Hari bahagia sebentar lagi datang, akan tetapi pikirannya masih membelenggu tentang ibunya jatuh sakit lagi, tentu semakin cemas dan panik anak kedua itu melihat ibunya lagi-lagi terbaring sakit. Sakitnya kian parah, napasnya semakin sesak napas dan lambungnya kumat terasa sakit, sungguh membuat gelisah dan cemas. "Bu, apalagi yang di pikirin? Masa ibu sakit lagi, lagian ibu mikirin anak-anak ibu terus si. Mereka tuh cuman datang ada maunya aja, cuman meminta setelah dapat apa yang mereka mau, apa mereka mau tahu ibu sakit! Evan capek bu! Evan sudah nurutin maunya ibu, kadang Evan bertengkar sama ibu, hanya karena ibu belain anak-anak ibu yang nggak jelas! Evan sebentar lagi mau nikah, masa ibu sakit!" Evan masih kesel melihat ibunya terbaring tidur sakit karena mikirin anak-anaknya.
Wajar memang seorang ibu mikirin anak-anaknya yang kehidupannya masih jauh dari kata layak, tapi harusnya seorang ibu juga harus adil dengan anak yang selama ini menopang hidupnya. Padahal hari bahagia sebentar lagi datang dan tidak mungkin ia menikah tanpa kehadiran seorang ibu. "Ibu kepikiran ayah," suaranya terdengar lirih, tidak hanya mikirin anaknya tapi suaminya. Mungkin saja seorang istri begitu sangat tulus mencintai suaminya walau suaminya sering menyakiti dirinya. "Kalau ayah nggak mau pulang, ya mau gimana bu. Kemarin Evan sama Tari sudah coba bujuk ayah pulang, tapi tetap ayah emang nggak mau pulang!" makin tinggi suaranya dan makin kesal anak keduanya pada ibunya.
Tampak bayangan seseorang berdiri terlihat dari celah bawa pintu sempat di lirik Evan. Beranjak bangun karena rasa penasarannya lalu jemari kanannya meraih handle pintu sudah duluan terdorong kedalam. Terkejut Evan dan ibunya saat sudah berdiri lelaki tua yang selama ini di nanti pulang, ia sudah pulang. Lelaki tua itu hanya masuk seraya tidak peduli dengan istrinya yang sedang sakit. Sontak saja raut wajahnya tidak menangis lagi seraya sejenak melupakan rasa sakitnya, jika suaminya sudah pulang. "Ayah sudah makan?" semarah dan sesakit hatinya seorang istri pada suaminya tetap saja seorang istri masih perhatian dan peduli. "Ya udah, Evan beli makan dulu buat ayah," anak keduanya tahu sedikit tenang jika kepulangan ayahnya membuat ibunya seketika lupa dengan sakitnya. Ayahnya hanya diam saja, apa ia malu atau masih ada rasa jengkel dengan istri dan anaknya. Ia juga pulang terpaksa hanya untuk menyaksikan anaknya menikah. Paling-paling hanya berapa bulan ada di rumah dan setelah itu ia pergi lagi.
"Yah mandi sana, ganti bajunya nanti ibu siapin," benar ia lupa dengan sakitnya, istrinya beranjak bangun seraya badannya sudah tidak merasakan sakit lagi saat suaminya berjalan masuk kedalam kamar mandi, sejak suaminya pulang sepatah katapun ia tidak bicara. Mungkin saja selama tidak pulang ia tidak ada yang mengurusnya, pakaiannya kumal dan rambutnya gondrong. Kali ini ia pulang tentu sangat di perhatikan istrinya. "Yah besok potong rambut ya, minggu depan Evan'kan mau nikahan," kata istrinya semakin tersenyum menoleh anak keduanya sudah pulang bawa kantong plastik di geletakin di meja. "Makan yah, nih Evan beliin nasi goreng," kata istrinya sambil melepaskan karet bungkusan dan terlihat nasi goreng dan sempat aromanya di hirup lelaki tua yamg masih malu-malu diam seribu kata. Mungkin saja lelaki tua itu tidak enak hati pada anak keduanya, ia mungkin merasa malu karena hutang bank kelilingnya sudah di bayarin dan tentunya juga sudah di belikan setelan jas pesta untuknya. Ayahnya menoleh pada dinding tembok, benar jika setelan jas warna biru dan dress untuk istrinya tergantung pada kastop dinding tembok. Anak keduanya masuk kedalam kamar ia tidak mau merusak rasa kerinduan ibunya dengan suaminya yang baru saja pulang sudah sejak lama di nantikannya.
***