Benak dan pikirannya sudah tercampur aduk, sudah terkontaminasi dengan rasa sakit yang di rasakan dan tekanan batin yang tiada tentunya kapan beranjak pergi membuatnya kembali tersenyum. Ia hanya terbaring di bangsal seraya ia pasrah jika sang pemilik semesta mengirimkan awak pencabut nyawa, wanita tua itu seraya mau bila nyawanya segera di cabut. Relung batin sudah tidak tahan, sudah tidak kuat karena begitu banyak telah menahan beban kesedihan. Tatapannya kosong seraya kian hatinya teriris sedih pada saat menoleh kesamping sebelah bangsalnya di mana ia terbaring melawan rasa sakitnya. Di lihatnya begitu sangat sayang dan peduli penuh kasih sayang penuh belaian hangat seorang anak pada ibunya yang juga sama-sama sedang terbaring sakit. Anak gadis itu begitu peduli dan begitu sabarnya saat menyuapi makan ibunya, sekali-kali di ajaknya bercanda, sekali-kali bibir kecil manis anak gadisnya mendarat di kening ibunya. Sungguh hatinya merasa terkulik, jika ia ingin sekali di perlakukan seperti itu oleh kelima anak kandungnya.
Langkah jalan suster sudah berhenti di samping bangsalnya, suster itu lalu mengecek kantong infusan, cairannya sudah tersisa sedikit. Lalu suster itu ikut menoleh kesamping kanan, suster lantas tersenyum haru kembali perhatikan wanita itu yang kini dua matanya terenyuh sedih. "Ibu sudah makan?" tanya suster peduli ingin tersenyum namun tertahan rasa harunya. "Nanti suster sama anak saya," jawabnya lirih, padahal hatinya kecilnya sedang berusaha menahan kesedihan walau jelas suster melihat dua mata wanita tua itu sudah berkaca-kaca sedih. "Ohh iya bu, tadi bagian farmasi berpesan pada saya untuk menyampikan jika ada obat yang harus di tebus di luar, kebetulan stok di farmasi jika obat untuk ibu sudah habis," papar suster rasanya ia tidak enak hati pada wanita tua yang malahan tadinya dua matanya hanya berkaca-kaca kini dua matanya deras menghasilkan air mata. "Iya, iya suster nanti saya kasih tahu anak saya," jawaban wanita tua di sertai kesedihan.
***
"Ahh, gua nggak tahu deh! Lagian ibu betah bangat di rumah sakit, keluar masuk rumah sakit aja!" sampai suaranya terdengar dari luar rumah padahal sebentar lagi langit akan berganti gelap malam. Seperti terdengar pertengkaran dari dalam rumah. "Siapa juga yang betah di rumah sakit! Ibu juga nggak mau terus-terusan sakit di rawat di rumah sakit! Lagian mikir dong, kalau mau nikah harusnya udah ada modal, ya ada duit. Jangan datang kesini minta duit terus! Masa kakak mau nikah, minta duitnya sama ibu!" mungkin saja adik bungsunya sudah kelewatan sabar selama ini sama kakak ketiganya yang selalu datang minta duit dan membuat sampai ibunya jatuh sakit. "Ahh, tahu apa si kamu! Ahh!" "Pukul! Pukul aja, pukul!" saking sewotnya kakak ketiganya ingin memukul adik bungsunya tidak gentar menatap kepalan tangan siap mendarat kewajahnya. "Loe baru pulang, biasanya loe nggak pulang?!" anak keempat tadi siang pulang minta duit buat bayar motor sorenya tiba-tiba pulang bikin makin sewot adik bungsunya seraya menuding kakak keempatnya. "Ibu mana?" tanya nadanya tinggi sembari membuka handle pintu kulkas kosong isinya. "Brukk!" di tutupnya kencang pintu kulkas sembari emosinya memuncak tersenyum dingin pada kakak ketiganya makin gusar. "Apa loe?!" sinis kata adik keempatnya seraya mengajak ribut. Adik bungsunya seraya makin pusing dan masa bodoh dengan kedua kakaknya, ia bergegas masukan pakaian dan makanan kedalam tas, semua itu untuk ibunya di rumah sakit.
"Gara-gara loe ibu masuk rumah sakit!" "Loe tuh yang tiap datang selalu bikin susah ibu!" dua-duanya saling menuding semakin meradang marah. "Loe!" Loe yang bikin ibu jadi sakit!" makin saling menuding dan membantah keduanya hingga terjadi perkelahian di dalam rumah, saling mukul menendang dan saling balas. Panik dan bingung adik bungsu cepat melerai, justru ia berapa kali kena pukulan dan tendangan dari dua kakaknya. "Udah! Udah jangan pada ribut! Loe berdua emang sama, sama-sama nggak ada pikiran! Ibu lagi sakit loe berdua malahan bertengkar!" menahan sakit adik bungsunya ia terjatuh dan beranjak bangun terkena tendangan dan pukulan dari dua kakaknya. Gusar menahan sedih adik bungsunya lalu mengambil tas berwarna hitam dan beranjak jalan pergi meninggalkan dua kakaknya menahan emosi. "Prangg!" masih tersisa emosinya kakak ketiganya membanting gelas pecah di lantai dan beranjak pergi meninggalkan adik keempatnya masuk kedalam kamar membanting pintu. Sungguh malang nasib rumah kontrakan itu yang sebenarnya di kontrakan untuk ibu dan keluarganya, namun rumah itu seraya hanya bisa menahan sedih dan tak berdaya ingin murka dengan penghuninya yang tidak pernah memberikan kedamaian.