Tanaman Makan Pagar

Diatri Kusumah
Chapter #15

#15

“Berhenti!” jerit sebuah suara dari luar mengoyak Sabtu siang yang kering oleh terik matahari.

Fajar membuka satu per satu matanya. Kepalan tangan pria gondrong di depannya berhenti di udara. Tangan itu perlahan turun diikuti dengan tatapannya yang beralih dari Fajar. Kepalanya mengangguk ke samping. Wajahnya menunduk lalu keduanya rapi menyilang ke bawah perutnya. Tampak Mami Menik berdiri di dinding batas rumah dengan mata membelalak di balik kacamatanya.

Dengan langkah terseok-seok, ia berjalan ke luar. Khawatir terjatuh, ia berpegangan pada dinding saat menyusuri pinggir jalan menuju rumah yang ia sewakan. Belum sampai kakinya di pagar, para tamu yang tak diundang saling bertatapan dan berbisik. Namun, mereka seolah terpatri di tempat mereka berdiri.

“Kunaon didarieu kénéh?” bentaknya dengan suara tersengal menanyakan kenapa mereka masih saja berada di tempat yang sama.

Mereka berlomba turun dari teras meninggalkan pria gondrong. Masing-masing membungkuk, menciumi tangan Mami Menik lalu berhamburan ke luar, meninggalkan si pria gondrong. Merasa nyalinya ciut, ia menghampiri Mami Menik dan mencoba meniru perilaku rekan-rekannya tapi perempuan tua itu menarik mundur tangannya.

“Zaman geus maju masih kénéh waé kalakuan téh jiga préman!” hardiknya pada si pria gondrong yang masih menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Tangannya menepuk pundak pria itu yang masih membungkuk. Seketika, ia tunggang-langgang meninggalkan Mami Menik.

Fajar menghampiri dan menuntun tangan Mami Menik hingga sampai ke teras dan duduk di kursi. Ketika akan beranjak ke dapur, tangannya ditarik.

“Enggak usah repot-repot, Jang,” tawar Mami Menik. Tangan kirinya memanjang, menunjuk kursi yang terpisahkan oleh meja di sampingnya.

Jantung Fajar masih belum pulih pada ritme semula meski bahaya baru saja lewat. Ia duduk di kursi. Wajahnya terbenam. Kedua tangannya diapit oleh kedua pahanya sendiri.

“Kenapa atuh kamu téh, Jang?” tanya Mami Menik. Wajahnya lurus ke depan seperti peristiwa yang baru saja terjadi bukanlah perkara besar. Melihat Fajar belum juga menjawab, ia melanjutkan, “Tenangin diri dulu.”

“Iya, Mi.” Fajar mengatur napas dan mengembuskannya panjang-panjang.

“Jangan pikir Mami sekuat itu, Jang,” ujarnya. “Memang, pengalaman Mami panjang sebagaimana usia Mami sudah tua. Mami ngalamin gimana sembilan delapan yang panas, dua ribu empat belas sama dua ribu sembilan belas dengan orang-orang saling bertengkar karena beda pilihan pemimpin. Tetap saja kalau dengar kekerasan kayak tadi, Mami juga ngeri.”

“Enggak semua masalah selesai pakai kekerasan. Kayak masalah tadi ‘kan sebenarnya bisa dibereskan baik-baik. Kalau di kita, istilahnya hadé goréng ku basa. Sebaik atau seburuk apa pun harus dibicarakan.”

Ke sandaran kursi, Fajar merapatkan punggungnya. Gemuruh di dadanya mereda.

“Mami sebenarnya enggak mau ikut campur tapi sebagai warga paling senior di sini, Mami merasa harus turun tangan. Bukan karena usil tapi biar Sukacinta yang Mami kenal tetap damai, tertib. Enggak kehilangan identitasnya. Jadi, benar kamu, Jang, yang sebarin video di rumah Pak RT?”

Mulut Fajar terbuka sedikit tapi tak ada satu pun kata keluar. Matanya seakan-akan sulit berkedip.

“Kenapa? Serak? Enggak bisa bicara? Mau Mami belikan permen pelega tenggorokan?”

“Enggak perlu, Mi.” Fajar berdeham berpura-pura mencari suaranya yang hilang. “Mami tahu dari mana?”

“Mami téh tua, Jang, bukan bodoh,” sahut Mami Menik. “Tadi ada banyak orang datang ke rumah Pak RT tapi beliau lagi di luar rumah. Jadi, Mami suruh mereka pulang.”

“Pak RT enggak kenapa-kenapa ‘kan, Mi?”

“Alhamdulillah, enggak apa-apa,” balas Mami Menik. “Baru beberapa menit lalu Pak RT ke rumah buat bilang terima kasih sehabis dipanggil Pak Lurah yang bakal ikut bantu beresin masalah soalnya tuduhan itu enggak terbukti.”

Punggung Fajar menegak. “Enggak terbukti gimana, Mi?”

“Ya, sehabis kejadian Fana itu, enggak ada saksi yang menguatkan tuduhan. Sama sekali,” tuturnya tenang. “Video yang kamu kirim juga enggak cukup buat jadi barang bukti.”

“Tapi betulan itu, Mi. Ada beras di rumah Pak RT.”

“Itu dia yang beli, Jang. Kamu amati lagi videonya. Enggak ada kepastian kalau itu beras bansos.”

Kepala yang tertutupi rambutnya tak gatal sama sekali tapi Fajar menggaruknya. Seakan gerakan itu tak cukup meredakan kekecewaan, ia tutupi kedua wajahnya. Ia menatap Mami Menik yang menepuk pundaknya pelan.

“Enggak usah khawatir, Mami udah minta Pak RT supaya enggak balik tuntut kamu atas pencemaran nama baik.”

Mata Fajar melotot tapi ia sembunyikan dari Bu RT dengan memalingkan wajah. Begitu merasa bisa berekspresi senatural mungkin, barulah ia menatap Bu RT menanyakan, “Terus Pak RT setuju?”

“Setuju atuh tapi ada syaratnya.”

“Minta maaf sama Pak RT, Mi?”

Mami Menik menggelengkan kepala. Wajahnya lurus, menolak beradu pandang dengan Fajar. “Enggak perlu. Ini belum Lebaran,” candanya. Melihat Fajar tak terhibur, ia mengoreksi perkataannya dengan, “Bukan itu yang dia mau. Kayaknya mah dia belum siap juga ketemu kamu lagi, Jang.”

“Terus apa atuh syaratnya?” Kaki Fajar mulai mengetuk-ngetuk lantai dengan irama yang cepat dan tak beraturan. Jari-jemarinya bertaut, meremas satu sama lain hingga buku-bukunya memutih.

“Permintaannya téh menurut Mami agak enggak masuk akal.” Mami Menik terkekeh.

“Bikin candi dalam waktu semalam?” canda Fajar yang ditanggapi dengan ekspresi datar lawan bicaranya. “Bercanda, Mi,” lanjutnya. “Biar enggak tegang.”

Lihat selengkapnya