Malam datang tanpa permisi.
Aku menyadarinya bukan dari gelap di luar jendela, melainkan dari perubahan di dalam rumah. Suara-suara kecil yang biasanya tenggelam—bunyi jam, hembusan pendingin udara, kayu yang mengembang—tiba-tiba terdengar terlalu jelas. Seolah seseorang menaikkan volume dunia beberapa tingkat.
Aku berdiri di tengah kamar, menatap pintu yang sejak sore tidak kubuka. Rafael belum pulang. Tidak ada pesan. Tidak ada pemberitahuan. Namun entah mengapa, aku tahu malam ini bukan malam yang kosong.
Aku duduk di tepi ranjang dan membuka ponsel. Tidak ada sinyal. Ikon kecil itu abu-abu, mati. Aku menghela napas pendek, mencoba menertawakan kecemasanku sendiri. Rumah besar, dinding tebal. Normal jika sinyal buruk.
Saat aku meletakkan ponsel, layarnya menyala sendiri.
Tidak ada notifikasi. Tidak ada getaran. Hanya cahaya.
Aku mengambil handponeku lagi. Jam di layar menunjukkan pukul 21.07.
Aku menoleh ke jam dinding.
Jam 21.07.
Kesamaan itu membuat tengkukku merinding.
***
Aku turun ke lantai bawah dengan langkah pelan. Lampu-lampu menyala sebagian, seolah rumah ini sengaja dibiarkan setengah terjaga. Bayangan tubuhku memanjang di lantai marmer, terbelah oleh cahaya dari lampu dinding.
Di ruang tengah, aku berhenti.
Ada bau yang berbeda.
Bukan apek. Bukan wangi pembersih. Bau yang lebih tua—kertas lama, kayu lembap, dan sesuatu yang logam. Bau ruang yang jarang dibuka.
Aku mengikuti sumber bau itu.
Mengarah ke lorong timur.
Langkah kakiku melambat saat aku menyadari satu hal: lorong ini seharusnya berakhir di tangga kecil menuju ruang baca. Tapi malam ini, jaraknya terasa lebih panjang. Dua lampu dinding yang biasanya berdekatan kini terpisah oleh ruang gelap yang tidak kuingat.
Aku berhenti di depan sebuah pintu.
Bukan pintu kayu tua yang kemarin membuatku mendengar suara.
Pintu ini berbeda.
Permukaannya polos, dicat putih, nyaris menyatu dengan dinding. Tanpa hiasan. Tanpa nomor. Gagangnya perak, dingin, dan—yang paling mengganggu—tidak terkunci.
Jantungku berdetak kencang.
Rafael pernah berkata: jika pintu terkunci, itu bukan untukmu.
Lalu bagaimana dengan pintu yang tidak terkunci?
Aku mengulurkan tangan, lalu menariknya kembali. Napasku tercekat. Aku menoleh ke belakang—lorong kosong. Sunyi. Terlalu sunyi.
Akhirnya, aku membuka pintu itu.
***
Ruangannya kecil.
Lebih kecil dari yang kubayangkan. Tidak ada jendela. Lampu menyala redup dari langit-langit rendah. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu berdiri sendiri, dikelilingi empat kursi.
Tidak ada lemari. Tidak ada dekorasi.
Hanya ada meja dan buku-buku.
Puluhan buku catatan tersusun rapi di rak rendah di dinding kiri. Ukurannya beragam. Sampulnya polos. Warnanya berbeda—ada abu-abu, cokelat, dan hitam pudar.
Aku melangkah masuk.
Pintu menutup di belakangku.
Bukan dibanting. Ditutup perlahan. Seolah ada tangan lain yang memastikan.
Aku seketika menoleh.
Pintu itu tertutup rapat.
Aku menelan ludah. “Tenang,” bisikku. “Tenang.”
Aku mendekati rak buku. Jari-jariku gemetar saat menarik satu buku. Tidak ada judul. Tidak ada nama. Hanya angka kecil di sudut bawah.
Nomor 17.
Aku membuka buku itu.
Tulisan tangan memenuhi halaman.
Bukan hanya satu gaya tulisan.
Beberapa rapi dan tegas. Beberapa miring, tergesa, seolah ditulis dalam ketakutan. Setiap halaman bertanggal, dimulai bertahun-tahun lalu.
Aku membaca satu kalimat.
Hari ke-3. Aku masih mendengar jam berhenti di malam hari.
Dadaku berdegup kencang.
Aku membalik halaman.
Hari ke-12. Mereka bilang aku membayangkannya. Tapi aku tahu ada ruang yang tidak mereka catat.
Tanganku gemetar hebat.