Ada sesuatu yang tercerabut ketika Kamis subuh memaksa datang. Meski bangun kesiangan, Fajar dan Narti menjalani aktivitas pagi seperti biasa dengan memasak dan bersih-bersih rumah. Semua lampu dibiarkan menyala padahal jam menunjuk angka tujuh. Pintu depan rumah yang biasanya dibuka untuk mengundang angin, kini masih tertutup dengan selotnya terpasang. Gorden yang lazimnya sudah disibak, kini masih dibiarkan terbentang menghalangi pemandangan ke luar rumah.
Narti bersikeras melakukannya meski sempat ditentang Fajar. Tak ada alasan spesifik dan dituruti begitu saja. Adu argumen di pagi hari tak pernah ada dalam menu sarapan mereka. Jadilah sang suami menghangatkan Mio tuanya dengan menyimpan tubuhnya di balik gorden. Sesekali ia mengintip melalui celah kain ke luar, memastikan tak ada yang mengambil barang yang dijadikannya andalan untuk mencari sumber penghidupan.
“Tumben belum pada dibuka.” Protes itu keluar dari mulut Fana begitu selesai mandi. Ia duduk di karpet memandangi gerak-gerik ayahnya sementara ibunya sedang mengambilkan sarapan.
“Sebentar lagi dibuka kok,” Narti menjawab. Tangan kanannya mengayunkan sendok berisikan nasi dan potongan telur dadar dari piring. Sebelumnya, ia sudah makan dengan Fajar. Hanya saja, telur dadar untuk mereka berdua begitu tipis. “Nunggu terang dulu.”
“Kata Mama ada pemanasan global. Jadi, kita harus ngehemat listrik.”
Fajar mengikik mendengar sang istri terkena senjata makan tuan. Ia buka lebar-lebar gorden dan pintu. Hangat pagi merayap masuk ke dalam rumah. “Enggak akan ada apa-apa, Neng. Tenang aja.” Ia tak buru-buru masuk, melainkan menatap ke seberang. Ke toko kelontong Pak RT yang masih tutup. Pasti masih mengantar Bu RT olahraga, pikirnya.
Merasa terlambat untuk memulai hari, Fajar segera pamitan pada istri dan anaknya. Pagar rumah diangkat supaya bergeser dan memberinya cukup ruang untuk keluar bersama motornya. Ketika berbelok, ia berpapasan dengan tukang sayur. Mereka saling mengangguk, gestur saling menghormati pada keberadaan satu sama lain.
Narti menahan diri untuk masuk melihat gerobak tukang sayur berhenti di antara rumahnya dan Mami Menik. Fana ia izinkan untuk bermain sebentar sebelum mengantarnya berkeliling. Kakinya maju beberapa langkah. Wajahnya celingukan ke kiri-kanan, memastikan belum ada orang lain yang keluar rumah. Harus belanja cepat, gumamnya. Ia hampiri gerobak. Matanya memindai bahan-bahan untuk makan selama dua hari ke depan. Satu plastik berisi bahan masakan sayur lodeh diambilnya. Di tengah kesibukannya berpikir, tukang sayur memekik suara menandakan kehadirannya di Sukacinta. Sial, gerutunya dalam hati.
Tiga ibu-ibu yang biasa Narti jumpai berdatangan dan mengerubungi gerobak sayur. Ia tersenyum. Mereka melengkungkan mulut tapi wajah mereka terasa dingin, tak seperti biasa. Tak ada obrolan panjang lebar, melainkan kalimat-kalimat singkat. Itu pun dengan volume rendah yang tak sampai dengan jelas ke telinga Narti. Merasa canggung yang akbar, ia mengambil bayam, tahu dan tempe asal-asalan lalu meminta tukang sayur menghitung belanjaannya.
Malangnya, tukang sayur itu belum punya kembalian karena baru saja berdagang. Ia bertanya satu per satu pada ibu-ibu untuk menukarkan uang tapi uang mereka ditinggalkan di rumah dan baru dibawa ketika jumlah belanjaan mereka sudah pasti. Pada Narti, ia meminta izin mencari warung sebentar.
Sambil menunggu, Narti berkali-kali buang muka dengan berpura-pura melihat-lihat barang-barang di gerobak. Sesekali ia arahkan tatapannya pada ibu-ibu di dekatnya. Dua dari mereka balik mengamati menggunakan ujung mata. Satu lagi berpaling setiap beradu tatapan dengan Narti.
“Punten, Ibu-ibu,” ucapnya setengah bergetar. “Saya duluan masuk. Mau ngurusin Fana,” dalihnya yang tak mendapat respons apa pun. Ia masukkan barang belanjaannya ke kantung plastik sendiri dan beringsut ke dalam rumah. Dari jendela, ia mengintip ke luar, menunggu tukang sayur kembali. Begitu terlihat, ia bergerak cepat menyelanya supaya tak perlu dekat-dekat ke gerobak, mengambil kembaliannya dan masuk ke rumah.
Barang belanjaan dibawanya ke dapur dan ia keluarkan satu per satu. Ke kamar ia beranjak. Di depan cermin, ia menyisir lalu mengganti pakaiannya dengan seragam khasnya: kaus dan celana panjang. Ada dorongan dalam hatinya untuk tak berkeliling hari ini mengingat kejadian hari kemarin yang masih berbekas di kepala warga Sukacinta. Namun, kebutuhan hidup memaksanya. Lagipula, beberapa pelanggannya berjarak cukup jauh dari rumah dan mungkin saja tak memberi reaksi yang sama dengan ibu-ibu yang dijumpainya di gerobak sayur.
Di atas Mio tuanya, Fajar memiliki jarak pandang yang cukup jauh mengingat kondisi lalu lintas yang tak padat. Di sebuah gang sebelum ia bisa berbelok ke Jalan Sudirman, ia melihat bayangan seorang pria. Tangan kanan pria itu melambai-lambaikan tangan. Lewat kaca spion, Fajar melihat ke belakang tapi tak tampak ada yang menanggapi. Tuas gasnya ia lemahkan. Motornya berjalan pelan. Jarak dengan pria di gang makin dekat. Semakin jelas pula, lambaian tangan tersebut. Fajar mengarahkan telunjuk ke dadanya sendiri dan dibalas oleh anggukkan kepala pria tersebut yang wajahnya sedikit tak jelas karena tertutupi bayangan dari topi yang dipakainya.
Belum sempat motor berhenti, pria itu masuk ke dalam gang. Mungkin itu pesanan di luar aplikasi, pikir Fajar. Ia belokkan kendaraan roda duanya membuntuti. Pria itu makin dalam menenggelamkan diri ke dalam gang yang berkelok. Ruang untuk motor makin menyempit dengan rumah di kiri-kanan begitu rapat bercokol. Hal itu yang menyebabkan Fajar kesulitan mengimbangi kecepatan pria yang diikutinya. Ia menjaga jarak supaya tetap bisa mengekor hingga pria itu berhenti di sebuah ruang kosong. Di kiri-kanan ada tembok-tembok yang tak sempurna bentuknya yang dengan mudah bisa ditebak bahwa dulunya adalah rumah.
“Mana penumpangnya, Kang?” tanya Fajar heran. Mesin motornya dimatikan. Akun ojolnya dinonaktifkan.
Pria itu merapatkan tubuhnya setelah celingukan ke sekeliling. Dengan suara berbisik, ia menjawab, “Teu aya penumpang, Kang.”
Fajar menyipitkan mata. Dua tangannya turun dari setang.
“Soal kemarin,” ucap pria itu. “Itu téh perkara serius.”
“Kemarin téh Bu RT datang ke rumah da. Udah selesai masalah itu mah.”
“Salah kalau ngira itu selesai gitu aja mah, Kang,” bantah pria itu. “Dari saya pindah ke Sukacinta, baru sekarang ada masalah sebesar ini.”
“Kemarin lusa téh cuma anak kecil yang keceplosan ngomong,” debat Fajar. “Terus mau apa? Bikin seminar cara orang tua ngedidik anak?”
Alis pria itu terangkat tinggi.
“Kalau bukan mau pesan ojol mah, saya permisi aja, Kang,” ucap Fajar. Setelah menyalakan mesin motor, dua tangannya memegangi setang, bersiap pergi.
Pria itu menempatkan tangan kanannya di pundak Fajar. “Saya belum selesai.”
“Terus apa lagi?”
Sebelum melontarkan jawaban, terdengar suara langkah mendekat. Pria itu seketika mengambil helm yang dikaitkan di celah antara jok dan setang lalu memakainya. Tubuhnya melompat ke atas motor. Tangannya menepuk pinggang Fajar. “Jalan, Kang. Kita enggak boleh kelihatan berdua di sini.”
Fajar menarik tuas gas. Selesai memutar motor, ia melihat pria lain berjalan ke arahnya. Fajar tersenyum dan dibalas gestur serupa meski canggung. Motornya berjalan pelan meliuk-liuk melewati deretan rumah. Setiap belokan, ia harus berhenti untuk memastikan tak ada kendaraan lain dari arah berlawanan. Begitu sampai jalanan, ia memacu kuda besinya. “Mau ke mana?” tanyanya.
Pria di belakangnya tak menjawab. Dilihat dari spion pun, ia cuma menyilangkan tangan. Duduknya nyaris di ujung jok seolah tak ingin berdekatan.
Bisa saja ia berhenti dan menurunkan penumpang asing di pinggir jalan pada saat itu juga. Namun, Fajar merasa pria itu tahu infomasi yang tak sampai ke telinganya. Ia arahkan wajahnya ke samping supaya suaranya tak tergerus oleh embusan angin. “Mau bilang apa?” pancingnya.
Lagi-lagi tak ada tanggapan. Merasa kesal, ia pacu Mio tuanya kencang-kencang. Ia menyelip ke celah antara kendaraan satu dan kendaraan lain. Motornya berbelok ke Kiara Artha dan mengerem mendadak. Tak jauh dari mereka terdapat taman dengan air mancur di bagian tengahnya. Beberapa orang duduk-duduk mengisi bangku taman. Sebagian lagi terlihat berlari di jalanan yang teduh dan lengah. “Turun!” perintahnya tegas.
Penumpangnya beranjak dari motor. Helm di kepalanya dilepas dan diberikan pada Fajar.