuatu yang didengar akan diingatnya untuk jangka waktu yang lama. “Bedanya kalau korupsi itu dilakuinnya sama orang yang punya kedudukan.”
“Kedudukan itu apa?”
“Kedudukan itu jabatan yang dipercayain sama orang-orang. Misalnya Pak Kasim. Beliau téh kan jadi RT. Nah, jabatannya itu Pak RT.”
“Pak RT korupsi?”
“Enggak, Fana. Pak RT mah baik,” sambar Narti khawatir sang anak berpikir macam-macam. Terlebih, di usia tujuh tahun, anak-anak suka mengutarakan apa yang di pikirannya tanpa melalui penyaringan terlebih dahulu.
“Apa karena Pak RT baik jadi rumahnya besar?”
Kepala Narti menggeleng. Tangannya sudah disibukkan kembali dengan menyetrika pakaian. “Enggak ada hubungannya antara orang baik sama rumah yang besar. Kenapa? Kamu pengin punya rumah kayak Pak RT?”
“Iya atuh, Ma. Warnanya bagus. Pagarnya bagus. Dari luar aja kelihatan gede.”
“Mama doain pas nanti kamu gede, kamu bisa beli rumah lebih gede daripada punyanya Pak RT. Cuma itu téh baru bisa tercapai kalau kamu pintar. Kalau kamu pintar, kamu bisa cari uang yang banyak. Biar pintar, kamu harus rajin baca.”
“Baca melulu!” jawab Fana kencang. “Bosen!”
Keluhan dari Fana disampaikan Narti pada Fajar ketika mereka berdua menikmati malam di teras.
“Namanya juga anak kecil,” ujar Fajar. Kretek di mulutnya ia nyalakan dengan kayu api yang ia kibas-kibaskan ketika api mengubah tembakau menjadi asap. “Katanya téh anak kecil mah rasa ingin tahunya besar. Jadi, kayak gitu.”
“Tapi kalau kebanyakan baca koran, nanti dia dewasa sebelum waktunya. Itu téh enggak normal. Kata aku mah, dia harus keluar rumah. Senang-senang.”
“Dia mah kemudaan atuh kalau disuruh keluar rumah sendiri. Nanti kalau ada culik gimana?” balas Fajar yang beberapa kali meludahkan tembakau yang menempel di bibirnya.
“Maksud aku téh kamu ajak dia pergi. Kebetulan besok aku ada tawaran masak buat katering undangan. Uangnya lumayan. Hitung-hitung gantiin penghasilan kamu kerja sehari. Gimana?”
Fajar menghela napas panjang. “Biar aku pikirin dulu. Minggu téh biasanya banyak orderan.”
“Aku udah nerima tawarannya. Malu kalau dibatalin,” ungkap Narti.
“Bentar dulu,” protes Fajar. “Harusnya ‘kan atas seizin aku sebagai suami.”
“Kesempatan emas atuh, Kang. Uangnya bisa buat nambahin bayar kontrakan. Lagian, Fana butuh papanya. Masa sama mamanya terus?”
Subuh esok harinya, Fajar bersama Fana mengantar Narti ke sebuah rumah yang sekaligus berfungsi sebagai dapur katering. Perempuan bertubuh sedikit gempal itu minta dijemput di waktu ashar dan sebagai tandanya, ia akan menelepon.
Dalam perjalanan pulang, terpintas dalam pikiran Fajar untuk membawa anak semata wayangnya bermain di luar rumah. Namun, jalan-jalan berkeliling kota akan menghabiskan bensin. Ditambah harus jajan ini-itu. Bukannya pelit tapi keuangannya tengah difokuskan untuk membayar kontrakan. Hiburan-hiburan kecil semacam itu berpotensi membuat tujuannya cuma jadi angan-angan belaka.