Ia sudah pulang dan kembali kerumah, senyumannya kali ini sungguh semringah seraya mengalahkan rasa sakit dan sesak napasnya begitu saja hilang, lihat dari hidungnya saat tarikan napasnya sepertinya sudah normal layaknya sesak napas selama ini memasung pipa paru-parunya sudah menyingkir. Seorang ibu tersenyum lebar tak bosan-bosan menatap calon menantunya sejak tadi, menatap gadis berkulit putih menebar senyuman padanya.
Gadis itu namanya Tari, pegawai kantoran lihat saja dari pakaiannya casual dan mengenakan sepatu pantopel cewek warna hitam tergeletak di teras rumah. Ternyata selama ini Evan sudah menyimpan mutiara hatinya sangat rapi dalam hatinya. Pantas saja ketulusan Nani, rekan kerjanya yang ingin hidup bersamanya dan menerima kepala gudang itu apa adanya sesungguhnya di kalahkan oleh mutiara dalam hatinya Evan yang sangat mencintai dan hanya ada satu mutiara dalam dalam hatinya yaitu Tari.
"Bu, ini Tari. Maaf loh bu, baru kali ini Evan bawa Tari dan di kenalin sama ibu," anak keduanya tersenyum malu sembari menoleh mutiaranya juga ikut tersenyum malu cepat menyalami dan menyium tangan calon mertuanya.
"Saya Tari," singkat ucapannya dan sekali lagi menatap dalam calon mertuanya semakin tersenyum sumringah, benaknya seakan terbuai oleh impiannya yang selama ini di nanti.
Jika impian bagi seorang ibu pada anaknya sebentar lagi akan segera menikah dan ia mendapatkan menantu impiannya. "Bu, Evan mau nikah," makin tersenyum semringah di sertai dua matanya berkaca-kaca tidak mau berpaling hanya menatap calon menantunya ikut tersenyum bahagia bercampur haru. "Iya, iya ibu restuin Evan dan Tari menikah," ujarnya tegas dan menoleh anak keduanya sontak terenyuh sedih.
"Bu, ayah gimana?" sontak tidak lagi dua matanya berkaca-kaca sedih, cepat kantong bawa matanya di seka jari jempol kanan calon istrinya yang seraya peduli dan tahu apa yang sedang di pikirkan calon suaminya. Selama ini kepergian ayahnya yang memang keras hati itu sering bertengkar dengan anaknya, terlebih dengan anak keduanya. Terkadang keras kepala antara anak kedua dan ayahnya yang membuat mereka sering bertengkar, hingga ayahnya kadang pergi berbulan-bulan dan kembali pulang setelah keras hatinya telah mereda.
"Nanti aku anterin ketemu ayah, kita menikah harus ada ayah," nada suaranya bercampur kesedihan sembari jemari hangatnya mengusap pundak belakang calon suaminya.
"Apa ayah mau pulang?" ditimpali ibunya sepertinya ia ragu jika suaminya mau pulang pada saat anak keduanya menikah dengan gadis pilihannya. "Evan nggak tahu bu.
"Evan tahu ayah sangat keras kepala. Belum di tambah omongan dari istrinya Sanusi. Ayah'kan lebih percaya sama Sanusi dan istrinya," ia tidak yakin jika akan berhasil membujuk ayahnya pulang dan mau menerima calon istrinya. Evan tertegun diam ia beranjak bangun berjalan keteras rumah yang langit sebentar lagi akan datang senja. Sedangkan ibunya hanya terduduk di ruangan tengah beralas kasur tipis tersenyum kecut seraya ikut peduli dengan keadaan anak keduanya.