Setiap yang terlahir di dunia fana selalu di sertai derit tangisan haru bahagia, begitu juga dengan seorang ibu selalu membisikan relung hati kecilnya, jika kelahiran anak-anaknya agar senantiasa menjadi sesuatu yang berguna kelak besar nanti. Doa seorang ibu begitu tulus, begitu sempurna menguntai doa-doanya serta tiada hentinya penuh keyakinan saat bibirnya penuh getaran membisiki merayu pemilik semesta agar setiap doanya di terima serta di berikan kenyataan terbaik. Tentu saja keinginan terbesar seorang ibu pada semua anak-anaknya agar selalu sukses kelak besar nanti, namun jawaban pemilik semesta tak sama dengan harapan keinginan terbesar seorang ibu pada anaknya yang kini sudah menginjak dewasa dan tumbuh besar.
Tak di sangka hanya kesedihan selalu hadir atas jawaban doa-doa seorang ibu yang kini sudah di jawab oleh pemilik semesta. Tak bisa menolak, tidak bisa mengelak hanya meratapi kesedihan yang selalu merenggut hatinya selalu meratapi kesedihannya karena anak-anaknya telah tumbuh besar dan dewasa. Kiranya seorang ibu akan selalu berbahagia terbuai dalam harapan dengan segala bentuk perhatian kebaikan dari anak-anaknya. Nyatanya semua itu hanya harapan semu, harapan yang tiada di harapkannya hanya membuat luka hati seorang ibu selalu di janjikan setiap harinya hanya selalu bersedih hati dan menangis, bak tangisan yang tak pernah pergi.
Pemilik semesta hanya terdiam memandangi dari kejauhan di surga sana, ia hanya tertegun walau hatinya tersayat tersakiti oleh penderitaan dan ratapan seorang ibu. Yang dulu ia begitu percaya dan yakin dengan segala untaian doa-doanya selalu di ucapkan untuknya. Kini doa itu tidak menjadi kenyataan dan harapannya, justru doa itu menjadi kesedihan baginya sampai setiap harinya selalu menderita kesedihan tiada berujung sampai kapan hingga wajahnya penuh sembab air mata berganti dengan senyuman indah.