Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #10

#10

Minimnya perabot memberikan kesan luas pada ruang tengah keluarga kecil Fajar. Di depan televisi terhampar karpet tipis yang beberapa bagiannya berlubang akibat terkena api rokok. Barang itu dibeli dari tukang loak di Tegalega ketika menyambut kedatangan keluarga dari Tasikmalaya untuk menengok Fana yang baru lahir. Ukurannya besar dan ketika dipasang, sebagiannya harus dilipat supaya muat di depan sofa. Kini, karpet itu lurus telentang tanpa terganjal apa pun.

“Ada hikmahnya lagi geuning, Neng, kita jual sofa sama meja makan téh?”

“Apa, Kang?” tanya Narti. Ia dan sang suami merebahkan tubuh mereka berdua di atas karpet. Tak jauh dari mereka, Fana bermain di lantai tak beralas dengan mainan berserakan.

“Rumah kita téh jadi minimalis. Lagi tren ‘kan konsep gini teh.”

“Bedanya punya kita didesain sama keadaan,” celoteh Narti yang memancing tawa kering mereka berdua.

Terik yang menyengat di luar rumah sedikit terobati oleh angin yang masuk dari pintu depan yang dibiarkan terbuka.

“Gimana, Kang, dari Pak RT barusan?”

“Berasnya mungkin aja dari bansos tapi aku belum bisa buktiin,” jawab Fajar yang sama-sama sedang menatapi langit-langit dengan Narti.

“Udahlah, Kang. Enggak usah ditelusuri lebih jauh. Ke kita juga enggak ada manfaatnya.”

Sang suami bangun lalu duduk. Tangannya memeluk paha. “Iya, Neng, kalau dipikir-pikir mah. Lagian tadi Pak RT ngebahas soal SKTM buat Fana. Katanya téh tinggal minta tanda tangan Pak Lurah yang mau datang ke Sukacinta lusa tapi…”

“Tapi kunaon, Kang?”

“Pak RT ngobrolnya kayak yang kesal soalnya aku sempat ngebahas soal beras.”

“Kata aku gé apa, Kang? Enggak usah sok-sokan,” ujar Narti. “Orang-orang kayak kita mah tugasnya cuma bertahan hidup, bukan urus soal begituan.”

Terdengar suara notifikasi dari ponsel Fajar yang disimpan di samping sang pemilik.

“Saha, Kang?”

“Pak RT.”

Narti langsung bangkit. Jantungnya berdegup lebih kencang, khawatir interaksi sang suami dan Pak RT tidak selesai saat itu juga. Kepalanya langsung merapat pada kepala sang suami. Pesan itu ternyata untuk grup WhatsApp RT yang berisi agar warga mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk lusa supaya mendapatkan penilaian yang bagus dari Pak Lurah.

“Aneh,” keluhnya pada Narti. “Grup téh adem-adem aja padahal Pak RT ngambil jatah beras warga.”

Kepala Narti menggeleng. “Warga mah dapat beras aja udah pada senang, Kang. Dianterin ke rumah lagi. Mereka enggak perlu repot-repot naik angkot ke kelurahan. Udah atuh, fokus ke Fana aja sekarang mah biar dia bisa sekolah tanpa bayar apa-apa.”

Fajar melempar ponselnya ke karpet. Ia berdiri dan mengambil jaket ojol yang digantungkan di pegangan pintu depan. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku, ia pamit pada Narti yang segera mencium tangan suaminya. Mereka berpisah dengan Fajar mengendarai Mio tuanya sedangkan Narti membawa Fana berkeliling.

Tak ada yang spesial selama dua hari mereka bekerja padahal Fajar sampai pulang tengah malam dan Narti tak berhenti berkeliling sampai azan magrib berkumandang. Pendapatan mereka berdua hanya bisa menyisakan tabungan selama dua puluh ribuan per hari setelah dipotong untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

“Tumben enggak buru-buru kerja,” buka Narti ketika hari H tiba. Ia melihat Fajar belum ke kamar mandi dan masih bercelana pendek dengan kedua tangannya memegangi sapu serta pengki.

“Kata Pak RT ‘kan kita harus siap-siap.”

“Jadi Akang udah lupain masalah sama Pak RT?”

Mulut Fajar tertahan sebelum menjawab, “Demi SKTM Fana.”

Angin sejuk menerpa tubuh Fajar ketika membuka pintu depan. Ia pindahkan sampah berupa bekas makanan kering, puntung rokok dan bekas tisu menggunakan sapunya ke pengki kemudian membuangnya ke tong sampah. Saking bersemangatnya, ia menyapu batu-batu kerikil di dekat jalan ke depan pagar rumahnya hingga membuat tanah bergaris-garis.

Ketika hari mulai terang, terlihat warga muncul ke depan rumah masing-masing untuk melakukan kegiatan serupa. Fajar melempar senyum pada mereka. Tak ada interupsi untuk mengobrol dengan mereka karena ia tak pernah melakukannya sejak pindah ke Sukacinta. Paling banter, ia hanya bertanya kabar lalu pamit pulang. Baginya, penting untuk menjaga jarak karena khawatir direpotkan oleh urusan-urusan macam meminjam uang atau dilibatkan menjadi panitia acara yang diselenggarakan di lingkungan sekitarnya.

Begitu teras dan halaman depan rumahnya sudah bersih, Fajar bergeser ke rumah Mami Menik. Sampah di bagian jalan masuk garasi ia sapu hingga tak bersisa satu pun. Lanjut ia menyapu bagian luar rumah pemilik kontrakannya itu. Bukannya ia ingin menjilat, melainkan tak tega kalau perempuan yang sudah lanjut usia itu punya tugas tambahan untuk bersih-bersih.

Di dalam, Narti sudah menyisir rambut Fana dan memakaikan wewangian pada sang anak. Segera ia duduk di atas karpet, ia bentangkan sajadah dan menjadikannya alas. Di sampingnya, Fana duduk dengan hanya mengenakan singlet dan celana dalam. Setrika dicolok ke listrik dan ia pakai maju-mundur untuk merapikan baju dan celana. Ada kemungkinan Pak Lurah akan bertemu Fana sehingga ia ingin si kecil tampil rapi sebagai bukti kelayakan sudah waktunya untuk bersekolah.

Pakaian yang sudah ia pilih untuk Fana adalah kaus merah dan celana putih sebagai cerminan dari bendera negara. Topi merah pun ia persiapkan dengan menyimpannya di samping tempatnya menyetrika. Ketika semua sudah rapi, ia memakaikannya pada sang anak. Ia tersenyum melihat anak yang telah ia rawat dari bayi dan kini mulai tumbuh tinggi. Wajah Fana sudah dibedaki dan Narti mengelus-elusnya agar tak tampak belepotan.

Selesai didandani, Fana mengambil keranjang berisi mainan. Di atas karpet, ia angkat mengangkatnya dan memuntahkan isinya. Fajar masuk dan menghampiri si kecil. Ia ciumi rambut dan pundak sang anak yang menguarkan wangi khas menyejukkan.

“Pa, enakan kayak gini geuning rumah téh,” Fana berceloteh. “Mainan jadi enggak pada masuk kolong sofa.”

Lihat selengkapnya