Aku tidak tidur.
Bukan karena takut.
Tapi karena aku ingin membuktikan satu hal: jika aku tidak melakukan apa pun, apakah sesuatu tetap akan terjadi?
Jam menunjukkan 02.13.
Tidak berhenti. Tidak berkedip.
Normal. Sangat normal.
Justru itu yang membuatku gelisah.
Aku duduk di lantai, bersandar pada ranjang, ponsel mati di sampingku. Aku tidak mencoba menyalakannya lagi. Untuk pertama kalinya, aku merasa benda itu bukan alat komunikasi—melainkan jendela satu arah.
Aku menunggu suara pena itu.
Tidak ada yang terjadi.
Hanya detak jam yang terdengar.
Jam sudah menunjukan pukul 03.02.
Kelopak mataku mulai berat. Tubuhku kalah lebih dulu daripada pikiranku.
Aku tertidur dalam posisi duduk.
***
Aku terbangun dengan sensasi aneh.
Bukan karena suara, tapi karena heningnya terasa berbeda.
Cahaya pagi menyusup dari celah tirai. Jam menunjukkan 06.41. Aku mengangkat wajahku perlahan. Leherku terasa pegal.
Semua tampak normal. Terlalu normal.
Aku berdiri, membuka pintu kamar dengan hati-hati.
Lorong kosong. Tenang. Cahaya matahari membuat semuanya tampak biasa—marmer bersih, lukisan di dinding, vas bunga di meja sudut.
Seolah malam tadi tidak pernah terjadi apapun.
Aku turun ke bawah.
Aroma kopi menyambutku.
Rafael berdiri di dapur, mengenakan kemeja putih seperti biasa. Tenang. Rapi. Tidak terganggu.
Ia menoleh saat mendengar langkahku.
“Kau sudah bangun,” katanya ringan.
Aku menatapnya lama. Mencari sesuatu di wajahnya—bekas kurang tidur, ketegangan, rasa bersalah.
Tidak ada.
“Kau pulang jam berapa?” tanyaku.
“Seperti biasa.”
Jawaban yang sia-sia.
Aku melangkah lebih dekat. “Ada ruang di lorong timur.”
Ia menuang kopi tanpa melihatku. “Banyak ruang di rumah ini.”
“Ruangan dengan banyaknya buku-buku.”
Tangannya berhenti sepersekian detik.
Lalu kembali bergerak.
“Kau tidak seharusnya berkeliaran malam-malam.”
Nada suaranya tidak tinggi. Tidak mengancam.
Itu yang membuatnya lebih mengganggu.
“Ada buku dengan tulisanku,” kataku pelan. “Yang belum pernah kutulis.”
Rafael akhirnya menatapku.
Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya.
Bukan kaget, bukan marah, tapi lebih ke analisa?
“Kau yakin itu tulisanmu?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari bantahan.
Aku ingin menjawab dengan tegas.
Aku ingin berkata ya.
Tapi bayangan huruf-huruf yang muncul sendiri di layar ponselku membuat kepastian itu retak.
Rafael mendekat selangkah ke arahku.
“Rumah ini besar,” katanya lembut. “Strukturnya lama. Kadang suara dan bayangan bisa menipu.”
“Aku melihat kalimat itu muncul.”
“Kau hanya lelah.”
“Ada pesan dari nomor yang tak dikenal.”
“Penipuan digital ada di mana-mana.”
Setiap jawaban terdengar masuk akal.
Seolah ia sudah menyiapkan semua kemungkinan reaksiku.
Aku teringat sesuatu.
Di ponselku tadi malam, ada kalimat:
Reaksinya sesuai pola.
Pola.
Aku menatap Rafael lagi.
“Kau pernah tinggal di sini sendirian sebelum aku?” tanyaku.
“Tentu.”
“Dan sebelum itu?”
Ia tersenyum tipis. “Rumah ini sudah ada jauh sebelum kita.”
Jawaban yang lagi-lagi tidak menjawab.
Aku memutuskan untuk berhenti bertanya.
Bukan karena percaya.
Karena aku ingin melihat apa yang terjadi jika aku diam.
***
Siang berlalu tanpa gangguan.
Tidak ada pintu tambahan. Tidak ada buku. Tidak ada jam berhenti.
Aku sengaja melewati lorong timur.
Panjang lorongnya kembali normal.
Tangga kecil menuju ruang baca ada di ujung.
Tidak ada pintu putih.
Aku berdiri di sana cukup lama.
Tanganku menyentuh dinding.
Padat, dan terasa sangat nyata.
Jika aku tidak melihatnya sendiri tadi malam, aku mungkin akan menganggap semuanya mimpi.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dihapus.
Ingatan.
Atau... Rekaman.