Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #14

#14

Di Sabtu pagi yang cerah, Fajar dan Narti duduk berdampingan. Tak jauh dari mereka, tergeletak sebuah tas hitam yang seluruh bagiannya menonjol. Fana melompat-lompat dan berguling-guling di atas hamparan rumput sintetis. Mereka akhirnya menjadi bagian dari warga yang bisa menikmati pagi di Kota Kembang, bukan terjun bertarung melawan nasib sejak subuh. Lalu lintas yang penuh dengan raungan mesin kendaraan dan polusi dari asap tak cukup merenggut kebahagiaan mereka. Setidaknya, untuk sementara.

Senyuman seakan-akan tak pernah hengkang dari wajah Fajar. Sebagian rambutnya masih basah. Wajahnya menengadah menyerap sejuknya angin yang menerpa seluruh tubuhnya yang kurang dari sejam lalu berkeringat dan jantungnya bergemuruh kencang. Ia merebahkan diri di atas rumput dengan kedua tangan menopang kepalanya. Sebelum benar-benar rileks, ia masukkan tangan kanan ke saku, memastikan isinya tak berhamburan.

“Apa itu téh isinya?” tanya Narti. Rasa penasaran tak bisa lagi diredamnya. Tangannya menunjuk tas yang baru dilepaskan dari dada Fajar di alun-alun yang menjadi tempat mereka menghabiskan waktu.

Sang suami menggeser tas ke depan istrinya. “Buka aja.”

Pilihan pertama Narti jatuh pada ritsleting kompartemen paling luas. Ia membukanya perlahan-lahan. Kedua bagian yang terbuka, ia tarik ke arah berlawanan agar semakin menganga. Satu per satu ia pegangi dari mulai empat bungkus cokelat berhadiah mainan kesukaan Fana, dua botol kecap, dua kaleng sarden, lima bungkus mi goreng sampai dua botol isi ulang sabun berukuran besar. “Pasti dari toko kelontong Pak RT.”

Fajar menatap istrinya dan mengangguk.

Narti menutup ritsleting dan mendorong tas itu. “Itu namanya nyuri.”

“Bukan,” balas Fajar tenang. “Praktik keadilan sosial.”

Wajah Narti lurus ke depan tapi dahinya berkerut diiringi dengan alis merapat satu sama lain. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Tangannya melingkari lutut yang dipeluknya. Pikirannya diselimuti oleh kekhawatiran ada konsekuensi yang menunggu atas tindakan suaminya.

Tangan kanan Fajar mengelusi punggung istrinya. “Satu per satu janji aku bakalan ditepati,” tuturnya. “Hidup kita bakal berubah.”

“Jangan ketinggian kalau ngomong téh, Kang.”

“Tenang atuh da ini mah beneran.” Fajar mengangkat punggungnya hingga duduk. “Ini mah bukan janji politisi.”

Narti melirik ke samping dan mengatupkan telunjuk ke mulutnya sendiri sambil terkekeh. Fana menghampiri mereka lalu merengek meminta dibelikan balon. Ibunya menggeleng dan menjelaskan bahwa ia hanya bermain, bukan beli ini-itu.

“Pasihan wé, Neng,” kata Fajar meminta Narti mengabulkan permintaan anak mereka. “Hari ini mah buat Fana.” Lewat lambaian tangan, ia mengundang datang pedagang balon. Satu balon berwarna merah dibeli dengan menggunakan uang dari tas Narti. Fana memegangi talinya dan kembali berlarian di tengah lapangan.

Seolah ingin menebus waktu bekerja yang menyita kebersamaan dengan anaknya, Fajar bangkit dan berlari ke arah Fana. Mereka berdua kejar-kejaran. Tangan panjang dan ramping Fajar dengan mudah menangkap sang anak. Ia memeluknya lalu mereka berdua berguling di rumput sambil tertawa. Dari kejauhan, Narti mengamati. Namun tangannya menolak untuk diam. Ia meraba bagian depan tas. Terasa ada tumpukan di sana. Entah apa.

Tindakan diam-diam Narti terhenti ketika Fajar menghampirinya. Sang suami menarik tangannya untuk ikut bermain tapi Narti menggelengkan kepala menolak. Berhubung merasa tak bisa mengimbangi energi sang anak, Fajar duduk lagi di sisi Narti. Mereka tak berbicara melainkan memperhatikan kebahagiaan Fana yang begitu jarang mereka dapati.

Puncaknya adalah saat Fajar memanggil sang anak. Setelah duduk, Fana diminta untuk menutup mata. Sang ayah mengambil cokelat berhadiah mainan dari tas dan menempatkannya di pangkuan si kecil. Tanpa diminta, Fana membuka mata dan seketika berdiri dengan tangan memegangi cokelat. Pada ibunya, ia minta makanan itu dibukakan selagi ia berpelukan dengan sang ayah dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

Ketika terik mengusik kebahagiaan, mereka beranjak dari alun-alun. Di atas Mio tua, mereka berkendara di jalanan. Alih-alih menuju timur, Fajar menjalankan motornya ke wilayah tengah kota. Ketika ditanya sang istri hendak ke mana, Fajar berpura-pura tak mendengar. Motornya melewati Jalan Lengkong Besar yang rindang, Jalan Cikawao dengan ruko di kiri-kanan, Jalan Sadakeling dengan tempat kuliner nyaris sepanjang jalan untuk menuju Jalan Lodaya.

“Kita makan bakso enak, Neng,” ucap Fajar yang melirik istrinya di belakang sedangkan Fana berdiri di sela antara jok dan dasbor ketika mereka berhenti di depan toko bertuliskan Mie Bakso Akung. “Kayak janji aku waktu itu.”

Saat Fajar masuk ke dalam kedai dengan tegap, Narti berjalan tak tentu dengan berhenti di setiap dua atau tiga langkah. Fana dibiarkan berlari di depan mereka. Barisan meja dengan kotak tisu, botol-botol saus, cuka, kerupuk serta sambal nyaris terisi semua. Fana meliuk melewati tubuh pengunjung-pengunjung lain dan melompat ke atas kursi tepat di tengah ruangan. Tampak sepasang suami-istri berbalik badan akibat sudut yang mereka incar sudah ditempati.

“Kamu yang nyuruh?” tanya Narti. Ia duduk di seberang Fajar dan di sebelahnya ada Fana.

Alis Fajar terangkat dengan senyum licik di wajahnya. Tas hitam disimpan di kursi sampingnya.

“Itu namanya eksploitasi anak.”

“Bukan, Neng,” Fajar beragumen. “Orang dewasa waras mah enggak akan berani ngedebat anak kecil. Itu namanya manfaatin yang kita punya. Tenang atuh. Dari tadi kamu tegang waé.”

Sang istri tak menjawab. Menu di meja diabaikannya. Fajar yang memesan pada pegawai. Dua porsi mi bakso yamin manis untuknya dan Narti serta setengah porsi untuk si kecil. Ketika pesanan ditulis, mata Narti membelalak pada sang suami.

Ia genggam tangan Narti dan memajukan kepalanya untuk bilang, “Pakai uang yang di kamu dulu, Neng. Enggak usah takut. Kita aman.”

Terlalu banyak pertanyaan dalam kepala Narti yang tak bisa ia utarakan sebagaimana berada di tempat umum. Waktu luangnya dipakai untuk melamun berbagai kemungkinan terburuk. Fajar mempersilakan Fana untuk memakan kerupuk di meja. Di tengah suara renyah kerupuk yang digigit, Fajar berulang kali mengeluarkan dan memasukkan ponsel yang berbunyi ke dalam sakunya.

Saat pesanan tiba di meja, Fajar dan Fana langsung menyantap makanan. Perut Narti perlu diisi tapi dengan beban dalam pikiran, ia pelan mengayunkan sendok ke mulutnya. Selesai makan, Fajar mempersilakan Fana memesan es teh manis dalam botol.

“Makasih ya, Pa,” ujar Fana sebelum lanjut memasukkan sedotan ke mulutnya dan meneguk es teh manis kuat-kuat. Ketika sedotan itu lepas, ia berkata, “Sering-sering ya, Pa, kayak gini.”

Lihat selengkapnya