Tanda Tangan Neraka

Aulia umi halafah
Chapter #5

Catatan yang Tidak Seharusnya Ada

Aku tidak langsung membuka mata saat bangun.

Ada jeda aneh—seperti tubuhku sadar lebih dulu daripada pikiranku. Aku mendengar suara rumah sebelum melihatnya. Bukan suara jelas, bukan juga bunyi yang bisa kusebut. Lebih seperti getaran halus di dinding, dengungan rendah yang terasa di tulang, bukan di telinga.

Aku membuka mata perlahan.

Jam di dinding menunjukan pukul 05.58.

Aku tidak tahu kenapa angka itu langsung terasa salah.

Aku bangkit setengah duduk dan meraih ponsel di meja samping ranjang.

06.14.

Perbedaan waktu enam belas menit.

Kali ini aku tidak mencoba terseyum atau mencari alasan. Aku hanya menatap kedua angka itu lamat-lamat, membiarkan ketegangan menempel tanpa perlawanan.

“Tidak apa-apa,” bisikku, entah pada siapa. “Aku tidak mencatat apa pun.”

Kata mencatat membuat tenggorokanku kering.

Aku turun dari ranjang, kakiku menyentuh lantai yang dingin. Udara kamar terasa lebih berat dari biasanya, seperti mengandung sesuatu yang tidak terlihat. Saat aku berjalan ke kamar mandi, cermin besar di dinding menyambutku.

Pantulanku menatap balik.

Aku tampak sama. Rambut berantakan, wajah pucat, mata lelah.

Tapi ada yang salah dari caraku berdiri.

terlalu tegak.

Seolah aku meniru diriku sendiri.

Aku mengalihkan pandangan, sementara tanganku sibuk membasuh muka, sekadar untuk mengulur waktu yang tak terhindarkan. Air dingin membantu menhan gemetar di jemariku. Saat aku mengangkat kepala, pantulan itu sudah kembali normal—atau setidaknya, cukup normal untuk kulihat.


***


Aku turun ke lantai bawah lebih pagi dari biasanya.

Rumah masih sunyi. Tidak ada pelayan. Tidak ada suara peralatan dapur. Seperti kemarin, tapi lebih kosong.

Aku berjalan tanpa tujuan, membiarkan langkahku memilih arah sendiri. Lorong timur, lorong barat—aku tidak yakin. Yang kutahu, kakiku berhenti di depan sebuah pintu yang belum pernah kubuka.

Pintu itu tidak terkunci.

Aku menyadarinya karena pegangannya agak terbuka.

Ruangan di baliknya kecil, hampir tersembunyi. Dindingnya dipenuhi rak buku rendah, meja kayu sederhana di tengah, dan sebuah kursi tunggal yang menghadap ke dinding. Tidak ada jendela.

Interior ini tidak selaras dengan kemewahan rumah. Ia terasa tua. Seolah-olah ini adalah cikal bakal yang tertinggal sebelum rumah ini tumbuh menjadi megah.

Di atas meja, ada buku catatan.

Sampul berwarna abu-abu. Tipis.

Sama seperti yang kulihat kemarin.

Aku berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum masuk. Naluriku berteriak untuk pergi. Tapi ada tarikan pelan, hampir sopan, yang menarikku mendekat.

Aku menutup pintu di belakangku.

Ruangan itu langsung terasa lebih sempit.

Aku duduk di kursi, jantungku berdetak kencang. Tanganku menyentuh sampul buku itu—dingin, tapi tidak berdebu. Seolah baru saja ada yang meletakkannya.

Aku membukanya.

Halaman pertama kosong.

Halaman kedua kosong.

Ketiga, keempat—semua kosong.

Aku membalikkan perlahan, hingga sampai di tengah.

Tulisan tangan itu ada lagi.

Kali ini lebih banyak.

Tulisan rapi, tegak, tanpa hiasan. Bukan tulisanku. Aku tahu gaya tulisanku—sedikit miring, terburu-buru di ujung kalimat. Ini terlalu tenang.

Hari ini aku terbangun dengan perasaan ada yang tidak beres.

Napas terhenti di dadaku.

Kalimat itu… persis seperti yang kurasakan pagi ini.

Aku membaca lanjutannya.

Ketidaksinkronan jam dinding memberiku alasan untuk tetap tinggal dalam tempo yang lebih lamban dan nyaman.

Aku menutup buku itu seketika, seolah takut tulisannya akan bergerak.

Tanganku gemetar.

“Tidak,” bisikku. “Ini bukan aku.”

Lihat selengkapnya