Juni berjalan dengan keelokannya. Hujan hanya berkunjung sesekali untuk mengurai debu. Matahari berpendar santun. Angin bertiup sejuk, bahkan menggerus suhu ke belasan derajat saat malam. Kemarau yang sempurna bak kemewahan yang terlalu mahal. Sang kepala keluarga menambah jam kerjanya hingga pulang nyaris tengah malam hampir setiap hari demi tambahan puluhan ribu rupiah. Sang istri memperluas bidang pekerjaannya dengan bersih-bersih rumah, memasak hingga menerima jasa penitipan anak yang orang tuanya sibuk di tengah hari untuk mendapat tambahan penghasilan.
Sarapan jadi satu-satunya momen kebersamaan Fajar dan Narti sebelum masing-masing berpisah dan berkutat dengan aktivitas masing-masing. Menu di meja makan sejak beberapa terakhir tak pernah berubah dengan dua tempe goreng dan tumis sayuran untuk masing-masing. Terkadang ada bonus gorengan yang dihangatkan karena dibeli di malam sebelumnya. Protein sengaja mereka sisihkan untuk Fana, sementara mereka memilih memuat karbohidrat sebanyak-banyaknya sebagai bahan bakar melewati hari yang panjang.
“Senin mah kayaknya kita enggak usah ngambil kerjaan, Kang,” pinta Narti.
“Kenapa Senin?”
“Minggu mah semua orang pada keluar rumah. Harga segala macam dinaikin.”
Fajar mengangguk lalu melanjutkan makannya.
“Tiap hari kita téh udah habis-habisan,” desak Narti yang di hadapannya tak ada piring karena terlalu pagi untuknya makan. “Wajar atuh kalau sehari mah libur.”
“Kita téh bukan karyawan kantoran yang punya hari libur, apalagi kondisi keuangan kita masih prihatin begini.”
“Betul tapi kita juga enggak lagi ikutan Romusa. Di luar kerjaan juga ada yang harus kita urus,” Narti berargumen. Ketika suaminya berhenti menyuap dan menatapnya, ia arahkan telunjuknya ke kamar.
Fajar menatap arah telunjuk Narti. “Apa? Pintunya rusak? Nanti kita ganti kalau uangnya udah cukup.”
“Fana.”
“Oh,” Fajar merespons pendek. Jari-jari tangan kanannya kembali mencuil nasi dan mengantarnya ke mulut.
“Minggu kemarin aku ajak kerja dia seharian. Akang juga pulangnya malam. Jangan sampai dia téh ngerasa ditelantarin.”
Fajar menelan makanan di mulutnya lalu menjawab, “Nanti juga kalau kondisinya udah mendingan, kita bisa kumpul lagi. Kalau diam wae mah atuh kita enggak punya uang.”
“Enggak, Kang,” Narti mendebat. “Kita besok harus libur. Udah mah kita téh susah, anak enggak ngerasa kasih sayang lagi. Kalau sebagai pasangan kita gagal secara ekonomi, jangan sampai kita gagal sebagai orang tua buat dia.”
Tak ada jawaban dari sang suami. Ia menyelesaikan sarapan lalu mencuci piring di dapur. Jaket yang sudah disiapkan sang istri di sofa dipakainya. Mio tuanya dikeluarkan ke teras dan ia hangatkan mesinnya. Hari masih gelap tapi lelah sudah menghinggapinya. Ia embuskan asap rokok dari mulutnya dengan tatapan nanar lurus ke jalanan yang lengang. Entah mengapa, rasanya lebih pahit sampai harus menjulurkan lidah berkali-kali dengan mata tertutup. Barangkali disebabkan kualitas rokoknya yang payah tapi ia habiskan juga tembakau tak berlabel cukai tersebut.
Setelah rokok habis, ia masuk untuk pamit pada Narti. Perempuan yang sudah dinikahinya selama sembilan tahun itu mencium tangannya. Ketika melangkah menuju pintu depan, ia melirik ke kamar Fana yang terbuka. Kakinya berbelok masuk ke kamar sang anak. Tak ingin mengeluarkan suara, ia turunkan tubuhnya pelan-pelan meski membuat kasur sedikit menjorok. Tangannya mengusapi rambut Fana. Kepalanya menunduk dan mengantar ciuman pada pipi sang anak.
“Aku bakalan pulang malam,” ucapnya pada Narti ketika berada di atas motor. Ketika helmnya terpasang, ia melihat sang istri buang muka tanpa menjawab. “Biar besok… bisa habisin waktu sama kalian.”
Perjuangan Narti mengais rupiah dimulai setelah ia menyuapi Fana. Sambil menuntun anaknya, ia berkeliling menawarkan setrika. Pagi itu, ia mendapat dua pelanggan yang memberinya pekerjaan menyetrika dan melipat baju. Siangnya, ia menyelesaikan sekeranjang pakaian, pergi ke pasar untuk membelikan daftar belanjaan, memandikan anaknya dan mengakhiri pekerjaannya dengan menyiram, memberi pupuk serta membersihkan daun-daun Monstera milik pelanggannya.
Ia pulang menjelang magrib. Lelah tak menghentikannya untuk langsung melakoni tugasnya sebagai seorang ibu dengan memandikan Fana, menyuapinya dan menemani anaknya membaca serta menggambar. Jam delapan malam, ia menidurkan sang anak dengan mengarang dongeng Si Kancil. Namun tubuhnya sudah kadung letih dan pikirannya pun tak jauh beda. Alih-alih menyelesaikan cerita, ia malah membuat akhir yang menggantung dengan alasan dongengnya akan terbagi menjadi beberapa episode.
Saking lelahnya, ia bahkan tak menyadari jam berapa suaminya pulang. Dalam ingatannya, jam sudah menunjukkan jam sebelas tapi belum ada suara mesin motor atau kunci yang dibuka. Lelah mengantarnya tidur. Pulas.
Tubuhnya tak butuh alarm untuk melek di kala subuh. Tubuhnya langsung berbalik mencari Fajar yang tak ia temukan di kasur. Ia bangkit dan membuka pintu kamar. Ditemukannya Mio tua sang suami bercokol memenuhi ruang tamu. Terdengar suara minyak yang dipanaskan. Ia dekati sumber suara tersebut dan mendapati Fajar tengah berdiri.
Aroma sedap asin jambal roti menguar. Jari-jari sang suami memegangi susuk dan dengan luwes membuat ujungnya menari di atas katel. Narti menyimpan kedua tangannya di bawah punggungnya mengamati. Fajar mengangkat beberapa potong ikan jambal roti dan meniriskannya. Ia melempar senyum pada istrinya lalu memasukkan air, kaldu jamur, dan kecap manis ke dalam panci lalu memasaknya.
“Punten ya, Neng. Enggak pakai bawang soalnya lagi mahal walau stoknya ada,” ungkap Fajar.
Narti memiringkan kepalanya menatapi sang suami. Alih-alih protes karena masakan kesukaannya tak dibuat secara lengkap, ia malah bertanya, “Pulang jam berapa?”
“Ada mah sejam yang lalu. Tadi nganterin penjual jambal roti jauh dari Cibiru ke Cijerah. Tipnya téh dikasih sebungkus. Lumayan ‘kan kesukaan kamu.”
Narti mengambilkan piring dan menyimpannya dekat kompor. Fajar menuangkan hasil masakannya yang sudah dicampur ke atasnya. Piring tersebut dibawanya ke meja makan. Fajar mengambil dua piring lain dan dibagikan ke depan sang istri yang sudah duduk di meja makan dan untuknya sendiri.
“Aku belum masak nasi, Kang.”
Tangan Fajar segera mengambil wadah nasi. “Cukup lah buat berdua mah.”
“Masih subuh,” protes Narti.
“Jangan bilang belum waktunya makan. Kamu bukan selebritis yang harus puasa belasan jam tiap hari biar badannya bagus,” godanya. Ia mengambil cabai dari plastik yang disimpan di dalam kulkas lalu memotong-motongnya seukuran buku jari. “Lagian udah lama aku enggak masakin kamu, Neng. Masa ditolak?”
Narti tersenyum. Ia biarkan piring di depannya diisi nasi. Irisan cabai dituangkan ke piringnya oleh sang suami. Mereka berdua menyantapnya. Selesai makan, Narti yang bersikeras mencuci piring. Fajar izin untuk tidur sebentar. Sang istri memanfaatkan waktu untuk memasak sarapan buat Fana.
Begitu cahaya matahari bersinar di luar, Fajar masuk ke kamar. Kaus dan celana panjangnya dibiarkan terpakai karena rasa letihnya kadung memuncak. Tak sampai lima menit ia sudah terlelap. Dengkuran kencang dari mulutnya menggema di kamar.
Di tengah kenikmatan tidur, ia merasakan sesuatu yang mengganggu. Tubuhnya terasa memantul-mantul. Ia berbalik arah tidur tapi gangguan itu malah menjadi-jadi. Puncaknya, ia merasa punggungnya begitu berat sampai membuatnya kesulitan bergerak. Ia membuka mata dan mendapati Fana yang sedang melompat-lompat di atas pinggang kanannya.
Lemas masih menjalar di seluruh tubuh Fajar tapi ia paksakan diri untuk duduk. Fana berlari keluar meninggalkan sang ayah. Fajar keluar kamar dengan lesu. Untuk menegakkan tubuh saja seolah berat. Fana berlari-lari di ruangan tengah lalu menepuk paha untuk mengusili ayahnya. Fajar mengerahkan tenaga untuk mengejar sang anak. Ketika didapatkan, ia memeluknya, melempar-lemparnya ke udara, lalu menggoyang-goyangkannya seolah Fana sedang terbang atau berada di atas komidi putar.
Fajar izin ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ketika selesai, ia menghampiri Narti yang tengah duduk di sofa sedang memperhatikan Fana. “Masih pagi ini téh,” keluhnya pada sang istri. Terlihat jam menunjukkan angka delapan. “Aku baru tidur sebentar.”
“Itu mah Fana yang gangguin. Nagih janji kamu.”
“Janji apa? Aku enggak pernah janji?” tanya Fajar dengan suara pelan. Ia tunjukkan telapak tangan pada Fana yang tak bisa diam di depannya.
“Sebenarnya mah aku yang bilang kamu janji bakal libur buat ngajak dia main. ‘Kan kamu yang bilang mau ngehabisin waktu bareng-bareng.”