Ke balik gorden jendela yang berdebu, Narti melompat secepat kilat begitu mendengar suara sayup ibu-ibu. Ia mengintip dengan khusyuk sampai mereka lenyap dari jarak pandangnya yang terbatas. Toko kelontong Pak RT yang tutup pun tak lepas dari pengamatannya padahal masih buka saat ia dan Fana pulang.
Di sisa harinya yang masih panjang, tak banyak aktivitas yang ia kerjakan selain menemani Fana bermain di karpet yang penuh dengan mainan, menyuapinya makan siang dan memastikan pintu depan tertutup rapat.
Meski sedikit gelap, ia menolak menyalakan lampu supaya tak ada yang mengiranya berada di rumah. Setiap kali ada ramai di luar, ia akan memantau dari dalam. Sebagai bentuk totalitas, ponselnya dimatikan. Berkali-kali ia menatap jam yang jarum-jarumnya terasa bergerak lebih lambat, menanti suaminya pulang lebih cepat.
Terpikir olehnya untuk mengecek sosial media. Tangannya serta-merta mengambil ponsel lalu mencari akun resmi kelurahan. Tak ada unggahan cerita soal hari ini padahal ada postingan sebelumnya yang menjelaskan bahwa Pak Lurah akan berkunjung ke Sukacinta. Di kolom komentar pun tak ada apa-apa.
Musim kemarau yang menghantarkan panas tak membuat Narti berubah pikiran. Alhasil, ia tak henti-hentinya mengibaskan tangan ke lehernya. Ketika tak cukup banyak angin untuk menyejukkan tubuhnya, ia mengganti tangannya dengan buku gambar Fana. Sang anak diizinkan untuk melepas pakaian dan hanya menyisakan singlet ketika bermain.
“Kenapa kita téh gelap-gelapan gini, Ma?” tanya Fana ketika hari mulai teduh dan sinar matahari yang menyelinap masuk dari celah gorden tak lagi memberi pencahayaan yang cukup.
Narti tak ingin memberi jawaban yang sebenarnya. Ia menanggapi dengan, “Buat merangin pemanasan global. Makin dikit pakai listrik, makin kita berkontribusi biar bumi enggak makin panas.”
Fana mengangguk-anggukkan kepala memahami istilah pemanasan global yang baru didengarnya. Keasyikannya bermain terusik oleh kenyataan bahwa mainan-mainannya hanya terlihat dalam bentuk bayangan. Ia melayangkan protes dan Narti menyerah dalam mempertahankan pendiriannya.
Tak lama setelah lampu-lampu menyala di rumah, terdengar suara pagar yang digeser. Narti mendekati bagian jendela depan sebelah kanan agar tak terlihat lurus oleh siapa pun yang datang. Matanya mengintip dan mendapati sesosok orang yang tak asing lagi baginya. Dengan pelan, ia geser gordennya ke posisi semula agar gerakannya tak tampak dari luar.
Telunjuknya ia tempatkan pada bibir ketika Fana menengok. Segera setelah itu, terdengar suara salam dan pintu depan yang diketuk. Gerakan tubuh Narti lebih pelan. Ia menarik lengan Fana untuk masuk ke kamar. Di ruang tengah, Narti mondar-mandir sendirian. Suara salam dan ketukan makin nyaring. Merasa tak punya pilihan lain, ia membukanya dan memasang wajahnya di celah pintu.
“Kenging lebet?”
“Boleh atuh, Bu,” ujar Narti. Ia buka pintu lebar-lebar sambil mengintip ke luar. Tak ada sesiapa.
Perempuan yang usianya tak muda itu duduk sedangkan Narti mengambilkan segelas air putih ke hadapannya. Raut perempuan itu tenang. Tak tergesa ia bicara dan satu-satunya suara yang tersiar adalah bunyi gemerincing dari beberapa gelang yang dipasang di pergelangan tangannya.
Tak ada niatan Narti untuk membuka percakapan. Perasaannya diselimuti oleh kekhawatiran dan ketakutan salah berucap mengulangi perbuatan Fana. Ia hanya bisa menunduk dan sesekali mengangkat wajahnya meski menghindari saling bertatapan.
“Baru pulang, ya? Soalnya lampunya baru kelihatan nyala,” buka Bu RT.
“Iya, Bu. Tadi keliling dulu. Biasa nyari yang mau nyetrika.”
“Oh gitu. Geuning enggak kelihatan keluarnya? Mungkin siang ya pas toko ditutup.”
Narti cuma bisa memalingkan wajahnya ke arah selain Bu RT.
“Soal tadi,” ucap Bu RT, “Ada yang mau kamu bilang, Neng?”
Rahang Narti menegang. Di satu sisi, ia tak mau meminta maaf karena Fana hanya menjawab jujur dan mengungkap sesuatu yang tak seorang pun dari Sukacinta berani lakukan. Di sisi lain, ia masih menyimpan harapan tipis sang anak akan dapat SKTM supaya tak mengeluarkan biaya untuk sekolah. Tak lama sampai ia mengambil keputusan dan berkata, “Punten, Bu. Saya minta maaf atas kelakuan Fana tadi.”
“Ibu juga ngerti, Neng, Fana itu anak-anak tapi Ibu enggak mau nerima begitu saja,” Bu RT menanggapi.
Ada jeda cukup panjang yang membuat mereka saling mengunci mata. Narti menunggu penjelasan lebih lanjut sambil meremas-remas jari tangannya.
“Ditampi, Neng,” lanjut Bu RT. Ia meneguk sepertiga gelas air putih dari gelas. “Biar rada tenang.”
Mata Narti mengedip tapi tak langsung dibuka, menahan ketegangan.
“Ibu curiga kalau tindakan anak Neng itu direncanakan,” kata Bu RT. Ia angkat telunjuknya lalu berkata, “Sebelum dibantah, biar Ibu jelasin. Anak-anak itu menyerap apa yang dia lihat dan dengar. Jadi, ada kemungkinan kalian di sini sering bahas hal-hal yang enggak seharusnya didengar anak-anak.”
Wajah Narti ditekuk turun. Mulutnya yang ingin merapalkan umpatan dikunci rapat. Masalahnya sudah pelik dan beberapa kalimat bisa membuat keadaan makin runyam.
“Ada banyak kenakalan anak tapi enggak ada yang kayak Fana. Ibu percaya dia anak pintar tapi dengan perilaku kayak tadi, mau jadi apa dia? Pemberontak?”
“Kebetulan saya belum pikirin soal itu, Bu. Kang Fajar juga,” sanggah Narti dengan nada meledek. “Kami cuma pengin Fana bisa sekolah dan kerja waktu dia udah dewasa. Cuma sepertinya bukan jadi pemberontak. Nasib pemberontak biasanya enggak bagus dari sepengetahuan kami mah.”
“Sayang banget,” Bu RT merespons. “Orang-orang tua lain berharap anaknya jadi dokter atau astronot.”
“Kami bukan tipe orang tua yang pikirin rencana jangka panjang. Jangka pendek saja banyak yang meleset. Jadi, kami mah mengalir saja.”
“Pantas saja Fana jadi begitu,” ledek Bu RT. Mulut kirinya terangkat lebih tinggi dibandingkan sisi lainnya. “Sukacinta ini dari dulu dikenal damai dan nyaris enggak ada masalah. Cuma sekalinya ada masalah malah seperti sekarang. Dan penyebabnya itu dari keluarga yang justru datang dari pendatang yang kami anggap baik-baik seperti Neng gini. Ingat atuh, jangan sampai kayak pagar makan tanaman.”
Tak tahan dengan perlakuan Bu RT, Narti dengan tegas bertutur, “Jadi maksud kedatangan Bu RT ini apa?”
“Warga khawatir keberadaan kalian téh bakalan bikin kacau di Sukacinta. Ibu harap kalian enggak bikin masalah lain karena yang sekarang saja belum ditemuin jalan keluarnya. Ibu mau pastiin kalau kalian bersedia bantu seandainya dibutuhkan buat beresin masalah ini. Neng tahu sendiri, ini bukan soal jabatan RT tapi juga soal anak Neng. Tolong pikir panjang sesekali mah.”
SKTM, bisik Narti dalam hati. Demi sang anak, ia mengangguk. “Kami siap, Bu. Apa yang dibutuhin, kami pasti bantu.”
Bu RT menepuk pahanya lalu berdiri dengan sedikit tergopoh menahan lututnya yang tak lagi bugar. “Baik kalau gitu mah. Ibu permisi dulu.”
Ketika Bu RT mengenakan sandal, Narti tak sanggup menahan rasa penasarannya untuk bertanya. “SKTM Fana berarti belum selesai, Bu?”
“Setahu saya, belum. Tadi Pak Lurah batal datang ke rumah gara-gara ada heboh di Posyandu. Mudah-mudahan aja dalam beberapa hari ini bisa ditemui dan tanda tangani suratnya.”
“Tapi Bu,” tanggap Narti dengan nada memohon. “Sabtu ini harus sudah ada. Kami mau daftarin Fana ke SD Sukacinta. Kalau terlambat, dia enggak bisa masuk sekolah.”