Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #13

#13

Awan mendung bergulung-gulung menyelimuti rumah keluarga kecil Fajar. Saking kelamnya, mereka bergerak otomatis tanpa berbicara satu sama lain setelah terbangunkan oleh alarm alami tubuh. Denting panci dan susuk dari tangan Narti mengisi ruangan sedangkan Fajar berkeliling rumah dengan menyekakan sapu ke lantai. 

Kamar mandi dipakai bergantian dengan sang suami mendapat giliran terlebih dahulu karena menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, lalu disusul istrinya. Ruang yang sama dipakai Fajar untuk memandikan Fana setelah meminta istrinya untuk bersiap-siap. Tak ada penjelasan untuk keperluan apa dan permintaan itu dituruti tanpa ada keberatan.

Ketika selesai dengan urusan masing-masing, ketiganya duduk di meja makan dengan kepulan nasi dan telur orak-arik. Sayangnya, nafsu makan suami-istri itu tak ikut hadir, tertinggal di dalam kepala masing-masing yang berkabut masalah. Gemerincing dari sendok yang menyentuh piring menjadi penghangat meja makan. Si kecil mengunyah makanan dari suapan Narti dengan tempo lambat. Kesempatan itu dipakai sang ibu untuk melamun. Suaminya pun kosong menatap meja meski mulutnya bekerja mencerna makanan.

“Sama aku wé,” desak Narti yang menghentikan Fajar ketika berdiri menggenggam piring-piring kotor. Ia bergerak ke tempat cuci. Menggosok bekas makan dengan sabun. Matanya nanar walau ikut menemani kedua tangannya bekerja.

“Perginya lebih pagi ya, Neng,” pinta Fajar. “Mumpung enggak perlu belanja ke tukang sayur.”

“Biar kayak hamster yang lari di roda putar?” balas Narti. Ia kibas-kibaskan tangannya yang basah lalu mengambil lap untuk mengeringkannya. “Kemarin aja enggak dapat satu pun kerjaan. Untung ada yang ngasih.” 

Ia menatap Fana yang sudah memakai kemeja garis-garis dan jins biru tua. Rautnya penuh harapan yang mungkin akan hancur tak lama lagi. “Main aja dulu. Enggak apa-apa kok,” saran sang ibu yang disambut semangat sang anak. Pada suaminya, Narti berbisik, “Giliran Akang yang ngasih tahu kalau dia enggak bisa sekolah tahun ini.”

Sebagai kepala keluarga, Fajar merespons dengan mendekati Fana yang tengah duduk di karpet. Ia elusi rambut sang anak lalu bilang, “Daftar sekolahnya enggak jadi hari ini. Nanti dikasih tahu lagi cenah.”

Fana menatap ayahnya dengan ujung mata. Mainan di tangannya ia hantam-hantamkan ke karpet.

“Jangan salahin Papa. Da bukan keputusan Papa ini mah. Yang sabar ya, Bageur,” hibur Fajar yang dalam sekejap pun dapat disimpulkan gagal mengingat mainan-mainan yang tercecer di karpet mulai dilempar-lempar oleh anaknya.

Merasa usahanya sia-sia, sang ayah berdiri menghampiri istrinya. “Bawa Fana ke luar. Beli es krim atau makan enak,” perintahnya. Isi sakunya dikeluarkan dan diserahkan semuanya.

“Tapi Akang enggak bilang yang sebenarnya sama Fana,” protes Narti. Telapak tangan kanannya penuh oleh lembaran uang kusut.

“Fana masih kecil. Belum waktunya siap nerima kenyataan,” Fajar beralasan.

“Kita juga udah enggak muda tapi sama aja enggak siap.”

Dahi Fajar mengerut. Seolah tak ingin permintaannya diabaikan, ia mengingatkannya lagi, “Jam enam. Ke mana wé terserah kamu, Neng..”

“Mau ke mana sepagi itu, Kang? Emang enggak bakalan jalan sampai uang bensinnya dikasih aku semua?”

Kepala Fajar menggeleng. “Pokoknya jam enam. Hibur Fana biar enggak sedih.”

Sepanjang usia pernikahan, jarang sang suami mengajukan permintaan dengan wajah dan nada seserius itu. Narti merasa ada sesuatu yang disembunyikan tapi Fajar bukanlah orang yang mengumbar rencana, melainkan akan membicarakannya setelah melaksanakannya. Terlepas itu berhasil atau tidak. 

Fajar membuka pintu depan dan mengeluarkan Mio tuanya. Saat motor hendak berbelok, terdengar suara benturan cukup kencang tapi bunyi itu bukanlah yang biasa terdengar, melainkan seperti dentuman benda tumpul yang berat. Ia menatap sang istri yang mendelik, mendorong motornya cepat-cepat dan menghangatkan mesinnya.

Narti menghampiri Fajar yang tengah memakai jaket di belakang pintu depan. Seakan ingin menegaskan tak akan menarik penumpang, jaket itu bukanlah berwarna hitam dan hijau seperti biasa. “Jadi,” kata Narti dengan suara pelan, tak ingin percakapan sampai ke telinga anaknya, “kita nyerah aja?”

“Enggak ada cara lain, Neng,” jawab Fajar. “Jangan sedih. Kita udah coba segala cara.” Ia genggam tangan perempuan yang selama sembilan tahun sudah menemaninya melalui pasang surut kehidupan. Jarinya ia pakai untuk menyeka air mata sang istri yang berair. “Bukan salah kita ini mah.” Kepalanya berbalik, menatap ke seberang. “Harus ada yang bayar buat semua ini.”

“Siapa? Enggak ada yang berutang sama kita, Kang. Orang kita enggak punya apa-apa,” tutur Narti mengatur diri supaya cara bicaranya tak terisak.

“Maksudnya, bukan secara hafiah.”

Jarak antara Narti dan Fajar makin merapat. “Jangan macam-macam, Kang,” perintah Narti dengan mata membelalak yang berbinar.

Lihat selengkapnya