Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #6

#6

Kejutan tak pernah tahu waktu untuk bertamu. Di akhir bulan ketika keuangan sedang megap-megap, ia datang di pagi hari tepat sebelum Narti pergi berkeliling. Ponsel Narti berbunyi dan Fana-lah yang mendengarnya. Melihat nama kontak di layar, ia mengangkatnya. Setelah mengangguk, ia berlari ke kamar dengan ponsel di tangan untuk menghampiri ibunya.

“Aku di bengkel. Motor turun mesin,” Fajar memberi kabar kurang dari setengah jam setelah keberangkatannya dari rumah.

Tak perlu pengetahuan sekelas ahli untuk mengetahui bahwa turun mesin adalah masalah paling besar untuk kendaraan. Biaya perbaikannya pun tak murah. Narti mengelus dada begitu sang suami menyelesaikan kalimat kedua. Bisa saja Mio tua itu dibiarkan menjadi pesakitan tapi artinya Fajar tak bisa mencari nafkah. Parahnya lagi, keluarga kecilnya tak akan bisa makan.

“Motor turun mesin,” Fajar menekankan ucapannya yang tak kunjung mendapat respons.

“Kadangu, Kang,” sahut Narti sambil mendekatkan ponselnya ke mulut. “Aku téh lagi ngitung penghasilan selama hampir sebulan ini. Jadi, mau masukin biaya servis motor Akang.”

“Aku téh nyari yang paling murah. Harusnya mah tiga juta tapi ini satu setengah juga bisa. Enggak apa-apalah suku cadangnya bukan yang asli juga. Dipakai dulu uangnya, enggak apa-apa?”

Tanpa berlama-lama, Narti menjawab, “Ada uangnya mah di tabungan. Aku transfer sekarang.”

Jari-jari Narti bergerak lebih agresif di atas layar ponsel. Sejumlah uang yang diminta sang suami dikirimnya lewat bantuan internet. Ia tuliskan angka di atas buku lalu melemparnya secara sembarangan ke kasur. Suasana hatinya rusak setelah harus mengeluarkan uang lebih dari sejuta sepagi ini.

Tak ada waktu untuk tenggelam dalam kesedihan, hiburnya dalam hati, terutama untuk orang susah sepertinya. Ia menuntun Fana keluar rumah dan mengunci pintu depan. Stiker di jendela selalu jadi obyek yang menarik perhatiannya.

Mereka berdua berkeliling dari satu rumah ke rumah. Hanya ada satu pelanggan yang Narti dapatkan. Selama sebulan terakhir, makin menyusut saja jumlah pelanggannya. Ada yang beralasan pakaian yang kusutnya masih sedikit untuk disetrika, ada yang bilang berhenti kerja sehingga tak butuh pakaian rapi lagi dan ada juga yang menolak tanpa alasan. Tak sekali pun Narti bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk dan berpesan agar menghubunginya apabila dibutuhkan.

Narti dan Fana sampai di rumah. Sang ibu menggeser pagar sampai menimbulkan bising suara besi yang diseret.

“Udah pulang lagi geuning, Neng?” ujar sebuah suara yang jaraknya tak jauh dari mereka.

Narti mengangguk dan tersenyum. “Udah, Mi. Lagi sepi.”

Perempuan lanjut usia itu terlihat turun dari teras rumahnya, mengenakan sandal jepit dan berjalan pelan membuka pagar. Narti menyuruh Fana untuk duluan ke teras karena matahari sedang panas-panasnya. Kemudian ia meraih tangan perempuan lanjut usia itu dan berjalan beriringan dengannya sampai teras kontrakan yang disewanya.

“Di dalem atuh, Mi. Di sini mah panas,” ajak Narti.

“Di sini wé, Neng. Biar ada angin segar. Bosen Mami téh lihat dinding rumah waé.”

Mereka berdua duduk di kursi teras. Perempuan berusia lanjut itu bukanlah musuh. Perilakunya pun tak pernah barang sekali pun membuat jengkel. Namun, kali ini degup jantung Narti berdetak kencang. Mulutnya rapat seolah ada yang merekatkannya.

Di usia yang tak lagi muda, Mami Menik punya karisma yang kuat. Barangkali karena ia adalah pemilik beberapa rumah yang dikontrakkan di Sukacinta. Barangkali juga karena ia merupakan satu-satunya warga Sukacinta yang tak pernah hengkang sejak lahir. Entah karena pilihannya sendiri atau keadaan yang memaksa. Yang pasti, ia adalah sosok yang dihormati terlepas dari keusilannya yang terkadang mencampuri urusan orang lain.

“Gimana? Udah selesai tahlil di Tasik?”

“Henteu tahlil, Mami. Aa sama teteh sama-sama lagi enggak ada uang. Jadi, cuma bikin pengajian sederhana aja,” jawab Narti yang merapatkan kedua pahanya dengan kedua tangan disimpan tepat di tengah.

Mami Menik mengelusi pundak Narti. Alih-alih merasa tenang, Narti malah merasa canggung dengan sedikit menjauh dari tangan yang sudah keriput tersebut.

“Mami téh enggak tega sebenarnya,” tutur Mami Menik yang melepaskan tangannya dari pundak Narti. Mami téh bisa ngerasain kalau di posisi Neng gimana.”

“Makasih, Mi, atas pengertiannya.”

“Cuma da gimana, Neng? Mami juga butuh. Ya, enggak perlu sekarang kalau memang teu acan aya mah. Cuma atuh dalam waktu dekat. Kontrakan ini téh Neng tahu sendiri ‘kan, jadi sumber penghidupan Mami da anak-anak di Jakarta mah udah pada punya keluarga. Punya keperluan masing-masing.”

“Iya, Mi,” ucap Narti. “Secepatnya saya bayar.”

“Pertengahan bulan nanti téh genap kamu sama Fajar tiga bulan belum bayar. Bukannya Mami jahat tapi ‘kan dari awal gé, udah setuju sama aturan kalau telat tiga bulan, terpaksa kalian harus pindah.”

“Atuh, Mi. Di kita mah ‘kan biasanya aturan téh bisa diganti,” goda Narti.

“Enggak bisa atuh yang ini mah, Neng. Cuma bisa ngasih keringanan Mami mah karena tahu kondisi kalian kayak gimana.”

Senyuman di wajah Narti mengembang. Sedikit pengertian cukup menenangkannya. Setidaknya untuk sementara waktu.

“Dicicil juga enggak apa-apa Mami mah, Neng. Bukan maksud apa-apa,” lanjutnya sambil mengelusi pahanya sendiri yang dibalut oleh celana hitam. “Kalau enggak ada pembayaran mah, Mami juga enggak punya pemasukan. Ini aja Mami téh udah pakai tabungan. Sok berapa aja sekarang,” pinta Mami Menik.

“Harus sekarang, Mi? Katanya pertengahan bulan?”

“Enggak harus. Siapa tahu sekarang ada uangnya.”

“Sekarang mah belum ada, Mi. Diusahain secepatnya bayar ya, Mi. Punten sampai telat kayak gini.”

Lihat selengkapnya