Terasa hening dalam gudang hanya terlihat tumpukan dus-dus berisi aneka macam merk buku tertata rapi beralas valet kayu. Langit mendung namun bukan bertanda akan segera turun hujan, tentu saja membuat suasana dalam gudang terasa ngelekap di tambah hanya ada berapa lobang angin saja. Di sudut ujung gudang terdapat ruangan yang tidak terlalu besar, ruangan itu tempat bekerja anak kedua yang sehari-harinya ia bertanggung jawab dengan isi semua gudang serta keluar masuk barang. Ruangan itu kosong seraya sunyi hanya terdengar suara kipas angin yang sudah penuh debu serta kursi dan meja untuk tumpukan dokumen serta satu frame foto keluarga tergeletak di samping tumpukan contoh-contoh aneka ukuran buku.
"Hiduplah adalah pilihan, kita harus nentuin arah dan kita harus juga nentuin pilihan," terdengar samar suaranya seperti dari balik tumpukan dus buku ada orang sedang ngobrol. Tetapi siang itu gudang kosong, semua pekerja mungkin saja sedang mencari makan siang untuk memanjakan perut yang kosong keroncongan. "Gua nggak ngerti sama keadaan keluarga dan saudara-saudara gua. Apalagi sama bapak gua, dia pulang ada di rumah cuman berapa bulan, terus pergi lagi. Ya perginya aja gitu, cuman karena keadaan rumah gara-gara saudara-saudara gua pada ribut aja hampir tiap hari. Belum di tambah ibu gua yang lagi sakit-sakitan," terdengar lagi suara lainnya, namun suara itu terdengar lirih intonasinya terasa sayup dan sedih.
Benar saja masih ada orang dalam gudang, apa perutnya tidak lapar padahal sebentar lagi jam satu, pastinya semua pekerja kembali bekerja lagi. Dua matanya terenyuh sedih berkaca-kaca ingin ia memanggil pawang hujan agar air matanya tak lantas deras jatuh menyembabi wajahnya, tapi sudah terlanjur sedih. Jemari tangan kanannya melepaskan kaca mata di sertai jemari kirinya menyeka dua matanya padahal tidak ada air mata hanya kesedihan saja yang terlihat di dua matanya. "Ya udah loe sabar aja, habis mau gimana lagi. Loe harus tetap arahin jalanin hidup loe. Kalau loe sayang sama ibu loe, loe tetap harus berjuang buat ibu. Pilihan hidup loe sekarang ini, gimana loe harus bikin happy dan sehat ibu loe," telepak tangannya mendarat di pundak kanan Evan seraya haru sembari menoleh menatap Ajul, rekan kerjanya yang selama ini jadi teman baiknya.
***
"Masa ibu nggak ada duit?" seraya memaksa dan sembari menutup pintu lemari setelah tangannya mengangkat berapa potongan pakaian barangkali saja ada lembaran uang di bawah tumpukan pakaian. Masih penasaran di tambah perasaan kian gusar anak keempatnya kembali mencari-cari apa yang sedang di cari dan pintanya harus ada, karena ibunya hanya terbaring tidur di lantai beralas kasur tipis. Pandangan sedih seorang ibu hanya bisa melihat anak keempatnya mengacak-acak kasur, melempar bantal dan semakin kesal sampai mengacak-acak pakaian yang sudah rapi di triska jadi berantakan lagi. "Bu?" ia menahan amarahnya sejenak menatap lemasnya sedang menahan sakit ibunya terbaring hanya membalas menatap anak keempatnya dengan tatapan kosong tidak jadi melanjutkan kemarahannya padahal tangan kanannya sudah mengepal ingin memukul ibunya tapi tidak jadi. "Uang? Benaran ibu tidak punya uang, apalagi uang sebanyak itu," tandasnya, suaranya seakan lirih dan pasrah jika siang itu ia di sakiti Pepen, anak lelaki keempatnya yang memang sangat kasar.