Rumah sangat sederhana tidaklah terlalu besar, rumah itu rumah kontrakan yang akan segera di tempati. Tampak depannya terlihat asri di penuhi dengan aneka macam bunga kecil tertata rapi dengan aneka ukuran pot. Bangunan rumah tidak terlalu besar, akan tetapi cukup untuk berapa orang terbaring tidur dan untuk tinggal dalam masa setiap satu tahun masa kontrakan habis. Terasa lelah tenaganya, wanita yang telah melahirkan anak lima itu tertatih-tatih jalannya sembari membawa kasur, terdengar napasnya tersengal-sengal, ia memiliki riwayat sakit paru-paru dan lambung sejak lama di deritanya. "Bu, sudah istirahat saja, sana," kasur itu di ambilnya dan segera di panggul Evan, anak kedua yang selama ini ia cukup sangat bertanggung jawab dengan keadaan ibu serta saudara-saudaranya.
Siang itu langit terlihat senja, awan kelabunya sedang bermain dengan angin tipis seraya awan kelabu segera terusir pulang untuk menutup pemilik panas bumi yang besar dengan sinarnya sangat menyengat panas karena waktunya segera untuk berganti tugas dengan malam. Pandangan wanita itu seraya kosong menatap rumah yang begitu asri sebentar lagi akan menjadi temannya bermalam, temannya bermimpi. Benak dan pikirannya selalu teringat, jika seseorang pernah mengatakan padanya, jika ia seperti burung yang selalu berpindah-pindah sarang. Rumah yang sebentar lagi akan di tempatinya adalah rumah kontrakan, wanita itu dan keluarganya di ibaratkan sebagai burung yang selalu hinggap berpindah dari sarang satu kesarang lainnya.
"Duit itu harus ada sekarang! Kalau nggak ada, loe semua gua bunuh!" suaranya terdengar sampai keliang telinga ibunya segera beranjak bangun seraya ingin melerai pertengkaran dua anak lelakinya dalam rumah. "Gila loe, duit dari mana sebanyak itu. Lagian loe mau kawin, kok gua sama ibu yang harus jadi beban. Nggak, nggak ada duit," bantah seakan tidak ingin memberikan permintaan uang buat adiknya. Evan kembali merapihkan dan menata perabotan yang memang Alan, anak ketiga begitu sipat peranginya selalu bikin penuh amarah, setiap apa yang di pintanya harus selalu ada, jika tidak ada permintaannya tidak di berikan maka nada suaranya tinggi serta selalu di sertai ancaman. "Evan, kasihan adikmu. Masa kamu tidak ada uang?" nadanya lirih seraya meminta belas kasihan pada anak keduanya agar mau membantu adiknya yang sudah berdiri di teras depan, ia hanya santai terlihat duduk-duduk di teras beranda rumah sekan apa yang ia pinta sebentar lagi akan ada.
"Bu, untuk bayar kontrakan ini saja Evan boleh pinjam sama teman. Lagian kok mau kawin masa kita yang jadi beban," tidak mau berdebat dengan ibunya, Evan kembali menata perabotan, ia tidak peduli ibunya sedikit sesak napasnya karena itu sering terjadi saat ia sedang stres terlebih anak ketiganya selalu datang tiba-tiba dan merong-rong meminta uang. Percuma saja, rumah kontrakan itu di sewa karena sebagian anaknya jarang pulang, tidak tahu kemana dan di mana tidurnya. Seakan rumah bukan tempat tempat tinggal hanya melainkan tempat singgah dan tiba-tiba datang membawa rong-rongan ketika saat sudah mendapati apa yang di pinta mereka pergi meninggalkan kesedihan dan luka hati untuk wanita tua itu.
Rasanya kian tak berdaya wanita itu, ia kembali terduduk di lantai dengan dua kakinya memanjang sembari dua tangannya mengurut pergelangan dua kakinya agar rileks. Ia menahan kesedihan, tergurat di raut wajahnya seraya tidak bisa di ajak untuk berbohong mulai terpancing kesedihan, hatinya mulai terkulik mengajak dua matanya untuk menangis sejenak perhatikan anak keduanya masih merapihkan perabotan dan membiarkannya hanya kian terbebani menumpuk pikiran. Anak ketiga memang tidak punya pikiran, ia padahal jarang pulang dan sekali ini ia pulang minta duit yang nilai nominal tidaklah sedikit, cuman untuk modal kawin. Anak ketiganya seakan menyimpan amarah dendam yang berkepanjangan, alasannya karena keadaan kenapa ia di lahirkan di keluarga yang memililiki orang tua yang miskin. Alan memang tidak ada pikiran tidak membantu kakaknya, ia terlihat nyenyak tidurnya di lantai teras rumah, tanpa ada rasa peduli dengan kakaknya yang berjuang demi ibunya sampai pinjam-pinjam uang untuk biaya kontrak rumah.