Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #9

#9

Seperti Si Kancil yang selalu diburu predator, kehidupan keluarga kecil Fajar pun tak ada beda. Belum selesai perkara membayar kontrakan, mereka sudah dihadapkan pada persoalan sang anak yang akan segera masuk sekolah. Terlebih, tenggat waktunya adalah akhir pekan.

Rasa lelah tak lagi mengantarnya tidur cepat ketika jam menunjuk angka sembilan. Tubuhnya terbaring di kasur tapi pikirannya begitu kusut. Berulang kali ia membolak-balikkan tubuh, mencabut bantal dari belakang kepalanya, menatap langit-langit sampai menghitung biri-biri sebagaimana yang disarankan dari internet tapi matanya tak juga terpejam.

Ke meja makan ia beranjak. Segelas air putih diteguknya sambil duduk. Tatapannya kosong menghadap pintu dan jendela depan rumah. Pikirannya berkelana mencari cara mendapatkan penghasilan tambahan. Kekhusyukannya terurai ketika mendengar mesin motor Fajar mendekat. Ia ambil kunci yang digantung dengan bantuan paku di dinding tak jauh di dekat dinding kamarnya dan menggunakannya untuk membukakan pintu depan.

“Udah makan? Kalau belum, di meja makan ada tahu goreng sisa tadi pagi.”

“Udah tadi di jalan. Kamu kenapa belum tidur, Neng?” tanya Fajar setelah memasukkan motor ke ruang tamu dan mengunci pintu. “Nunggu jam dua belas biar aku berangkat terus kamu jaga lilin?” candanya. Ketika leluconnya tak mendarat sempurna, ia hampiri sang istri yang duduk lagi di sofa. “Kenapa?” Ia menggenggam tangan Narti.

“Gimana kalau Fana masuk SD harus bayar?” balasnya. Matanya nanar ke arah televisi yang tak menyala. “Tabungan kita téh pas-pasan pisan tinggal buat kebutuhan sehari-hari. Mana cukup buat bayar sekolah Fana?”

“Tenang. ‘Kan kita udah ngajuin biar enggak kena biaya masuk. Tinggal nunggu suratnya keluar.”

“Mana bisa tenang atuh, Kang?”

Fajar menyandarkan punggungnya ke sofa. Jaketnya masih terpasang. Wajahnya mendongak dengan helaan napas panjang dari mulutnya.

“Punten ya, Kang. Pulang-pulang malah diajak mikir gini.”

Sang suami menggenggam tangan Narti. “Enggak apa-apa atuh daripada kamu mikir sendiri, Neng.”

Tangan mereka terus bertaut meski tak ada yang keluar dari mulut mereka.

“Pesugihan waé kitu, Neng,” ujar Fajar memecah keheningan. “Kan sekarang lagi rame yang di gunung téa.

Pandangan Narti mengarah pada sang suami. “Pesugihan aja butuh modal, Kang. Kita mah buat beli tumbalnya aja enggak mampu.”

Mereka berdua terkekeh.

“Jual barang aja berarti.”

“Jual apa atuh, Kang? Emas kawin udah enggak ada.”

Mata Fajar memindai sekeliling. Tak ada barang antik yang ia temukan untuk dijual mahal. Kalau pun ada, barang-barang berharganya tinggal ponsel dan Mio tuanya. Melepas keduanya tak ubahnya lepas dari mulut harimau, jatuh ke dalam mulut buaya. Jari-jarinya mengetuk pegangan sofa. Punggungnya ia tegakkan. “Kalau ini gimana, Neng?”

“Apa?” tanya Narti yang kembali memandangi televisi mati di depannya.

“Sofa, TV,” balas Fajar. Ia berdiri dan mengamati barang-barang di rumah dengan teliti. “Meja makan. Teu sawios ‘kan, Neng?”

“Enggak apa-apa, Kang. Da gimana lagi? Darurat gini,” sahut Narti lesu. “Cuma gimana jualnya? Harus sewa mobil berarti.”

Telunjuk Fajar mengacung. Ia keluarkan ponsel dari sakunya. Kamera di ponselnya terbuka. Bergeraklah ia ke berbagai sudut untuk mengambil gambar meja makan dan sofa. Narti mengedit foto-foto itu dengan menambahkan pencahayaan supaya tampak jelas dan sedikit menarik. Fajar mengunggahnya ke akun Facebook miliknya. Seakan tak cukup, ia melakukannya juga ke beberapa grup jual beli. Tak lupa ia tambahkan keterangan mengenai alamatnya, pembeli boleh melihat-lihat secara langsung ke lokasi dan transaksi hanya bisa dilakukan secara langsung di tempat.

Kegiatan yang tampak sepele itu nyatanya memakan waktu selama berjam-jam. Narti sampai tertidur di sofa yang berukuran panjang. Fajar mengambilkan selimut dari kamar dan memasangkannya menutupi badan sang istri. Ia sendiri memilih bagian sofa yang kecil. Kakinya dinaikkan ke meja. Matanya mengatup dengan posisi tubuh sedang duduk.

Narti terperanjat setelah Fana menepuk-nepuk betisnya. Matanya masih terlalu berat untuk dibuka. “Jam berapa ini téh?”

“Jam tujuh, Ma. Mau keliling enggak?” ajak sang anak.

Seketika Narti bangun. Selimutnya ia sibak sampai jatuh ke lantai. Ia bergerak ke dapur dan menyalakan kompor. Satu butir telur ia pecahkan di atas panci.

Giliran Fajar yang dibangunkan oleh sang anak. “Mau kerja enggak, Pa?” tanya sang anak.

Sebelah mata Fajar terbuka. Begitu melihat hari sudah terang, ia segera duduk. Tangannya langsung mengambil ponsel yang terselip di belakang tubuhnya. Ada satu notifikasi masuk. Tertulis kalimat bahwa dua barang itu ditaksir dengan harga lima ratus ribu, setengah dari harga yang ditawarkan.

Tangan Fajar mengacak-acak rambut Fana. Ia menghampiri sang istri untuk memberi tahu pesan yang didapatnya.

“Harga segitu mah atuh kemurahan. Suruh ke sini aja dulu, Kang, calon pembelinya. Biar aku yang nego,” tegas Narti.

Jari-jari Fajar menari di atas layar ponselnya. Sebuah balasan sebagaimana ucapan sang istri, ia kirim. Calon pembeli itu merespons dengan pesan bahwa ia akan datang dalam waktu setengah jam karena kebetulan sedang berada di lokasi yang tak begitu jauh. Membayangkan Narti harus mengurusi perkara jual-beli sendirian, Fajar mengurungkan niat untuk bekerja.

Setengah jam mereka pakai untuk bersiap-siap. Selepas mandi, Fajar mengambil lap yang dipakai untuk membersihkan sofa dan meja makan sedangkan Narti memandikan Fana. Setelah sang anak didandani, ia memindahkan piring dan gelas ke dekat tempat cuci piring supaya tak ada satu pun barang di meja.

“Dilepas berapa, Kang, mentoknya?” tanya Narti yang baru saja berganti pakaian. Tak ada bedak yang dipoleskan ke wajahnya, pun lipstik ke mulutnya karena bujet untuk membeli kosmetik ia hilangkan.

“Berapa atuh, ya?” ujar Fajar yang duduk di kasur. Menjual sofa dan meja makan bukan perkara mudah baginya sebagaimana kedua barang tersebut merupakan hasil menabung dari uangnya dan sang istri. “Tujuh ratus lima puluh mah lepas wé, ya?”

“Iya atuh. Takutnya lama lagi biar bisa kejual.”

Terdengar ketukan pintu depan. Fajar dan Narti berhamburan keluar. Belum sempat sang suami membuka pintu, istrinya menghentikannya. “Urusan negosiasi mah sama perempuan.”

Pintu depan terbuka. Seorang pria berusia tiga puluhan muncul dari balik pintu. Tubuhnya sedikit gempal di balik kaus putih dan jins biru tua.Setelah mengucap salam sambil mengirim senyum ramah, ia bilang, “Boleh lihat barangnya?”

“Mangga,” Narti menanggapi. Tangan kanannya memanjang, mempersilakan masuk.

Fajar memanggil Fana untuk berpindah posisi bermain. Sang anak mengungsi ke kamar sambil membawa mainannya.

Calon pembeli itu masuk sambil kepalanya beranggut. Ia berjongkok di dekat sofa. Dilihatnya barang itu secara teliti. Telapak tangannya memegangi bagian yang bergaris lalu ia berpindah melihat bagian belakang. Setelah itu, ia mengangkatnya lalu mengintip bagian bawah. Setelah merasa puas, ia menurunkan dengan pelan dan beranjak ke meja makan.

Bagian pertama yang ia cek adalah kaki-kaki meja lalu ia mengangkat kursi dan menurunkannya. Selagi ia mengamati, Narti ke dapur untuk mengambilkan air puth dan menyimpannya di meja dekat sofa.

“Meja makannya mah bagus,” ucapnya setelah meminta izin menikmati suguhan air putih. “Cuma sofanya téh agak beda dari yang di foto. Aslinya mah kayak yang udah lama banget dipakainya.”

Fajar membuka mulut tapi Narti maju dan menanggapi, “Iya udah lama tapi masih bisa banget dipakai. Cuma enggak usah khawatir rusak soalnya kita téh cuma bertiga di sini.”

Calon pembeli itu mengangguk-angguk sambil mengusapi dagunya. “Mau dilepas berapa dua-duanya?”

“Sejuta. Kayak yang diposting di Facebook.”

Fajar berdiri mematung dengan dua tangannya menyilang di dada.

Lihat selengkapnya