Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang.
Cahaya matahari hanya merembes tipis dari sela tirai beludru, jatuh di lantai seperti garis-garis lelah. Udara kamar masih menyimpan dingin semalam. Aku bangkit perlahan, kepala terasa berat, seakan tidur hanyalah jeda singkat dari kecemasan yang sama.
Ketukan pintu terdengar.
Tiga kali. Pelan. Dan terukur.
Aku tersentak, lalu berdeham. “Masuk.”
Seorang pelayan perempuan melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Usianya sekitar empat puluh, wajahnya datar, matanya tak pernah benar-benar menatapku.
“Selamat pagi, Nyonya. Sarapan sudah disiapkan. Tuan menunggu di ruang makan.”
Kata menunggu membuat perutku kaku.
Aku mengangguk. “Terima kasih.”
Ia pergi tanpa senyum, tanpa basa-basi, seolah kehadiranku hanyalah rutinitas baru yang harus dicatat.
***
Aku turun ke lantai bawah dengan langkah hati-hati. Rumah ini terasa berbeda di siang hari, namun bukan berarti lebih ramah. Cahaya matahari memantul di marmer, menciptakan kilau dingin yang justru menegaskan betapa lapang dan hampanya ruangan.
Rafael sudah duduk di ujung meja makan panjang. Kemeja putihnya rapi, lengan digulung sedikit, jam tangan perak melingkar di pergelangan tangan. Ia sedang membaca sesuatu di tablet, fokus, seolah dunia hanya berisi data dan angka.
Aku duduk berhadapan dengannya.
Beberapa detik berlalu. Ia tidak langsung menoleh.
“Bagaimana tidurmu?” tanyanya akhirnya, tanpa mengangkat kepala.
“Cukup,” jawabku singkat. Bohong, tapi aman.
Rafael tersenyum tipis. “Bagus. Biasakan.”
Ia menaruh tablet, mengunci tatapannya padaku. Aku merasa sedang dinilai—bukan sebagai istri, melainkan sebagai angka.
“Ada beberapa aturan yang berlaku disini,” lanjutnya. “Dan kau dengarkan ini baik-baik.”
Aku mengangguk lagi.
“Pertama, kau tidak boleh keluar rumah tanpa pengawalan. Kedua, tidak menerima tamu. Ketiga, tidak boleh menyentuh area tertentu di rumah ini.”
“Area tertentu?” tanyaku, refleks.
Rafael mencondongkan tubuh sedikit. “Kau tidak perlu tahu itu di mana. Kau hanya perlu tahu: jika pintu terkunci, itu bukan untukmu.”
Aku menelan ludah.
“Dan satu lagi,” katanya tenang. “Aku tidak suka kejutan.”
***
Setelah sarapan yang nyaris tak kusentuh, aku ditinggal sendirian lagi. Rafael pergi tanpa pamit. Suara pintu utama menutup terdengar jauh, tapi suaranya menetap di dadaku.
Aku berdiri di ruang tengah, menatap langit-langit tinggi. Rumah ini terlalu besar untuk hanya satu orang yang tinggal.
Aku mulai berjalan. Bukan karena ingin melanggar, melainkan karena diam terlalu menyiksa. Lorong-lorong panjang terbentang, dindingnya dipenuhi lukisan dan foto hitam-putih. Wajah-wajah asing menatapku dari masa lalu yang tak kukenal.
Di salah satu sudut lorong, aku berhenti.
Jam dinding antik tergantung miring, jarumnya bergerak lambat. Tik… tok… Suaranya sama seperti semalam.
Aku merinding.
Saat aku hendak melangkah pergi, aku mendengar sesuatu lagi.
Suara gesekan pelan.
Bukan dari dinding kali ini. Tapi…dari balik pintu.
Pintu kayu tua dengan gagang besi gelap. Terkunci rapat.
Aku ingat kata-kata Rafael.