TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #4

Tangisan Kian Membuatnya Sedih

Menghela napas menahan amarahnya dan hanya terduduk dengan pandangannya menoleh menatap keluar jendela, di luar sudah terlihat mendung dan kali ini pasti bakalan turun hujan. Duduknya mulai gelisah ingin beranjak bangun walau dalam ruangan itu terasa dingin dengan gibasan swing air conditioner. " Mau kemana Van, duduk!" baru saja Evan mau beranjak bangun terduduk lagi saat wanita bertubuh tambun memintanya untuk duduk kembali, emang kadang suaranya kasar seenaknya marahin orang, ia adalah boss cewek di mana Evan bekerja. "Ci, masa saya harus ganti barang-barang yang hilang, ya nggak fair aja dong," kilahnya seakan membantah jika ia harus mengganti semua barang-barang dalam gudang yang hilang. "Kamu'kan kepala gudang, ya harus tanggung jawab dengan barang-barang yang hilang!" tandasnya tidak mau tahu wanita bertubuh tambun sekali menunjuk Evan menahan gusar sembari menggigit bibirnya sendiri menahan kesal.

Pegawai yang lain hanya terduduk walau sekali-kali menguping memasang kupingnya dan kembali bekerja lagi saar boss cewek itu menoleh dan perhatikan pegawainya yang buru-buru jemarinya kembali berdansa di atas keyboard dan pandangannya kembali melihat layar pc monitor. Tidak dengan satu gadis, gadis itu Nani sudah sejak lama suka sama Evan tapi tidak menanggapinya. Nani seakan ikut prihatin dengan cowok incarannya yang harus mengganti barang yang hilang di gudang, karena ia tahu jika Evan sesungguhnya sangat teliti dan jujur dalam bekerja. "Van, ada barang mau bongkar, sana kegudang." kata lelaki bertubuh tambun, ia boss lelaki yang cukup baik namun terkadang sering bikin kesal Evan cepat beranjak bangun dan berjalan keluar dari ruangan yang sebenarnya dingin, tapi baginya ruangan itu panas mendengar tuduhan istrinya boss padanya. Pandangan Nani tidak lepas ia terus perhatikan cowok incarannya berjalan keluar dari ruangan dingin itu.

"Jul, kayaknya bulan ini gua nggak bisa ganti duit loe," ucap Evan sembari di berikan secarik kertas dari Ajul tersenyum membuka pintu belakang mobil box siap di bongkar. Kenek di bantu sopir menurunkan berapa dus buku dan segera di panggul lalu di masukan kedalam gudang yang parkir mobil box memang tidak terlalu jauh dari gudang. "Cuman 4 dus, bang?" "Iya." setelah di tanda tanganin Evan secarik kertas lalu di berikan pada sopir dan kenek menutup kembali pintu mobil box kemudian segera berjalan. "Ya udah loe jangan pikirin, kapan-kapan aja loe gantinya," kata Ajul lantas terduduk di meja sembari tangan kanannya menggaruk kepalanya tandanya ia juga ikut-ikutan pusing. "Gua nggak mau nuduh orang, dosa tahu. Tapi aneh aja, masa barang dalam gudang bisa hilang," ia menoleh sahabatnya yang selama ini sangat baik padanya. "Mungkin aja loe salah ngitung kali saat stok offname, bisa juga keselip. Coba ntar gua bantuin ngitung lagi," jawab Ajul seraya yakinin temannya itu sedikit tersenyum.

***

Jemari tangannya gemetar akan meraih mengambil gelas sontak terjatuh kelantai, gelas pecah dan airnya berserakan merayap jalan bebas tidak sempat di minum. Ia lalu terbaring tidur lagi menahan dahaganya yang haus, air matanya kembali mengajak bermain di lingkaran bola matanya mulai berkaca-kaca. Air matanya mulai menetes jatuh membasahi wajahnya kian mengerut tua di sertai bibirnya yang bergetar pedih seraya hatinya membisiki sudah tak kuat lagi menahan semua cobaan ini. Ia menoleh kearah lemari, jelas sekali wajahnya semakin basah oleh tangisan yang semakin deras membasahi pipinya terlihat di cermin lemari. Terlihat wajahnya semakin menua karena makin di gerogotin siksaan batin membuatnya selalu bersedih. "Ya Tuhan, saya tidak kuat dengan semua cobaan ini," suaranya lirih sembari menggigit bibirnya sendiri saking tidak tahan dengan keadaan semua ini.

Lihat selengkapnya