Pagi itu tidak benar-benar pagi.
Aku terbangun dengan perasaan seperti baru saja dipanggil dari jarak jauh, bukan oleh suara, melainkan oleh sesuatu yang lebih halus—perubahan kecil di udara. Aku membuka mata dan menatap langit-langit kamar yang sama: lampu gantung kristal, bayangan berlapis di dinding, dan tirai beludru yang masih tertutup rapat di jendela.
Jam di dinding menunjukkan pukul 07.12.
Aku duduk perlahan, menunggu detak jantungku kembali normal. Tidak ada mimpi yang bisa diingat, tapi sisa ketegangan masih menempel di tubuhku, seperti bau asap yang tak mau hilang meski sumber apinya sudah padam.
Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Air mengucur, bayanganku terlihat di kaca besar. Sepasang netra itu—kepunyaanku—tampak agak lain pagi ini. Bukan disebabkan lingkar mata gelap atau wajah lesu. Lebih seperti… waspada, bahkan sebelum ada alasan.
Saat aku kembali ke kamar, pandanganku otomatis tertuju pada jam dinding.
Jarumnya kini menunjukkan pukul 07.04.
Langkahku terhenti.
Aku menatap jam itu lama. Terlalu lama untuk sesuatu yang seharusnya sepele. Mungkin aku salah lihat tadi. Mungkin pantulan cahaya. Aku meraih ponsel dari meja samping ranjang.
07.12.
Aku menoleh lagi ke jam dinding.
07.04.
Delapan menit. Kondisi statis.
Aku menghembuskan napas pelan. “Baterainya lemah,” gumamku. Penjelasan sederhana terasa seperti pegangan paling aman. Aku meletakkan ponsel kembali dan bersiap turun untuk sarapan.
Sinar fajar menyelinap tipis melalui celah gorden di sepanjang lorong. Kediaman ini masih hening, namun suasananya terasa mencekam—seolah ada sesuatu yang sedang menunggu.
Saat melewati lorong timur, aku melihat jam dinding lain. Jam antik dengan bingkai kayu gelap.
Pukul 07.16.
Aku berhenti lagi.
Dua jam. Dua waktu.
Jantungku berdegup lebih cepat. Aku menoleh ke arah tangga, lalu kembali ke jam itu, memastikan tidak ada trik cahaya. Jarumnya berputar. Stabil. Berfungsi.
Aku tersenyum kecil, lebih kepada diriku sendiri. “Rumah besar,” bisikku. “Jamnya banyak.”
Aku melanjutkan langkahku.
Di ruang makan, Rafael belum ada. Meja panjang itu sudah tertata rapi, sarapan tersaji tanpa sentuhan hangat. Aku duduk di kursi yang sama seperti kemarin. Pelayan perempuan yang wajahnya selalu datar muncul membawa teh.
“Selamat pagi, Nyonya,” ucapnya.
“Pagi,” jawabku. Aku ragu sejenak, lalu bertanya, “Jam di kamar saya… sering rusak?”
Ia berhenti menuangkan tehnya. Hanya sepersekian detik, tapi cukup terasa.
“Jam di rumah ini dicek rutin,” katanya. “Tidak pernah ada keluhan.”
Nada suaranya dingin. Terlalu terkendali.
“Oh,” aku mengangguk. “Mungkin saya salah lihat.”
Ia tersenyum tipis—senyum profesional yang tidak menyentuh mata. “Mungkin.”
Rafael tidak muncul sampai aku selesai sarapan. Saat aku berdiri hendak pergi, pelayan itu berkata, “Tuan akan pulang malam ini. Anda bebas menggunakan ruang mana pun… yang terbuka.”
Kata terakhir itu menggantung.
***
Aku memutuskan berjalan lagi. Bukan untuk mencari sesuatu. Aku meyakinkan diriku hanya ingin mengenal rumah ini. Mengenal sama dengan bentuk pertahanan, bukan?
aku menyusuri lorong yang sama seperti kemarin, tapi dengan langkah lebih pelan. Aku mulai memperhatikan detail yang terlewat: retakan halus di sudut pilar, lukisan yang digantung sedikit miring, dan bau tua samar dibalik wangi pembersih.
Di salah satu sudut, aku berhenti di depan sebuah foto hitam-putih. Seorang pria dan seorang wanita berdiri di depan rumah yang sama, tapi tampak lebih muda. Desainnya mirip, namun detailnya berbeda—jendela lebih kecil, pagar besi lebih rendah.
Aku perlahan mendekat.