TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #8

Impian Keluarga Bahagia

Setiap mimpi selalu berharap bahagia atas nama satu pernikahan, akan tetapi semua impian itu seraya semu selalu mendatangkan kisah kesedihan sungguh berkepanjangan tanpa berujung. Kesedihan mulai terasa dan konflik mulai terdengar tajam menyayat sanubari seorang istri. Tari tentunya harus menyadari jika pilihannya memilih Evan tidaklah salah, ia memilih suaminya saat ini tentu sudah menjadi takdir hidup dan pilihannya. Walau sipat dan perangi suaminya mulai terlihat, karena keadaan membuat suaminya selalu marah-marah. Keadaan desakan kehidupan yang membuatnya suaminya tidak tahu lagi berbuat apa, setiap hari selalu terdengar pertengkaran antara Tari dan Evan hanya permasalahan ekonomi yang semakin hari semakin kurang membaik. Pendapatan Tari sebagai staff kantoran tidaklah cukup untuk membiayai rumah tangga, dan di tambah peliknya konflik yamg sedang di hadapi keluarga suaminya. Lagi-lagi membuat ayah mertuanya semakin terusik dan terganggu dengan datangnya seorang lelaki, lelaki itu tukang bank keliling.

Padahal anak keduanya sudah melunasi hutang bank keliling yang di pinjam lagi untuk modal usahanya tanpa sepengetahuannya. Walau anak keduanya meradang marah pada ayah dan ibunya lagi-lagi meminjam uang pada bank keliling, ia tetap membayar hurang bank keliling untuk terakhir kalinya. Dan kemarahannya kian meradang sampai ia memarahi ibunya agar tidak lagi meminjam uang pada bank keliling hanya untuk anak-anaknya masih datang dan masih merong-rong. Tambah sakitnya kambuh lagi karena tidak menjaga pola makan dan kembali berusaha lagi untuk memohon bantuan padanya, padahal ibunya sedang sakit tetap saja memohon pada anak keduanya agar mau membantu saudara-saudara yang sedang dalam kesulitan. Semua itu hanya alasan dalih mereka saja, sebenarnya semua itu atas paksaan istrinya secara tidak langsung mau ibu mertuanya selalu membantunya.

Kini kehidupan Evan dan Tari saat itu sudah memiliki anak yang baru berumur satu tahunan masih butuh biaya. Namun di sisi lain tetap saja rong-rongan tetap datang menghinggapi ibunya terus, tentu membuat ayahnya semakin gusar dan kembali menenteng pakaian untuk segera meninggalkan istrinya. Suaminya pergi lagi, tentu dan pasti akan membuat istrinya kian jatuh sakit lagi karena di tinggalkan suaminya. Benar saja ia kembali jatuh sakit dan kali ini sangat parah sampai kritis dan di bawah lagi kerumah sakit. Evan semakin pusing dan semakin bingung tidak tahu lagi harus berbuat apa. Di saat ibunya sakit tetap saja anak-anaknya seraya tidak peduli dengan sakit ibunya, Alan, Pepen dan Sanusi masih berulah yang sama. Mereka bertiga selalu merong-rong dengan meminta uang pada ibunya. Sanusi meminta uang untuk biaya kelahiran anak ketiganya, sedangkan Alan minta uang, dan jika bisa ibunya datang melihat istrinya yang sedang di rawat di rumah sakit karena tertabrak motor.

Parahnya juga dengan Pepen, ia di tangkap polisi dan masuk penjara karena mencuri handfhone tetangga sampai menghakiminya. Belum di tambah lagi dengan anak bungsunya yang jelas-jelas di larang berpacaran, justru ia diam-diam masih berpacaran dan sampai berhenti kuliah. Padahal kakak kedunya membiayainya kuliah agar adik bungsunya nantinya bisa kerja dengan baik. Makin kalut dan bingung Evan yang selalu sabar dan setia di temani istri serta anaknya yang kalah itu masih kecil tidak tahu apa-apa. Evan berusaha kembali mencari pinjaman uang sana-sini hanya semata-mata apa yang ia bantu untuk penuhi saudara-saudaranya yang tentu harapannya agar ibunya cepat sembuh. Untung saja istrinya Evan masih bekerja dan masih bisa sedikit banyak membantu keluarga kecilnya. Tidak hanya itu, tidak hanya keluarganya Evan saja yang membuat masalah, keluarga istrinya juga semakin membuat hatinya Evan sedih. Karena keadaannya berbeda dengan menantunya lainnya yang ada selalu di hormati. Seraya Evan semakin tidak di anggap karena keadaan ekonominya yang sedang carut marut. Tetapi istrinya sangat sayang dan sabar, ia selalu memberikan semangat untuk sumainya agar tetap percaya dan bersabar, jika pemilik semesta tak selamanya memberikan cobaan padanya.

Lihat selengkapnya