Inilah rumah Rafael Arsenio. Dari luar terlihat bagaikan istana mewah, namun bagiku terasa seperti penjara emas yang dingin. Pilar-pilar menjulang tinggi, lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya kuning yang menusuk mata. Langkah kakiku terasa berat saat melewati pintu utama.
Suara denting sepatu hakku beradu dengan lantai marmer, nyaring sekali di ruangan yang terlalu luas ini. Jantungku berdegup tak karuan, seolah tubuhku menolak kenyataan. Aroma bunga segar bercampur dengan wangi parfum maskulin yang menusuk hidungku, mengingatkanku pada napas hangat Rafael di telingaku saat ia memaksaku menandatangani kontrak pernikahan itu.
Aku menunduk, menahan napas. Rasanya seperti ada ribuan mata tak kasatmata yang mengawasi setiap gerakku. Langkahku terseret, seperti ditarik rantai tak terlihat yang menjerat pergelangan kakiku.
Bodyguard berbadan besar yang mengantarku berhenti di depan tangga megah. “Silakan naik, Nyonya,” ucapnya datar, seolah panggilan itu sudah resmi melekat pada diriku.
Nyonya. Kata itu menusuk telingaku. Aku baru saja menjadi istri seorang pria yang bahkan tak kucintai, seorang pria yang kutakuti.
Aku menelan ludah, menoleh sekilas. Rafael berdiri di ujung ruangan, dengan setelan jas gelapnya yang rapi. Tatapannya dingin, menembusku seperti bilah pisau. Ia tidak banyak bicara, hanya menggerakkan tangannya, menyuruhku naik.
Dengan langkah gontai, aku menaiki anak tangga satu per satu. Tangga itu seakan terlalu tinggi, membuat nafasku semakin berat. Di kepalaku, bayangan rumah lamaku terlintas—rumah kecil dengan dinding catnya yang sudah mulai mengelupas, aroma masakan ibu yang sederhana, dan suara adikku yang selalu ribut menanyakan PR sekolah.
***
Setibanya di lantai atas, aku diantar menuju kamar yang katanya akan menjadi ruanganku. Pintu kayu mahoni terbuka, memperlihatkan sebuah kamar megah dengan ranjang berukuran king size. Seprai putih licin terhampar rapi, bantal-bantalnya ditata sempurna, seperti ruangan hotel bintang lima.
Namun, alih-alih nyaman, rasa dingin justru menyusup ke tulangku. Lampu gantung di langit-langit menyinari kamar dengan cahaya keemasan yang temaram. Jendela besar tertutup rapat dengan tirai beludru tebal yang menjuntai sampai lantai, seakan menutupi pemandangan kota.
Di dinding tergantung lukisan abstrak, warna-warnanya merah pekat dan hitam, seakan menertawakan ketakutanku. Ranjang besar itu terasa seperti jebakan.
Aku berbisik lirih, lebih kepada diriku sendiri, “Ini… kamarku?”
Rafael tiba-tiba muncul di belakangku. Kehadirannya membuat bulu kudukku meremang.
“Kau takut?” suaranya datar, dan dalam.
Aku tercekat. Ingin kujawab jujur, tapi lidahku kelu.
Rafael tersenyum miring. “Bagus. Rasa takut akan membuatmu patuh.”
Tanpa menunggu jawabanku, ia berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan, melepas jasnya, menggulung lengan kemeja, lalu duduk membuka berkas-berkas. Jemarinya mengetik di laptop, seolah aku hanyalah bayangan.
Aku menatap punggungnya dengan campuran antara benci dan bingung.
***
Aku memberanikan diri melangkah lebih masuk ke kamar. Ranjang besar itu seakan menatapku. Aku menyentuh seprai licin yang terasa dingin di ujung jari. Bayangan rumah lamaku kembali hadir—ranjang reyot, suara decit kasur, aroma kayu lapuk yang entah kenapa terasa hangat.
Air mataku nyaris jatuh, tapi kutahan.
Aku menarik napas panjang. Ada wangi kayu manis bercampur tembakau mahal yang melekat di tirai. Bau yang membuat dadaku sesak, seolah udara di sini hanyalah milik Rafael.
Kakiku menyentuh karpet tebal berwarna abu gelap. Lembut, tapi terasa seperti rawa yang perlahan menenggelamkanku. Pantulan lampu kristal di dinding berkilau indah sekaligus menusuk.
Aku berhenti di depan meja rias. Wajah pucat dengan mata sembab menatap balik dari cermin. Aku hampir tak mengenali diriku sendiri.
“Tik… tok… tik… tok…”