Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #8

#8

Sukacinta kerap memperlihatkan denyut nadinya di waktu-waktu yang tak terduga. Anak-anak muda nongkrong di warung untuk sekadar merokok, minum kopi dan bermain gitar semalaman karena tak punya kesibukan keesokan harinya. Bapak-bapak duduk-duduk di teras untuk berjemur sebelum terik datang karena tak punya pekerjaan. Ibu-ibu berkumpul sambil menggendong anak di sore hari. Namun, keluarga kecil Fajar memilih mendirikan sekat yang membuat mereka lebih sering berdiam diri di kontrakan ketika ada waktu luang. Istirahat dan waktu berkualitas bersama keluarga menjadi alasan utama, selain menghindari konflik dan mengeluarkan uang untuk keperluan tak penting.

Terkadang, situasi menjebak mereka untuk tetap bersosialisasi dengan sekitar. Seperti Narti yang terpaksa harus bertemu ibu-ibu di pagi hari saat gerobak tukang sayur keliling melintas di sekitar rumah. Tak setiap hari sebagaimana ia berbelanja dua atau tiga hari sekali tapi tetap saja kegiatan itu harus dilakukan. Pernah suatu kali ia menunggu ibu-ibu lain selesai berbelanja supaya tak perlu bersosialisasi dengan mereka. Namun, tukang sayur itu seorang oportunis ulung yang enggan menunggu lama dan berlalu begitu saja mencari pembeli lain.

Akal Narti tak habis begitu saja ketika berada dalam keadaan terdesak. Demi menghindari ibu-ibu, ia mengirim Fana yang tinggal menyerahkan daftar belanjaan pada tukang sayur lalu membayarnya. Tak ada kesalahan perhitungan dari si kecil tapi barang yang dipilih tukang sayur kualitasnya sering kali kurang baik. Puncaknya, Fana protes soal Narti yang menyuruh padahal bisa membeli sayur sendiri. Sejak saat itu, sang ibu mau tak mau bergabung dengan ibu-ibu lain.

Prinsip Narti ketika membeli sayur adalah memilih barang, membayarnya dan pergi secepatnya. Penerapannya tak semudah rencana. Ia masih harus bercakap-cakap dengan ibu-ibu lain. Bukannya ia tak pandai bergaul atau membenci mereka tapi terlalu banyak hal yang tak perlu ia dengar ketika berbelanja. Gosip dan berita buruk seolah jadi dagangan lain untuk menemani mereka lama dalam memilih barang. Ketika itu terjadi, Narti hanya menjadi pendengar. Paling banter, ia hanya melempar senyum.

Bukannya tak ingin berkomentar tapi ia sadar bahwa keusilannya buka mulut bisa mendatangkan masalah. Sebagai pendatang, ia dan sang suami tak ingin punya perkara dengan siapa pun, terlebih tetangga.

Keesokan hari setelah mendapat bansos, ia hendak berbelanja bahan-bahan terung balado yang menjadi makanan favorit sang suami. Begitu jam menunjukkan angka setengah delapan, Narti sudah bercokol di teras. Ketika motor tukang sayur berhenti di depan rumah Mami Menik, ia buru-buru menghampiri. Dalam hitungan menit, tiga ibu-ibu lain yang kompak mengenakan daster sudah bergabung.

Tangan Narti mengumpulkan barang-barang incarannya yang ditumpuk di sudut gerobak tukang sayur. Belum ada pembicaraan yang istimewa selain ibu-ibu itu bertanya soal akan memasak apa, perihal harga atau mengeluhkan harga sembako yang naik. Tukang sayur meresponsnya dengan mengatakan bahwa ia pun tak bisa melakukan apa-apa selain mengambil sedikit keuntungan untuk bensin dan membiayai hidup keluarganya.

“Tahu enggak, Bu?” buka ibu-ibu yang mengenakan daster batik. “Bu Gani enggak belanja-belanja beberapa hari ini soalnya dapat bansos,” lanjutnya dengan suara lebih pelan setelah celingukan sebelumnya.

“Emang iya?” tanggap ibu-ibu berdaster bunga-bunga. “Pantesan udah enggak pernah kelihatan lagi.”

“Kok bisa, ya?” jawab ibu-ibu berdaster garis-garis. “Padahal mah ‘kan Pak Gani-nya téh bukan orang susah.”

“Iya,” sahut ibu-ibu berdaster batik. “Punya jongko di pasar. Masih jualan lagi sekarang juga. Neng tahu ‘kan Bu Gani?” tambahnya pada Narti.

“Tahu, Bu,” tukas Narti. Matanya enggan melihat ibu-ibu yang berbicara melingkar dengan jarak cukup dekat menjauhi tukang sayur yang duduk di tembok depan rumah Mami Menik sambil merokok.

“Bukan keluarga Pak Gani aja, Ibu-ibu,” timpal ibu-ibu berdaster garis-garis. “Saya gé lihat waktu Pak RT nganter bansos ke rumah keluarga Pak Hermawan. Aneh enggak? Pak Hermawan téh ‘kan punya bengkel kecil-kecilan di depan rumahnya.”

“Asa enggak adil ya, Ibu-ibu?” sambut ibu-ibu berdaster bunga-bunga. “Kalau kita-kita mah ‘kan wajar dapat bansos juga.”

“Kayaknya mah banyak salah sasaran bansos téh,” ujar ibu-ibu berdaster batik. “Masa kita yang susah disamain sama mereka? Bener ini mah enggak adil. Neng dapat juga tapi ‘kan?” tanyanya pada Narti.

“Dapat, Bu. Alhamdulillah.”

Ibu-ibu berdaster garis-garis menimpali, “Beras saya téh kayaknya enggak penuh. Ada yang salah jigana mah.”

Keseruan itu seketika sunyi ketika Mami Menik membuka pagar rumahnya. Perempuan yang tak lagi muda itu berjalan pelan ke arah gerobak sayur. Tubuhnya boleh saja sudah uzur tapi telinganya belum tentu. Seolah mendengar, ia ikut bergabung dengan bilang, “Mami juga dapat kalau bansos.”

Narti melirik lalu menganggukkan kepala sebagai gestur hormat pada orang yang lebih tua sekaligus pemilik kontrakan yang ia sewa.

“Menurut Mami mah ini program téh bagus banget. Bisa menyasar ke banyak orang.”

Ketiga ibu-ibu yang sejak awal berkicau tak ada yang menjawab. Ibu-ibu berdaster batik berpura-pura menatapi mentimun, ibu-ibu berdaster bunga-bunga mengecek kondisi pisang yang menggantung di gerobak dan ibu-ibu berdaster garis-garis buru-buru membayar.

“Bagus Kasim kerjanya. Enggak kayak yang sebelumnya. Sebagai RT téh dia mau bantuin warga biar dapat bansos. Jadi, nolongin warga biar enggak ada yang kelaparan. Enggak ada yang sirik satu sama lain.”

Ibu-ibu berdaster bunga-bunga dan berdaster batik saling bertatapan tapi tak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Benar enggak, Neng?” cecar Mami Menik pada Narti. “Neng ‘kan setahu Mami mah baru pertama ya dapat bansos?”

“Betul, Mi.” Narti segera mengambil barang belanjaannya, menghitungnya pada tukang sayur, membayar lalu pamit pada Mami Menik dan ibu-ibu lainnya.

Di dapur, ia menekan pisau di atas bawang merah, bawang putih dan cabai sampai halus. Kegiatan yang merepotkan itu terasa cepat seiring dengan pikirannya yang tak berada di tempat yang sama. Pembicaraan di dekat gerobak sayur itu membuatnya mempertanyakan soal distribusi bansos dan perilaku Pak RT. Ia menghibur diri dengan menyatakan bahwa lebih baik dapat sesuatu daripada tidak sama sekali.

Selesai memasak terung balado untuk makan siang dan malam, ia menuntun Fana ke luar rumah dengan sebelah tangannya menenteng keranjang pakaian. Matahari yang mulai terik membuatnya berjalan terburu-buru sambil menyerukan jasa setrika ke rumah para tetangga. Seorang pelanggan tetapnya muncul dari balik pintu rumah yang bersih dengan pagar putih dan rumput baru saja dipotong. Lewat sebuah lambaian tangan, Narti diundang masuk.

Ia tak tahu suami pelanggannya bekerja apa dan tak pernah bertanya juga. Baginya, itu adalah privasi yang tak boleh ia usik. Lagipula, ia datang untuk bekerja, bukan untuk mengenal lebih jauh pelanggan, kecuali kalau pelanggannya yang bercerita. Namun, kebanyakan menjaga jarak antara pelanggan dan pekerja.

Televisi menyala, pendingin ruangan terdengar suaranya, lampu di sebagian ruangan dibiarkan tetap terang. Narti menyetrika di ruang tengah dengan Fana mendampingi di sampingnya. Satu keranjang penuh Narti selesaikan selama sejam lebih. Ia meminta izin menggunakan toilet pada pemilik rumah. Sambil menunduk karena takut dikira kurang ajar melihat bagian-bagian rumah, Narti berjalan ke dapur yang menjadi tempat toilet. Ketika melintas, ia tak dapat menahan diri untuk mengamati karung beras yang tergeletak di dekat kompor.

Ketika selesai dari toilet, ia melintas ke titik yang sama. Rasa penasarannya tak bisa dibendung. Ia berjongkok dan membalikkan karung beras. Matanya dengan jelas bisa membaca tulisan ‘Bantuan Pangan’. Ia mengembalikan karung ke posisi semula dan beranjak ke ruang tengah.

Sehari itu, Narti cuma mendapatkan dua pelanggan. Uang yang didapatnya hanya cukup untuk sekali makan keluarga kecilnya. Itu pun dengan lauk berupa ayam yang salah satu bagian kecilnya harus dibagi dua. Biasanya akan disuguhkan untuknya sendiri dan Fajar. Fana harus mendapat porsi terbaik karena sedang dalam masa pertumbuhan dan menjaganya agak tak terjerat malnutrisi.

Sebelum malam, Narti menggoreng ayam hanya sepotong. Untuknya dan sang suami cukuplah memakan balado terung. Ia mengulek cabai hijau untuk merangsang selera makan dirinya dan Fajar agar menu sederhana itu tetap nikmat untuk dimakan.

Benar saja keduanya lahap makan malam di rumah. Fana menghabiskan ayam gorengnya tanpa sisa. Setelah sang anak tidur, Narti dan Fajar melangsungkan ritual mereka tiap malam di teras. Sang suami menyerahkan uang hasil bekerja seharian yang ternyata cukup banyak dan bisa dipakai sebagian untuk mencicil sewa kontrakan.

Sambil meminum kopi, Fajar menceritakan bahwa hari ini ia banyak mendapat orderan dengan jarak pendek. Dengan waktu menyelesaikan lebih cepat, ia bisa mengambil banyak orderan.

Lihat selengkapnya